Mengukir Kenangan

“Kalau itu adalah kenangan yang berarti, jangan dilupakan. Sebab jika manusia mati, mereka hanya bisa hidup dalam kenangan orang lain”
(kata Takagi ke Miwako, di Detektif conan jilid 37)


Ada yang bilang bahwa kenangan seperti kaca spion. Kalau merujuk dari pernyataan itu, maka bisa dibilang saya ini sering sekali melirik spion. Saya, begitu mementingkan keberadaan spion pada kendaraan saya. Bagi saya, sebuah kenangan itu penting sekali. Makanya saya suka mengarsipkan berbagai hal demi terjaganya sebuah kenangan. Saya suka menyimpan surat-surat, baik itu resmi atau sekedar obrolan lewat kertas di dalam kelas, saya suka menyimpan benda-benda yang didapat dari momen tertentu seperti tiket-tiket berbagai kendaraan, atau bahkan saya sukaaa sekali menyimpan chat log dan sms-sms hangat.

Kenangan akan lebih tinggi nilainya manakala aktor-aktor di dalamnya telah berpisah, baik itu ruang, waktu, atau bahkan dunia. Seperti kata Takagi yang saya kutip itu, ketika seseorang telah pergi ke dunia yang berbeda, maka dia bisa hidup dalam kenangan. Tidak melulu kematian yang membuat kenangan menjadi berharga, tapi segala bentuk keterpisahan.

Merantau membuat saya mengalami banyak keterpisahan, dengan banyak orang, banyak tempat, banyak kebiasaan, banyak benda, dll. Akibatnya saya jadi semakin banyak membangkitkan kenangan-kenangan dalam ruang memori saya. Ternyata, saya baru menyadari, yang jadi banyak mengenang bukan cuma saya, tapi juga orang-orang yang berpisah dengan saya.

(Asli, ini tulisan cuma cecurhatan doang, barangsiapa yang sedari tadi menyimak dan berekspektasi besar dengan tulisan ini, sebaiknya klik icon silang di sudut kanan atas laptop atau komputer anda, hehehe)

(kalau anda masih rela hati membaca, jangan salahkan saya bila kecewa, anda sudah diperingatkan tadi, hoho)

Kembali ke lap top..

Yup, ternyata yang jadi suka mengenang bukan cuma saya, tapi juga orang-orang yang saya tinggalkan. Ini spesifik sebenarnya ingin menceritakan kakak saya seorang, heheh. Lebih dari itu, selain mengenang karena begitu merasa kehilangan, saya merasa kakak saya ini jadi melankolis dan jadi semakin menyadari arti penting dari keberadaan adiknya yang manis ini. Hihi. Karena setelah saya jauh, sms-sms yang dikirimkan jadi semakin “manis” padahal dulu waktu masih serumah kalau sudah perang mulut kami bisa beneran sama-sama meledak (sekali-sekali doang ko, percayalah).

Pernah saya sms cerita sedih, dia balas
“gw jadi pengen ikut nangis. Ga jelas nih..”
“gw pengen disana deh sama lo de..”

Kadang dia yang tiba-tiba meracau mengharapkan saya berada di sisinya
“gw berharap disini ada lo de”
“ga seru deh nonton konser ga ada lo..”

Atau kakak saya yang lain yang udah kaya orang pacaran karena sering banget sms bunyinya “de lagi ngapain?”, untunglah dia ga sms “udah bobo de?”, hehe.

Dan, ada satu sms yang benar-benar membuat saya merasa kenangan saya dihidupkan dalam memorinya, “kalau ngeliat foto-foto lo waktu kecil, rasanya gw pengen balik ke masa itu”
Entah karena masa itu saya lebih manis dan lucu, atau karena dia lebih menyukai kehidupannya di masa itu (waktu saya masuk SD kakak saya duduk di bangku SMP), atau karena masa-masa yang kami lalui bersama.

Keterpisahan, memang akan membuat kita jadi lebih banyak mengenang. Dan hampir semua adalah kenangan-kenangan baik, mungkin itu sebab seseorang akan lebih menghargai kebersamaan justru ketika mereka telah berpisah. Karena setelah berpisah, kita jadi mengambil waktu lebih banyak untuk melirik spion dan menekuri bayangan yang tertangkap disana.

Itu sebabnya pula, dalam kebersamaan maka sudah seharusnya kita mengisinya dengan hal-hal baik. Seperti seseorang pernah bilang ke saya, “whatever you’re a lifetime, season, or just a reason, lets make it the season of joy” (kira-kira begitu, mudah-mudahan bahasa inggrisnya bener, dududu). Yup, mau kebersamaan ini lama atau sebentar, yang penting adalah mengsinya dengan hal menyenangkan, kalau boleh saya tambahkan, isi dengan kebaikan dan kebermanfaatan. Karena kelak, kenangan ketika bersama inilah yang akan tetap hidup, atau dihidupkan ketika kita sudah berpisah.

~bukankah kita memang sedang saling mengukir kenangan?

Advertisements

4 thoughts on “Mengukir Kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s