Teman Pemberi Kekayaan

“Andai bukan karena bangun di waktu sahur dan berteman dengan orang-orang baik, niscaya aku tidak mau memilih tinggal di dunia iniâ€? (Imam Syafi’i rahimahuLLAH)

Saya ini bukan teman yang baik. Jujur, saya sering merasa begitu. Bukan karena saya menganggap saya ini orang jahat. Tapi lebih karena saya merasa banyak sekali kurang dalam menjadi seorang teman ideal. Saya kurang perhatian dengan teman, saya malas antar-antar teman, saya jarang tanya kabar, saya lupa momen spesial teman saya, dan hal-hal sejenis.

Dulu sampai ada yang pernah bilang “ludi itu tidak butuh temanâ€?. Entah apa sebab pastinya dia bilang begitu. Tapi salah satu pemicunya adalah karena saya memilih keluar atau tidak jadi bergabung dengan sebuah kelompok pertemanan, eufimisme dari geng. Saya tidak mau nge-geng hanya karena satu alasan, saya malas berkomitmen. Kalau sudah bergabung dalam sebuah kelompok, maka komitmen akan dituntut. Waktu itu yang saya lihat tuntutannya adalah “loyalitasâ€? dan kata loyalitas itu didefinisikan oleh teman saya sebagai kesediaan mengantar teman kemana dia perlu, bersedia pergi bersama, makan bersama, semua bersama. Saya tidak bisa loyal yang seperti itu, karena saya toh tidak perlu loyalitas itu pula dari orang lain. Saya tidak perlu diantar, saya tidak perlu ditemani, makanya saya juga malas kalau dituntut begitu oleh orang lain. Karena hal itu saya divonis tidak butuh teman.

Padahal sebenarnya saya butuh teman. Saya suka punya teman. Bahkan saya ini candu berteman. Tapi teman dengan kadar sesuai buat saya. Teman yang tidak memenjarakan. Teman yang membebaskan.

Oleh karenanya, mendapatkan seorang teman baik adalah salah satu item yang sangaaaaat saya syukuri. Karena saya kadang merasa tidak pantas mendapatkan itu. Ada teman yang perhatian, ada teman yang ingat, ada teman yang memberi, rasanya luar biasa sekali. Benar-benar bersyukur pada ALLAH SWT yang telah memberikannya.

Namun, saya punya definisi lain tentang teman baik. Teman baik, buat saya beda dengan teman akrab. Salah satu parameternya adalah pengaruhnya pada diri saya. Seorang teman baik adalah teman yang mengayakan. Bukan secara materi. Bukan teman yang membuat dompet saya jadi lebih tebal. Bukan teman yang membuat rekening saya bertambah satu digit. Tapi mengayakan hati, mengayakan pemikiran, mengayakan kebijaksanaan. Teman baik adalah orang yang ketika kau berteman dengannya kau jadi orang yang lebih baik.

Syukurnya, ada banyak teman baik di sekitar saya. AlhamduliLLAH. Ada beberapa teman yang tidak hanya menenangkan, tapi juga mengayakan. Teman-teman bukan yang saya telepon atau sms setiap hari, bukan yang mengantar saya kesana kemari, bukan yang bahunya saya pinjam untuk tangisi, tapi teman yang ketika saya membagi masalah, ketika saya meminta saran, atau ketika saya sekedar meracau, mereka memberi respon yang mengayakan hati saya. Teman dengan kesolihan dan kearifan yang tidak biasa.

Saya masih ingat kalimat-kalimat singkat teman baik saya. Nasihat mereka untuk saya. Begitu sederhana, namun begitu mengena. Saya masih ingat ketika saya berbagi kekecewaan, teman solihah saya jawab sederhana “sama Ludi, aku juga, tapi berharap pada ALLAH sajaâ€?. Singkat. Tapi mengajak saya kembali tawakkal. Saya masih ingat ketika sedang khawatir, teman saya yang padahal kondisinya setali tiga uang dengan saya berkata “aku juga belum tau Ludi, tapi jalanin aja dulu yang di depan mata, soal itu, masa sih ALLAH ngga kasih jalanâ€?. Sederhana. Tapi mengajarkan saya kembali pada roja’. Saya masih ingat ketika saya galau dalam menentukan pilihan, teman saya bilang “tapi kata aa gym pilih yang disukai ALLAHâ€?. Sedikit. Tapi mengingatkan saya kembali pada ketaatan. Saya masih ingat ketika saya berbagi kesedihan karena sebuah kritikan yang menghujam, “Ya ALLAH Pe..kadang kita emang harus nangis dulu untuk berbenah diri..Intinya jangan selalu berkata ‘I wanna be myself’ karena kita emang manusia yang banyak salah dan dosaâ€?. Lugas. Mengingatkan saya kembali tentang muhasabah dan perbaikan.

Terakhir, saya bersyukur mendapat seorang teman, teman yang memiliki hubungan darah dengan saya. Ya, dia kakak saya, keluarga, saudara, orang tua, dan dia berkali-kali sukses menjadi teman baik saya. Pagi itu dia tanya saya sedang apa. Saya balas, tapi saya tambahkan dengan keluhan. Ya, pagi itu saya mengeluh dan menceritakannya padanya. Padahal mestinya saya tidak boleh mengeluh lagi. Tapi keluhan saya pagi itu, adalah keluhan yang tidak saya sesali pernah saya lontarkan, karena jawaban yang saya dapat begitu menenangkan dan mengayakan. Kakak saya jawab “Gapapa. Mudah-mudahan diganti ALLAH, besok akan dapat rejeki dari tempat yang ga disangka-sangka, aamiin“. Sederhanyanya jawabannya. Mengingatkan saya lagi untuk ikhlas, ridho, tawakkal, juga doa sekaligus.

Jadi, kalau anda bertanya siapakah teman baik itu? Itulah mereka. Mereka yang dengan kesolihannya menginspirasi sekitarnya. Siapakah teman baik saya? Itulah mereka. Mereka yang tidak selalu berada di sisi saya, tidak selalu membersamai langkah saya. Tapi berteman dengannya membuat saya menjadi kaya. Mereka yang saya syukuri dipertemukan di dunia. Semoga berlanjut ke surga. Aamiin.

Advertisements

25 thoughts on “Teman Pemberi Kekayaan

  1. farahzu said: ini keren banget! kalau begitu kamu juga ludi, kamu juga teman baik aku πŸ™‚ bagi-bagi dong tentang cerita di sana..

    Manusia itu unik, dan aku salah satunya…:)

    #dah lama ga berkunjung kesini nih#

  2. farahzu said: ini keren banget! kalau begitu kamu juga ludi, kamu juga teman baik aku πŸ™‚ bagi-bagi dong tentang cerita di sana..

    relate ke postingan teman saya ttg teman juga..
    katanya, teman yang baik itu termasuk ia yang merasa belum cukup baik bagi temannya.
    jd pembukaan tulisan ludi yg ini aja udah ketauan kalo ludi pun termasuk teman yang baik ^^b
    nice post πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s