antara menyukai dan menikahi

kalau hanya suka boleh dengan dia, bicara menikah itu lain cerita


Suatu hari di sebuah ruang rawat tempat saya berpraktik terjadi sedikit kehebohan. Seorang pasien yang baru saja masuk kemarin sore berencana untuk pulang kembali. Alasannya sederhana, sang suami memutuskan untuk mencari alternatif pengobatan lain. Yang menarik adalah, keputusan sang suami ditentang banyak pihak, yakni pasien-pasien lain yang berada di kamar yang sama. Mereka bersungut-sungut menyambut keputusan tersebut.

Saya sedikit bingung waktu itu, melihat para ibu-ibu, pasien di kamar itu, kompakan marah-marah. Persis sekumpulan ibu-ibu yang asik rumpi di sore hari. Mereka bercerita, bahwa si suami memanglah bukan suami yang baik, ia kerap melakukan KDRT pada sang istri bahkan perselingkuhan. Saya cuma bengong mendengar pergosipan mereka, heran mereka tau darimana berita itu. Ternyata semalam ada sesi curhat di ruang rawat inap tersebut. Ckckck. Ibu-ibu.

Yang semakin menyulut kemarahan adalah sudah si suami selingkuh dan KDRT, dia juga tidak membiarkan istrinya menjalani pengobatan medis. Kondisinya adalah si istri mengidap kanker, saat itu dia beruntung bisa mendapatkan tempat di RS yang hampir selalu penuh bahkan harus masuk waiting list ini, dan istrinya sudah masuk penjadwalan kemoterapi. Si suami tiba-tiba mengajak istrinya kembali pulang dengan alasan tidak mau menunggu beberapa hari sampai penjadwalan kemo, dia bilang mau mengajak istrinya berobat alternatif saja.

Sang istri hanya bisa pasrah. Sambil sedih luar biasa, dia mengemasi barang bawaannya dan ikut suaminya pulang. Dokter sudah menjelaskan semua keadaannya, tapi si suami tetap pada keputusannya. Si istri sedikit bercurhat ketika di ruangan “dia ga rela uangnya terpakai untuk pengobatan saya, yah, saya ikut aja lah mau dia apa”.

Sinetron sekali memang hari itu. Saya dan teman saya yang kebetulan praktik hari itu hanya bisa menonton, dan sedikit berkomentar, persis penonton sinetron. Teman saya bilang “makanya jadi perempuan harus punya penghasilan, biar punya bargaining position yang kuat”. Kalau saya cuma bilang “makanya cari suami yang baik”.
Ini memang tentang memilih pasangan. Saya ingat betul, hal inilah yang akhirnya memenuhi pikiran saya hari itu. Bahwa menikah adalah perkara hidup yang sangat besar, maka memilih dengan siapa kau akan menikah adalah sebuah perkara hidup yang sangat krusial.

Saya teringat sebuah cerita. Ada pria, tidak bisa dibilang pria baik-baik, dia sempat tersangkut perkara kriminal, putus sekolah, dan dikenal anak nakal di kampung. Pria ini punya pacar, tentu bukan wanita solihah pula. Ketika ditanya mengenai keseriusannya dengan pacarnya tsb, pria ini menjawab bahwa dia tidak ada niat untuk menikahi wanita tersebut “dia cuma pacar, tapi gw ga mau nikah sama dia, gw ga rela kalau dia nanti jadi ibu anak-anak gw”.

Menikah memang bukan perkara main-main. Ini bukan tentang dengan siapa anda akan pergi ke taman bunga, ini tentang dengan siapa anda akan hidup bersama. Ini bukan aktivitas yang akan berakhir 4 atau 5 minggu, ini adalah ikatan yang akan berlangsung 4 atau 5 dekade dalam sisa hidup anda. Karenanya, memutuskan untuk akan melakukannya bersama siapa, sungguh bukan hal yang bisa dipertimbangkan selintas saja.
Bahkan seorang premanpun menyadari bahwa untuk perkara suka-sukaan, main-main dia bisa dengan siapa saja, tapi tidak untuk pernikahan. Karena menikah tidak sekedar mempersatukan dua manusia, tapi ada konsekuensi panjang di belakangnya. Ini tentang membentuk rumah tangga dan meneruskan keturunan. Ini tentang membangun keluarga, membangun masyarakat, bahkan membangun peradaban. Ini tentang menjalani sebuah fase hidup dan melengkapi kehidupan.

Saya tidak sedang bila bahwa berarti sah-sah saja bermain cinta dengan siapa saja, toh yang penting kita akan berakhir di pelaminan dengan siapa. Tidak sama sekali tidak begitu. Karena toh saya juga tidak membenarkan aktivitas pacaran. Yang ingin saya sampaikan adalah perlunya memilih pasangan yang baik, jangan main-main dengan hal yang satu ini.

