Dunia Gunung Lain

baca juga tulisan pertamanya 🙂

Selepas âsyuting selera nusantaraâ? kami beralih ke lokasi syuting lain, acara âdunia lainâ?. Kami berjalan bersama-sama mengikuti pelatih, setiap mendapatkan spot yang dirasa cukup pantas, satu kelompok tinggal di situ. Sekali lagi saya bilang, 1 kelompok hanya terdiri dari 2-3 orang. 90% terdiri dari 2 orang. Setiap kelompok ditempatkan di lokasi yang terpisah-pisah.

Begitu sampai di lokasi, kami membuat bivak. Jangan bayangkan kami membangun sebuah tenda yang layak. Kami membuat bivak hanya dari selembar ponco. Berhubung kami sepasang, ponco yang 1 untuk dijadikan tenda, ponco yang 1 lagi dijadikan alas. Setiap kelompok dibekali 1 golok. Makanya ada sebuah guyonan, jangan sampai dapat pasangan orang yang sudah tidak disukai sebelumnya. Karena bisa jadi hal tidak diingankan. Sebilah golok di tangan, di tengah hutan tanpa peradaban. Hehe.

Jangan bayangkan bivak kami nyaman, hangat dan bisa untuk tidur-tiduran. Atapnya hanya dari sebuah ponco yang berapalah lebarnya. Ditempati berdua sungguh sempitnya. Kalau mau tiduran, kami berjajar, dengan kaki keluar, tidak terlindung atap. Bila turun hujan aduhai tantangannya. Makanya kami disuruh membawa jas hujan, karena bivak kami memang tidak diperuntukkan untuk melindungi dari hujan.

Lokasi bivak saya berada di tengah semak belukar. Awalnya kami (saya dan pasangan saya) ragu âbeneran nih pelatih, ini tempat kita? Dimana bikin bivaknya?!â?. Kami perlu âmembersihkan lahanâ? terlebih dahulu untuk bisa membangun bivak. Babat-babat pohon dan semak sedikit. Tapi ternyata, di kemudian kami baru tahu, di tengah semak begini, meski seram kalau-kalau ada binatang merayap atau keluar dari dalam semak, tapi rapatnya pohon bisa melindungi kami dari hujan dan terpaan angin. Terbukti malam pertama di hutan kami tidak kehujanan dan anginnya juga tidak terlalu kencang.

Keuntungan lain berada di semak belukar adalah urusan buang hajat jadi lebih aman. Hihihi. Eh, sudahkah saya cerita tentang urusan belakang di gunung? Semua orang bisa bikin WC disini, mudah, murah, dan cepat! Cukup menggali lubang sedikit, jadilah dia WC. Hoho. Yang lucu adalah waktu pasangan saya mau buang air, diapun masuk ke semak-semak, saya yang jagain. Saat dia sedang asik-asik begitu, ternyata teman-teman saya, para PM dengan bivak di atas (lokasi saya agak di bawah) pada bersosialisasi, alias saling berkunjung layaknya lebaran. Kepasbangetan, berkunjung pula ke bivak saya yang memang di pinggir jalan. Hehe. (udah kaya komplek BTN aja ya) waktu mereka lewat saya bilang, maaf lagi gabisa terima tamu. Beberapa tidak memaksa, langsung jalan lagi menuju bivak lain. Beberapa ânakalâ?. Malah mendekat ke bivak. Saya usir, malah penasaran.

âko lo sendirian Ludi?â?

âiyaâ?

âmana pasangan lo?â?

âga ada, udah sana pergi!â? (ga mungkin kan saya jujur dan terang-terangan, soalnya yang berkunjung ada laki-laki juga, dan kalau penasaran terus mereka melihat ke semak, saya khawatir kelihatan)

Kejadian itu lucu banget, bagi saya yang mengalami. Sudah di dekat situ ada teman yang sedang defekasi hanya di dalam semak, eh ada anak-anak berkunjung, diusir tidak mau. Waktu itu saya sampai ngusirnya sambil ngelempar-lemparin kayu, udah kaya ngusir kucing aja. Sementara mereka kekeuh tidak mau pergi juga. Dan akhirnya mereka sadar âeh, itu ada siapa di sana? (di dalem semak-red). Duduuuul.

Hari kedua, kami disuruh beres-beres, bivak dibongkar, barang-barang dirapikan. Kami akan pindah ke tempat lain dan membangun bivak lagi disana. Etdah, nomaden ternyata. Kami dapat tempat di pinggir tebing. Tanahnya tidak rata, agak menurun karena sebelah adalah tebing (atau bisa dibilang jurang ga ya?). Di seberang ada hutan bambu. Dasar tebingnya tidak terlihat. Kami berada di sekitar pepohonan pinus yang anehnya dibawahnya ada vegetasi.

