[poci-poci] souvenir pernikahan

Siang itu dia tiba-tiba sms “Ludi mau buku souvenir nikahku ga? Kirim alamatnya ya? Biar aku kirim dari Palembang”. Takjub juga tiba-tiba ditawari hadiah seperti itu, dengan senang hati saya kirimkan alamat, sambil bertanya
“bukunya apa bal? tulisanmu?”
Dia jawab “iya. Tulisanku dan satu tulisan istri”

Sebutlah saya ini pendek akal, hehe. Karena membaca jawaban itu membuat saya memaknainya sebagai hubungan kesetaraan, jadi dalam pemahaman saya buku itu terdiri dari satu tulisan kawan saya dan satu tulisan istrinya. Sedikit sekali untuk sebuah buku bukan? Tentu saya penasaran, dengan penampakan buku yang ditawarkan untuk diberikan itu.

Dan beberapa hari berlalu, sayapun lupa.

Pagi ini tiba-tiba seorang guru yang alamatnya saya pinjam untuk memfasilitasi orang-orang yang hendak mengirimkan saya hadiah membawa sebuah kiriman. Sungguh, saya sama sekali tidak menyangka bahwa itu adalah buku souvenir nikah yang tempo hari ditawarkan. Saya pikir ini adalah surat-surat dari PM lainnya. Tapi begitu bungkusnya tersobek, saya bisa mengintip isinya, aih, sebuah buku.

Akhirnya sampai juga buku itu di tangan saya. Berhubung saya orang Indonesia asli, mendapat barang gratisan selalulah menyenangkan, haha. Bukunya masih tersegel plastic, dan tidak langsung saya buka. Sehingga komentar pertama dari seorang Pemi Ludi muncul setelah membaca cover belakangnya. Disana ada dua testimony dari teman si penulis (salah satunya teman akrab saya). Sebutlah saya ini narsis, hehe, karena batin saya berkata “ah, coba si Iqbal minta testimony aku, kan keren tuh di belakangnya nanti terpampang namaku Pemi Ludi, Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar. Hehehe.

Setelah bungkus plastic dibuka, pemahaman keliru sayapun terluruskan. Ternyata bukan satu tulisan teman saya dan satu tulisan istrinya. Tapi ada banyak tulisan di sana. Cukuplah untuk jadi sebuah buku. Berhubung sudah terbuka, saya bacalah kata pengantarnya. Maka kini, sebutlah saya ini tak tahu diri, karena membaca deretan id-id multiply yang diberi ucapan terima kasih, lagi-lagi saya protes dalam hati “kenapa gada id gw?!”. Hihihi. Banci tampil saya ini memang *ngaku*. Padahal si penulis termasuk kontak saya yang akhir-akhir, sudah lama saya tidak buka multiply, jarang mampir ke blognya pula, tapi melihat ada deretan id multiply ditulis saya jadi iri. Haduh, tobatlah kau Ludi.

Kesan kemudian setelah saya baca kata pengantarnya sampai selesai, saya jadi pengen meniru. Heu. Alangkah sangat menarik bila saya meniru ide Iqbal, menjadikan buku tulisan saya (dan suami) sebagai souvenir pernikahan. Aih, rasanya keren betul. Maka pagi ini sayapun memutuskan secara serampangan, alangkah baiknya suami saya kelak adalah seorang penulis, orang yang hobi menulis, atau memiliki kecerdasan linguistic yang baik, sehingga bisa diajak kolaborasi menulis buku yang layak untuk dibaca khalayak. Atau jika tidak, alangkah baiknya suami saya kelak memiliki kemampuan menggambar atau membuat ilustrasi, sehingga biarlah bukunya saya yang tulis, dia membuat ilustrasinya. Tetap karya kolaborasi bukan? Heheh.

Ehm, padahal perasaan saya betul-betul warna-warni ketika membaca lembar demi lembar buku ini. Haru, kagum, terinspirasi, malu, dan berkali-kali menahan air mata yang hampir jatuh. Tapi entah kenapa, begitu buka laptop malah cerita ngaco begini yang keluar. Anyway, berhubung buku ini bisa dibilang kumpulan tulisan Iqbal, maka selalulah ia kwetiau bagi Ludi. Enak. Suka saya bacanya.

Tambahan:
Ketika di lapangan tadi, guru-guru jadi sedikit membahas tentang souvenir pernikahan yang unik ini. Saya bilang “aku juga mau ah nanti kalau nikah souvenirnya buku tulisanku kaya gini”. Seorang guru jawab “nanti kirim ke saya juga ya Ludi, kamu kan udah tau alamat saya”. Hm..doakan saja ya, kelak saya akan menulis buku, mudah-mudahan sebelum nikah sudah ada minimal satu. Doakan doakan.

Advertisements

14 thoughts on “[poci-poci] souvenir pernikahan

  1. Heheee smpet diceritain ai souvenirnya keren yaSelain kudu memiliki kemampuan menulis, budget juga ditimbang2, kalo pny bnyk budget kayaknya aku juga pengennya dulu souvenir buku sendiri hehee ^^vLudii ampe kapan disanaa? 🙂

  2. “aku juga mau ah nanti kalau nikah souvenirnya buku tulisanku kaya gini”. –> ditunggu bu ;D!Mau ikutin jejak PM 1? We got 2 invitations after they came back. hahaha….Ditunggu kehadirannya akhir Juni ini ya bu 🙂

  3. mewakili bu guru Ludi menjawab, sebagai pi ar nya IM. "InsyaAllah para Pengajar Muda akan kembali dari tempat penugasan pada akhir Juni ini." Tertanda – Officer IM 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s