Namun demikian sebenarnya pada akhirnya kita akan mendapatkan pasangan yang sesuai dengan “level” kita. Kalaupun tidak, itu berarti ujian. Tahukah anda kabar dari lanjutan dari si preman kampung yang tadi saya ceritakan? Dia akhirnya menikah dengan pacarnya tersebut. Apa sebab? Si perempuan hamil sehingga dia terpaksa menikahinya. Demi pertanggungjawabannya atas perbuatan haram mereka berdua. Ini kisah nyata.

(Lantas kalau pada akhirnya begitu, ngapain yak dari tadi panjang lebar gw ngomongin soal memilih, heuheu. Bingung juga ini, kapan-kapan lah diedit.)

Yah well, setidaknya kesimpulannya berusahalah menjadi orang baik, agar bisa memilih untuk mendapatkan pasangan yang baik. Jodoh memang di tangan Yang Kuasa, tapi kita manusia bisa berikhtiar dan berdoa. Setidaknya kita telah melaksanakan bagian kita sebagai mahluk, sebelum akhirnya menyerahkannya pada sang Khaliq. Sehingga tidak ada keresahan atau penyesalan di belakang. Lucu saya melihat status fb seorang teman, dia bilang benci dengan rokok, benci dekat orang yang merokok, tapi dia baru saja menikahi seorang perokok, lalu dia bertanya baiknya suaminya ini diapakan. Ngek.

Jangan mau dibutakan oleh cinta, sehingga cabe keriting terlihat seperti paprika. Karena bahkan Jane saja menolak wolverine demi cyclops, meski dia sebenarnya suka dengan wolverine dan wolverine menyukainya. Saya terkesan sekali dengan kata-kata Jane di film X Men 2 ini, dia bilang “Girls flirt with the dangerous guy. They don’t take him home. They marry the good guy”.

Sekian tulisan dengan ending geje kali ini. Blah blah. Yada yada.

Advertisements

23 thoughts on “antara menyukai dan menikahi

  1. Betul bang. Diah ngerasain banget, terkait memilih pasangan…. Beruntunglah aku memilikinyah. Lebih menarik melihat kelebihan ketimbang mencari2 kekurangan :D. Lebih enak menatap masa depan ketimbang mengorek2 masa lalu.

  2. Jalaludin Rakhmat menceritakan, bila suami isteri saling mencintai, lama kelamaan wajahnya akan mirip satu dengan yang lain. Terjadi perubahan fisiologis diantara mereka. Ini disebabkan oleh perubahan psikologis. Karena itu, kata Kang Jalal, mulailah dengan perubahan akhlak, nanti fisik mengikuti.
    -halaman 147, Kado Pernikahan untuk Istriku, Ust. Fauzil Adhim

  3. akuai said: gw juga lebih ngedukung si jane sama cyclops. *kesimpulan yang apa deeeh? πŸ˜€

    dan jane tidak menikahi keduanya, karena di ending filmnya dia mati, haha..tapi kalo X Men 3, itu lain cerita :p

  4. faraziyya said: Jalaludin Rakhmat menceritakan, bila suami isteri saling mencintai, lama kelamaan wajahnya akan mirip satu dengan yang lain. Terjadi perubahan fisiologis diantara mereka. Ini disebabkan oleh perubahan psikologis. Karena itu, kata Kang Jalal, mulailah dengan perubahan akhlak, nanti fisik mengikuti. -halaman 147, Kado Pernikahan untuk Istriku, Ust. Fauzil Adhim

    super!

    kalo dibuat sayembara siapa komen terbaik, aku akan pilih ini..orang yang suka baca emang beda ya..huhu *malu*

  5. farahzu said: hhmmm hhmmm jadi mikir nih.. makasih ya ludi… ^_^

    pertama2 Assalamu’alaykum mba ludi, senang jumpa lagi di MP

    kedua2 mungkin memberi sedikit penegasan bawah ketentuan tentang jodoh seorang manusia sudah ditentukan, apakah si A dengan si B ataukah si C dengan si D

    lantas kenapa ada kejadian seperti kasus diatas? coba kita merujuk pada ayat dibawah ini

    an nur 26 : Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang
    keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita
    yang keji. Dan Wanita-wanita yang baik adalah untuk
    laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah
    untuk wanita-wanita yang baik (pu1a).

