manajemen mengemut cabai

Kita ini manusia biasa bukan? Berhubung manusia itu katanya mahluk sosial maka berinteraksi dengan manusia lain adalah sebuah keniscayaan. Berhubung manusia itu unik, maka menemukan perbedaan dengan sesama manusia, juga sebuah keniscayaan. Dan karena kita manusia biasa, wajar dalam interaksi itu kita tidak suka atau tidak berkenan dengan seseorang. Begitu bukan?

Di minggu ke-2 fasilitator saya bertanya adakah teman PM yang tidak saya suka, atau adakah sikap atau perilaku teman PM yang mengganggu saya. Waktu itu, tidak. Saya ini tidak mudah terganggu dengan perilaku orang lain. Nafsi-nafsi lah sifatnya. Your life is your own, my life is my own.

Tapi di minggu ke-3 mulai ada teman yang saya tidak suka. Dan rasanya tidak menyukai orang lain itu selalulah tidak menyenangkan. Seperti mengemut cabai, rasanya membakar, ingin segera dimuntahkan. Tapi kalau mengemut cabai, mudah saja memuntahkannya, lagipula siapa sih yang iseng ngemut-ngemut cabai. Saya baru sadar analogi ini bodoh, hehe. Kalau perasaan tidak suka, perasaan sebal pada orang lain, itu susah menghilangkannya. Apalagi kalau orang ybs tidak merubah perilakunya yang membuat saya sebal.

Saya mulai tidak menyukai orang tsb setelah saya sekelompok dengannya dalam sebuah sesi. Sebelumnya tidak pernah. Saya baru lihat disitu sikapnya yang tidak berkenan buat saya. Dan saya membenci sekali perasaan tidak suka itu, karena membuat saya tidak enjoy, tidak positif, tidak optimal ketika harus berinteraksi bersama dia. Rasanya jadi bete dan ujung-ujungnya malas-malasan. Luar biasanya, ternyata ALLAH menakdirkan hal yang istimewa, sudah saya tidak suka dengan dia, di beberapa kesempatan setelahnya saya selalu dapat pembagian sekelompok dengannya. Jadi seperti sedang diuji, sudah tidak suka, malah dipertemukan terus.

Sudah uring-uringan tidak jelas, bukan hanya karena saya sebal pada seseorang tapi lebih karena saya sebal pada perasaan sebal ini. Mengganggu saja. Sayapun bercerita pada seorang teman, tentang perasaan saya itu. Teman saya jawab

“kita ini memang perlu merasakan benci, merasa tidak suka, merasa marah. Karena kalau tidak pernah merasakan itu,kita jadi tidak belajar meluapkan emosi.”

Mendengar kata-katanya itu saya jadi teringat dengan sebuah hadis “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim). Entah ini ada hubungannya atau tidak, tapi otak saya terkoneksi ke sana. Manusia tidak ada yang luput dari dosa dan kesalahan. Tapi dari dosa dan kesalahan itu, yang lebih penting adalah manusia bertobat. Dan ALLAH memberikan karuniaNya berupa ampunan.

Saya jadi berpikir, apakah ini mirip dengan kasus saya? Benarkah kata-kata teman saya itu? Bahwa kita memang perlu untuk merasakan marah, benci, tidak suka, dan berbagai emosi negatif lain, karena kita perlu untuk belajar menyalurkannya dengan benar.

Satu hal yang akhirnya saya temukan. Dalam, entah kali berapa saya terpaksa sekelompok dengan orang tersebut, saya mulai bisa mengusir rasa suntuk saya, saya mulai bisa berkontribusi secara optimal pada kelompok saya, dan saya mulai bisa membebaskan diri saya. Pada akhirnya saya sadar, kenapa ALLAH menakdirkan saya malah sering sekelompok dengannya, mungkin agar saya memiliki peluang untuk belajar. Belajar menata hati yang sedang dikuasai rasa benci, belajar memisahkan emosi pribadi dengan pekerjaan, belajar untuk tetap semangat meski berada di kondisi yang menyebalkan. Dan saya pikir, saya cukup berhasil kali ini.

 

~kabar baiknya, di minggu ke-4 ketidaksukaan saya mulai hilang. Bukan karena sikapnya berubah, tapi karena saya sudah bisa menerimanya. Ah, bukankah tidak semua keinginan dan kesukaan kita bisa terfasilitasi? Bukankah ombak dan duri niscaya ada di jalan kehidupan?

catatan harian entah hari ke-berapa yang tertunda penulisannya

kamar perempuan 4

Advertisements

19 thoughts on “manajemen mengemut cabai

  1. Iya..banyak deh kayaknya yang punya kasus semacam ini, ludi.. Semoga manajemennya tetap oke yaa.. Alhamdulillah sejauh ini perasaan gw masih stabil, karena gw juga orangnya cenderung kayak yg lo bilang itu, nafsi nafsi, ga terlalu ambil pusing kl ada yg bikin ga nyaman 😀

  2. Dan memang seperti itu. Kita tidak bisa mengendalikan sikap orang lain, tetapi kita bisa mengendalikan sikap kita. Semoga tetap semangat ya Ludi :)Namun di lingkungan profesional, manakala perbuatan orang lain sudah tidak sesuai dengan prosedur, ya jangan ditahan-tahan juga. Salurkan menurut jalurnya.Karena seideal apapun ideologi sebuah organisasi, kalau tidak bisa memfasilitasi konflik, yang ada nantinya mekanisme gosip yang mengambil alih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s