cukup bertutur

Diawali dari sebuah kerjaan menulis. Saya diminta membuat-intinya berbentuk- tulisan sebanyak sekitar 20 ribu karakter. Sayapun menulislah dengan asiknya. Belumlah selesai tulisan itu, saya cek dengan fasilitas word count dan ternyata tulisan saya tersebut sudah mencapai 27.000 karakter. Belum selesai, tapi sudah kelebihan 7.000. a d u h m a k!

Waktu itu saya cerita di status fb, dan seorang teman menanggapi dengan sangat mengayakan
“pas nulis, jangan enggan ngedit. Inget tulisan buat dibaca orang lain, jangan sampai menyiksa pembaca dengan menyajikan informasi yang bertele-tele. Ketika lo bisa menyarikan semua yang penting dalam durasi tulisan yang tepat, itulah namanya menulis”.
Kalau melihat tulisan-tulisan saya di blog pemikirulung.multiply maka akan didapati bahwa semakin hari tulisan saya semakin panjang. Tulisan saya di tahun pertama hanya kisaran 1 halaman word. Tapi sekarang, bisa 2-3 halaman. Namun menurut testimoni seorang teman, contact MP saya tahun 2009, tulisan saya semakin bagus.

Bagus atau tidak relatif. Yang pasti tulisan saya semakin panjang, dan saya semakin sulit membuat tulisan pendek. Saya sering menghubungkannya dengan karakter pribadi, yakni banyak cerita (eufimisme dari cerewet). Sebuah buku bilang “menulis itu ibarat ngomong”. Kalau dihubungkan dengan tulisan saya, maka kalimat ini bisa jadi rujukan, karena seperti halnya omongan saya yang panjang, cerita saya yang ngalor-ngidul, poci-poci saya yang menjalar kian kemari, tulisan sayapun rasa-rasanya begitu juga.
Selain itu juga ada masalah “flight of idea”. Saya suka bilang, layaknya kamar saya, otakpun begitu, berantakan. Saya sering merasa isi otak saya ini begitu berserakan, tidak tersimpan dalam folder-folder yang rapi. Pikiran saya kerap melompat-lompat dari satu hal ke hal lain, bahasa kerennya “flight of idea”, ide-idenya berterbangan. Sebenarnya flight of idea adalah salah satu gejala pada salah satu gangguan jiwa. Hahaha. Akibatnya dalam menulispun kadang begitu, mau bahas apa, ujungnya sampai di mana.
Dan komen teman saya ini mengena betul. Menulis itu untuk dibaca orang lain, jadi harusnya dalam menuangkan ide dalam tulisan jangan hanya mengikuti “nafsu” pribadi. Jangan karena terlalu asik bercerita, akhirnya terlalu banyak menuliskan hal-hal yang mungkin tidak ada manfaatnya untuk dibaca. Dia juga bilang “seringkali penulis terjebak dalam euforia menulis tapi dia tidak cukup bertutur untuk membuat yang baca bisa merasakan euforia itu”. O ow.

Suatu hari saya mengobrol dengan ai tentang hal ini. Dia habis menyelenggarakan sebuah lomba tulisan, dia juga menjadi juri disana. Membaca puluhan naskah yang dilombakan, dia cerita ke saya “ada tulisan yang isinya cerita panjang, dan gw mikir, terus apa untungnya buat gw kalo gw tau cerita ini”. Saya jadi tertegun, hm benar juga, sudahkah saya sampai disana, melontarkan cerita yang akan bermanfaat bagi pembacanya. Ketika saya membaca tulisan orang lainpun otak jadi dibuat berpikir, “ini tulisan sebenarnya mau bahas yang mana? Kalimat ini kenapa ada di sini dan tidak menunjang kalimat utamanya?” dsb dsb. Ternyata, kalau berada dalam posisi sebagai pembaca, saya bisa lebih baik dalam menilai. Mana yang perlu dibahas mana yang tidak, mana yang perlu dipaparkan mana yang perlu dipangkas, dan mana yang maksud penulisnya tersampaikan mana yang membingungkan. Sementara kalau berada dalam posisi sebagai penulis, saya akan cenderung merasa bahwa tulisan saya baik-baik saja.

Hasil refleksi pribadi saya adalah saya perlu terus mengingat, menulis untuk dibaca orang lain. Kalau ingin menyampaikan makna dengan efektif, maka harus pikirkan juga bagaimana persepsi (juga perasaan, hehe) orang lain ketika membacanya. Ketika membaca tulisan kita lagi, lepaskan dari “napsu” atau ketertarikan pribadi. Harus bisa lebih jujur dalam menilai, mana yang perlu dan tidak, mana yang berlebihan dan tidak, mana yang seharusnya berada dalam jalur dan tidak.

Hm, sepertinya belajar menulispun sebuah perjalanan panjang.

Advertisements

8 thoughts on “cukup bertutur

  1. bisanya, saya meninggalkan dulu tulisan yang sudah selesai ditulis. dengan seperti ini, saya bisa melepas status saya sebagai penulis tulisan tersebut. untuk kemudian nanti, kembali membacanya setelah berada dalam posisi sebagai pembaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s