Kami membangun bivak agak jauh dari jalan, sengaja, biar sedikit ekslusif (halah). Agar tidak terlalu terlihat dari jalan, dan kami mencari dasar yang rata. Kalau malam hari, maka orang akan sulit melihat kalau di situ ada bivak kami. Bahkan kami yang punya bivakpun sering bingung kalau habis balik dari tempat ambil air. Hehe.

Saya dapat pasangan yang karakternya mirip-mirip saya, dalam hal kecuekan dan kesantaiaannya. Namanya Medha. Jadilah kami duo santai, cuek, tidak suka nenangga, lebih senang tidur di dalam bivak sendiri. Sementara teman kami yang lain suka sekali bersosialisai, meski itu di tengah hutan, meski judul dari kegiatan ini adalah survival. Beberapa anak kalau malam hari berkumpul di salah satu bivak, mengobrol, berbagai hal. Di malam hari, banyak anak yang melewati bivak kami, sementara kami berdua asik mengobrol sebelum tidur setelah makan nasi sarden. (bingung kan lo di gunung ada sarden?). Kadang kalau ada yang lewat saya sengaja berteriak, manggil nama yang lewat atau menyalakan senter, cuma biar teman yang lewat tahu saja, kalau di situ ada bivak kami.

Malam itu senter kami tinggal 1. Medha tidak bawa baterai cadangan. Baterai cadangan saya juga sudah habis. Dan parahnya lagi, satu-satunya senter kami sudah sangat redup cahayanya, sedikit lagi menghadapi kematian. Karena alat penerangan kami sudah begitu keadaannya, kamipun memilih untuk tidak banyak menggunakannya lagi. Saya suruh Medha meletakkan korek di tempat terjangkau, jadi kalau-kalau butuh penerangan bisa pakai korek. Kamipun mengobrol dalam gelap sambil menunggu kantuk. Kalau ada anak yang lewat saya bertanya pada Medha

âDha, lo pengen jalan-jalan juga kaya mereka?â?

âga ah, di sini ajaâ?

âiya, gw juga malesâ?

âini kan survival, masa kumpul-kumpulâ?

Dalam hal jalan-jalan dan kumpul-kumpul, kami sama malasnya.

Kelompok Sazi lewat, sayapun sapa. Saya bilang âmasa gw ga punya senter loh Sazâ? (keadaannya memang lebih bisa dibilang mati tuh senter ketimbang hidup). Beberapa saat kemudian kelompok jalannya Sazi kembali lagi. Dia menyuruh kami pindah bivak.

âlo tau ga, disini lo sendirian tauâ?

Saya dan Medha berpandangan. Kelompok terdekat yang di sebelah kanan sudah pindah karena 1 personilnya sakit. Kelompok terdekat di sebelah kiri sudah pindah karena lahannya diserbu semut. Jadilah kami sendirian di area itu.

âlo liat deh kesana, ini jurang, bahaya banget lo disiniâ?

ânanti ada babi hutan loh, mana lo berdua ga punya senterâ?

âya ampun ini bekas makanan bukannya disimpen lagi, pelatih kan udah bilang jangan buang sampah sembarangan, bekasnya dikubur, ini malah bekas makanannya ga diberesin, nanti tercium babi hutanâ?

âlo Medha anak biologi gimana sih?â?

Saya dan Medha cuma berpandangan sambil cengengesan. Sambil nanya dengan bego-nya âemang disini beneran ada babi hutan ya?â?

âya ampun Pemi, emang lo ga tau, semalem bivak gw kan didatengin, si Citra denger suaranya, emang lo ga denger?â?

(bivak yang dimaksud adalah bivak terdekat di kanan lokasi bivak kami semalem) âga tuh, semalem kita tidurnya pules bangetâ?

âlo yakin mau disini? Lo sendirian. Nanti kalau ada apa-apa ngga ada yang bisa nolongin. Ini lokasinya ga aman, tuh jurang kaya gitu. Pindah aja yuk, lapor ke pelatihâ?

Anak-anak itu mencemaskan kami, dan kami masih cengengesan.

âlo berdua yakin ga kalo disini? Kalo emang yakin sih ga papaâ?

Saya dan Medha, sebelum mereka datang, yakin 100%. Lah wong kami aja gatau kalo ada babi hutan beneran. Hahaha. Ditanya begitu malah jadi ragu.

