bersaing dengan si charming

Sekitar 2 minggu yang lalu saya ikut pelatihan. Di dalam pelatihan tersebut ada sesi tentang komunikasi. Fokusnya adalah bagaimana menarik perhatian orang lain agar mau mendengarkan kita. Simulasinya adalah kami diminta maju berdua. Masing-masing diberi waktu 1 menit untuk bercerita tentang tokoh yang menginspirasi kita. Ceramah itu dilakukan berbarengan antara 2 orang, dengan audiens sekitar 20 orang yang dibagi dalam 2 barisan. Orang pertama berbicara pada kelompok di barisan pertama sementara orang kedua berbicara pada barisan lainnya. Sekali lagi, ceramah ini dilakukan berbarengan, pada tempat dan waktu yang sama. Tantangannya adalah membuat audiens mendengarkan apa yang kita sampaikan, dan bukan mendengarkan pembicara yang satu lagi.

Saat menunggu giliran saya deg-degan. Karena cemas, lapang persepsi saya menyempit sehingga sulit mencari ide nanti akan bicara tentang siapa. Dengan waktu yang sangat singkat dan kondisi yang tidak kondusif, siapa baiknya yang saya ceritakan. Setelah berpikir keras akhirnya saya dapat seorang tokoh, Nabi Yunus as. Saya ingin bercerita tentang hikmah lain dari sepenggal episode kehidupan Nabi Yunus as, terinspirasi dari buku “Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda”.  Renungan tentang Nabi Yunus as dalam buku ini memang menjadi favorit saya, bahkan jatuh cinta sejak pembacaan pertama.

Agaknya saya jadi “terlalu serius” ketika simulasi ini. Saya jadi begitu berambisi agar orang-orang mendengarkan cerita saya dan bukan rival saya waktu itu. Ini bukan karena saya ingin dianggap sebagai pembicara yang lebih hebat, atau karena ingin dipandang, atau segenap motivasi yang berbau power lainnya. Saya cuma ingin berbagi kisah Nabi Yunus as, saya ingin orang-orang terinspirasi sebagaimana saya begitu terinspirasinya ketika membaca kisah ini. Saya ingin orang-orang sadar bahwa kisah Nabi Yunus as tidak sekedar dirinya yang marah pada kaumnya dan kemudian dihukum oleh ALLAH ditelan ikan paus beberapa hari lamanya. Ada pelajaran lain yang bisa dipetik dari drama di atas kapal. Saya tidak pernah menyadarinya sampai saya diingatkan oleh buku ini, dan saya berharap orang lain yang juga tidak menyadarinya bisa tercerahkan juga seperti saya.

Dan simulasi ini memberi banyak pelajaran pada saya. Rival saya waktu itu adalah teman saya sesama Pengajar Muda. Saya suka bilang dia adalah prince charming. Dia ganteng, dia eksklusif, dia beda, dia memikat. Hahaha. Peta kekuatan simulasi kampanye hari itu bisa terlihat, para audiens mendengarkan dia dan bukan saya. Audiens di baris kedua, yang memang secara de jure adalah audiens rival saya, mendengarkan dia. Audiens di baris pertama, yang secara de jure adalah audiens saya, ikut mendengarkan dia pula. Meski tidak 100% mendengarkan dia, tapi hampir semua begitu, alias, hampir semua mengabaikan saya. Kalaupun ada yang awalnya mendengarkan saya, ujung-ujungnya saya lihat orang tsb tidak fokus, dia mendengarkan si pembicara sebelah juga.
Ambisi yang tidak kesampaian rasanya lebih menyakitkan. Saya jadi gemes sendiri. Saya merasa apa yang ingin saya sampaikan ini bermakna sekali, tapi orang-orang tidak peduli. Tapi kemudian saya sadar kondisi seperti ini banyak terjadi dalam kehidupan.

Seringkali kita ini antusias ingin menyampaikan sesuatu, tapi yang ingin kita sampaikan tidak peduli, karena tidak tahu dimana letak kepentingannya. Atau bahkan kecenderungannya jadi memaksa. Kita memaksa orang lain untuk mendengarkan apa yang ingin kita sampaikan, karena menurut kita ini penting dan bermanfaat, padahal mungkin si pendengar tidak membutuhkan itu.
Ini seperti analogi gelas telungkup. Kita ingin mengisi air ke dalam gelas, kita menuangkan airnya, tapi kita tidak melihat bahwa gelasnya masih tertelungkup. Sehingga seberapa banyakpun air yang kita tuang, tidak ada yang masuk. Alih-alih mengisi, hanya membasahi luarnya, dan tumpah di sekitarnya.

Saya jadi teringat dulu ustadz pernah berceramah. Dalam pembahasan tentang menghafal Al Qur’an, ustadz memulainya dengan memberi tahu kami tentang fadhilah, tentang keutamaan membaca dan menghafal Qur’an. Karena memang begitu kecenderungan manusia, menyukai hal-hal yang memberi keuntungan dan manfaat pribadi. Untuk melakukan sesuatu, manusia akan tergerak bila tahu apa keuntungan yang ia dapat. Maka ustadz sedang membalikkan gelas kami.

Ini juga jadi seperti dakwah. Apa yang kita sampaikan, belum tentu diterima oleh orang lain. dalam hati betapa kita ingin menyampaikan keindahan dan kebenaran islam, tapi tidak semua pada akhirnya tergerak untuk menyimak atau bahkan menjalankan. Mirip seperti sales yang sudah berusaha menawarkan dagangan sedemikian rupa tapi yang ditawarkan tak juga mau melakukan transaksi pembelian. Ini juga seperti mengajar. Ini benar-benar seperti banyak hal dalam kehidupan. Kalau kita tidak berhasil membalikkan gelasnya, maka hanya akan tumpah dan berhamburanlah airnya.

Hari itu saya benar-benar berefleksi. Di tengah kengototan saya untuk menyampaikan dan didengarkan. Padahal orang-orang tidak menginginkan. Bisa jadi karena memang mereka belum tahu manfaat dan artinya. Kalau begitu, kenapa saya masih memaksa, kenapa tidak saya coba dulu untuk membalikkan gelasnya. Atau kalaupun sudah berusaha membaliknya tapi tidak bisa, kalau pendengar kita resisten, kenapa juga masih memaksa, bukankah ALLAH yang membolak-balikkan hati manusia?

~tentang kisah Nabi Yunus as, saya masih ingin share dengan anda, haha, teteup. Saya akan buat review-nya di tulisan terpisah. Atau anda bisa baca di buku “Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda”

Advertisements

4 thoughts on “bersaing dengan si charming

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s