    maka bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa pasangan kita adalah gambaran diri kita, entah di masa lalu atau di masa saat ini

    berkaca pada ayat diatas maka fluktuasi keimanan dan kualitas diri pada seorang pasangan akan mempengaruhi pasangannya, tidak hanya ketika akan terjadi pernikahan namun selama masa pernikahan itu berlangsung akan terus saling berpengaruhi antara satu dan yg lainnya

    oleh karenanya dalam QS 4:26 Allah tidak memberi pembatasan waktu, karena memang berlaku selama masa hubungan sah dalam pernikahan terjalin

    ketika sang suami/istri keimanannya meningkat, selalu berakhlaq baik kepada pasangannya maka secara tidak langsung akan ikut membaikkan kondisi pasangannya, baik saat itu juga atau dikemudian hari, entah melalui mekanisme apa, yg jelas sunnatullah ini berlaku, begitupula sebaliknya.

    namun kita kadang bingung, kenapa ada seorang istri yg sangat baik dianugerahi suami yg jahat, seperti kisah diatas. sebenarnya kebingungan kita ini hanya kebingungan akibat ketidak tahuan, ketidak tahuan tentang seberapa baik sang istri atau seberapa jahat sang suami. karena bsa jadi anggapan dan persepsi kita tentang baik buruknya seseorang tidaklah benar, malah sebaliknya, karena yg kita lihat hanya apa yg ada dipermukaan, yang ada diluar rumah yg terlihat oleh kita, atau hanya 1 bulan kisah hidup mereka dari seluruh episode rumah tangga mereka yg sudah berjalan belasan tahun bahkan puluhan tahun.

    yang jelas ketika terjadi kondisi dimana sang suami/istri punya keimanan yg baik, akhla terpuji dan senantiasa dekat denga Allahm, sedangkn yg lainnya ada diposisi yg berlawanan, dan itu bertahan cukup lama dalam sebuah fase waktu, maka antara kebaikan dan keburukan ini akan saling tarik menarik, mana yg paling kuat dalam posisinya dia yg akan menarik yg lainnya

    saya yakin suami/istri yg keimanannya baik, berakhlaq terpuji dan dekat kepada Allah akan senantiasa mendoakan pasangannya sebagai bentuk akhlaq kepada pasangan, dan juga akan senantiasa menashati dengan kelemah lebutan dan ketulusan terbaik kepada pasangannya

    nah disinilah tarik menarik itu terjadi, ketika sang suami/istri mulai menaikkan tangannya memohon dengan penuh harap pada Allah maka kata Rasulullah, Allah itu malu ketika hambanya yg menaikkan tangan bedo’a, ketika tangannya turun tak membawa apapun

    dan ketika bujukan dan ajakan penuh nasihat yg dibalut dengan kelembutan dan kasih sayang serta dilandasi dengan semata2 cinta kepada Allah, lama kelamaan akan meluluhkan hati sekeras apapun, kalaupun tidak luluh dengan perbuatan sang pasangan tersebut, maka Allah sendirilah yg akan meluluhkan hatinya dan membalikkan hati sang pasangan. bukankah Allah saja yg maha membolak balikkan hati

    dan pada akhirnya QS 4:26 dibuktikan

    maka usulan saya kepada ibu yg ada dikisah diatas, mintaalah kepada Allah untuk lembutkan hati suaminya, minta dengan penuh pengharapan sambil tetap terus menjalankan kewajiban kepada sang suami dengan pelayanan dan pengabdian yg terbaik

    kewajiban kita adalah mencintai pasangan kita yg sah, apapun yg pasangankita lakukan kepada kita tetaplah cintai pasangan kita. karena pada dasarnya cinta kita kepada pasangan kita bermuara pada cinta kepada Allah saja

    wallahu’alam bisshawab… jika ada yg salah dari setiap kata diatas, mak sungguh datangnya dari saya kalaulah ada yg benar semata2 dari Allah saja

    πŸ˜€

  6. pemikirulung said: super!kalo dibuat sayembara siapa komen terbaik, aku akan pilih ini..orang yang suka baca emang beda ya..huhu *malu*

    eeeh?
    kebetulan, waktu2 ini lagi baca bukunya ust fauzil adhim. ada yg ngepas. dicomot deh ke komen. hhehhe ^^v

  7. pemikirulung said: super!kalo dibuat sayembara siapa komen terbaik, aku akan pilih ini..orang yang suka baca emang beda ya..huhu *malu*

    langsung pengen ngaca bareng waktu baca komen mbak faraziyya hehehe…

    betull.betull.. itu suatu hal yg krusial.. gak cuman dgn siapa kita akan melewati masa terpanjang dalam hidup (bahkan lebih panjang dari ortu kita sendiri), berbagi hal-hal terindah dan terburuk, tapi juga memilih partner kita dalam membesarkan anak nanti.

    bahkan memilih pasangan itu termasuk memenuhi hak anak. merupakan salah satu dari 3 kewajiban utama para org tua untuk mencari ayah/ibu yang baik bagi anaknya.
    Aku nyimpulin,, klo ayah atau ibu yang baik itu insya Allah udah satu paket lah.. insya Allah mereka org yang baik juga pada pasangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s