âayo gw temenin ke pelatihâ?

Begitulah malam itu. Teman-teman mencemaskan kami, kami yang dicemaskan santai-santai aja. Satu orang mulai kesal pada kami, karena menurutnya âkalian tuh careless banget sih!â?

Waktu lapor ke pelatih, pelatihnya malah bilang kalau tempat kami itu aman banget. Tidak usah pindah dari sana. Tapi kalaupun memang pindah tidak apa-apa, dengan konsekuensi, bikin bivak lagi.

âlo mau Ludi bikin bivak lagi?â?

âmales banget malem-malem begini, mendingan ga usah pindahâ?

âiya, ga usah pindah yuk, langsung tidur aja kitaâ?

Hehe. Begitulah Ludi dan Medha. Asli, saya seneng banget dapet temen model Medha begini. Menurut Medha si anak biologi, hewan pada dasarnya tidak suka mengganggu manusia, jadi kalau melihat ada manusia yang memang tidak mengganggunya, dia akan memilih untuk menghindar. Lain cerita kalau kita memang mengancam hidupnya, dia akan mempertahankan diri.

Kamipun kembali ke bivak dan tidur. Menanggapi rumor babi hutan tadi, saya tidur dengan golok tepat di samping kanan saya, untuk jaga-jaga. Senter diletakkan di tengah biar mudah dijangkau (dikasih baterai sama Sazi). Korek Medha pegang. Fyi, saya tidur dengan sepatu PDL terpasang. Hehe. Selain dingin, biar gampang juga kalau harus lari. Medha bilang âLudi, kalau nanti ada apa-apa kita langsung lari aja ya ke tenda pelatihâ?

âiyaâ?

Ini mirip dengan sesi Uka uka di Dunia Lain kan? Manakala kami sudah tidak sanggup, kami tinggal melambaikan tangan ke kamera. Bedanya, kamera kami adalah tenda pelatih.

Di tengah malam kami terbangun. Ada suara binatang terdengar. Medha tanya pada saya âlo denger ngga Ludi ada suara?â?

âdenger. Itu suara babi hutan bukan?â?

âbukan. Kayanya suara kucing-kucinganâ?

âmaksud lo kucing boongan?â? (hahaha, tiap inget saya pernah nanya begini, rasanya pengen ngakak, pertanyaan dudul banget, ngapain ada kucing bohongan di hutan)

âbangsa kucing. Kaya serigala, dsbâ?

âmenurut lo sebagai anak biologi, sebaiknya kita ngapain?â?

âdiam dan berjagaâ?

Kamipun duduk dalam diam di dalam bivak. Tentu saja dengan golok di tangan saya. Hoho.

Beberapa saat kemudian, saya mulai bosan.

âkayanya suaranya udah menjauhâ?

âkita tidur lagi aja yukâ?

âyukâ?

Kamipun tidur lagi. Meski tidak nyenyak. Saya berkali-kali terbangun. Saya yang kecanduan melihat jam ini terpaksa merepotkannya terus, karena jam tangan saya rusak. Setiap terbangun, kalau saya tahu Medha juga terbangun saya akan tanya jam berapa saat itu.

âjam berapa Dha?â?

âjam 1 kurang 5â?

Tertidur lagi. Terbangun lagi.

âjam berapa Dha?â?

âjam 1 lewat 10â?

âlah, baru 15 menit dong dari yang tadiâ?

âiyaâ?

Huahaha. Ketawa bareng. Malam itu memang terasa sangat-sangat panjang.

Pada akhirnya duo Ludi-Medha berhasil melewati sesi âDunia Lainâ? dengan tuntas. Kami bertahan di bivak sampai pagi, tanpa mengungsi, tanpa kumpul-kumpul, tanpa melambaikan tangan ke kamera. Paginya kami bahas lagi suara kucing-kucingan semalam. Sepertinya kesimpulan kucing-kucingan perlu dianulir, prediksi saya itu suara burung-burungan.

Dan kami, akan mengenang masa-masa ini dengan senyuman.

~beberapa hari lalu Medha sms saya âLudi, gw nemu jejak babi hutan di sini. Sembunyiin bekas makanan lo. Wkwkwkâ?

âyakin lo itu babi hutan? Bukan kucing-kucingan? Heheheâ?

âiya, jejaknya gede-gede gitu. Jangan lupa siapin golok. Kwkwkwâ?

Advertisements

12 thoughts on “Dunia Gunung Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s