Emang Ada Yang Ga Suka Dengan Hal Romantis? (bag. 2 end)

(baca dulu bagian 1-nya ya, ada di sini)


Romantisme, pada siapa kita berkaca?

Seperti tadi sudah saya bahas di awal, romantisme bisa kita lihat di tontonan roman. Di sana kita bisa melihat atau mencontoh segenap teknik romantis. Tapi kemudian saya berpikir, benarkah hanya pada hal itu kita bisa berkaca? Atau benarkah jika kita berkaca dari sana?

Menyedihkan memang ketika saya sadar, bahkan saya sendiripun jika ditanya siapa contoh pria romantis saya akan jawab Joh Guk atau Mo Ryong, hehe. Padahal ada satu pria nyata, ia yang padanya jelas-jelas kita bisa berkaca. Ya, RosuluLLAH, sholawat dan salam padanya.

Beliau adalah suri tauladan yang terbaik bagi kita. Bahkan dalam hal romantisme. Tidak percaya? Sebelum jauh mencontohkan, ada baiknya saya sampaikan dulu definisi romantis (telat banget ya, hehe). Menurut KBBI daring “ro·man·tis a bersifat spt dl cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan”. Nah, siapa bisa memberi contoh sifat mesra dan mengasyikkan Rosul SAW?

Romantisme yang paling familiar mungkin adalah panggilan mesra Rasul SAW kepada istrinya. Kalau pasangan jaman sekarang manggil honey, sayang, beib, Rosul punya panggilan sayang untuk istrinya, Humaira. Adakah yang merasa itu tidak romantis? Saya kasih bocoran, ada seorang kawan, menyebut istrinya “si ndut” di depan orang lain. mungkin baginya “si ndut” adalah panggilan sayang, tapi buat saya itu lebih berkonotasi mengejek. Meski saya ini gendut, gendut banget bahkan, saya tidak akan suka kalau suami saya memanggil saya dengan sebutan “ndut” apalagi di depan orang lain. Gw lempar ulekan cowo kaya gitu.

Di siroh lain, Rosul SAW pernah bergantian memakai gelas dengan istrinya. Bayangkan ketika kita menyerahkan gelas yang habis kita pakai ke orang di depan kita, sudah tentu sisi gelas yang kita minum akan berlawanan dengan sisi yang akan diminum orang depan kita kan? Tapi Rosul SAW memutar gelas tersebut, sehingga sisi gelas yang menyentuh bibirnya, tepat dengan sisi yang menyentuh bibir istrinya tadi (cmiiw). Manis kan?

Atau ada lagi yang buat saya sungguh-sungguh menyentuh. Ketika Rosul SAW pulang larut malam, sudah mengetuk pintu tapi tidak terbuka (cmiiw) karena tidak ingin mengganggu istrinya yang sudah terlelap tidur, beliau, manusia mulia itu, seorang nabi, pemimpin kaum, memilih untuk tidur di luar. Coba dibayangkan jaman sekarang, adakah suami yang rela tidur di luar demi tidak mengganggu tidur istri?

Sayangnya, saya tidak banyak belajar siroh, jadi tidak banyak tahu tentang romantisme Rosul SAW.

Memang, tontonan, sebuah media audio visual akan lebih efektif untuk membuat kita mengingat. Dan di jaman sekarang ini, yang disuguhkan pada kita adalah romantisme ala korea, india, atau amerika. Sebenarnya tidak sepenuhnya salah jika kita berkaca dari mereka, menurut saya. Karena tidak semua tindakan romantis Rosul SAW bisa kita tiru bulat-bulat. Yang penting adalah konteksnya, tidak harus meniru kontennya. Seperti misal saya dipanggil humaira, alih-alih merasa diperlakukan romantis, saya malah jadi curiga jangan-jangan memang bukan saya yang dipanggil. Yah, gimana mau punya pipi kemerahan, lha wong kulit gw item, hehe.

Tak ada salahnya jika meniru Fujiomi atau Joh Guk yang menempatkan perempuan di sisi dalam trotoar. Sangatlah pantas meniru Mo Ryong yang tidak mencela masakan Yo Hee yang dimasak dengan susah payah meski rasanya tidak enak. Bahkan Rosul SAWpun pernah mengajarkan kita untuk tidak mencela makanan. Yang penting adalah berada dalam koridor yang dicontohkan Rosul SAW, romantisme itu, tidak diumbar pada orang-orang yang salah. Romantisme itu, tidak dilayangkan pada mereka yang statusnya belum halal untuk kita. Dan satu hal yang perlu diingat, Rosul SAW, sungguh suri tauladan yang baik bagi kita. Kepadanya kita bisa berkaca.

Kalau sudah begini, romantis pada suami atau istri adalah ibadah

Mari kembali pada definisi romantis menurut KBBI tadi. Romantis adalah bersifat mesra, mengasyikkan. Rasanya sah-sah saja jika saya menggunakan kata lain “menyenangkan pasangan” (aih aiih). Dan menyenangkan hati orang lain itu ibadah bukan? Saya kutip hasil temuan saya di sebuah situs

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa perbuatan atau perkataan yang asalnya mubah namun jika diniatkan untuk menyenangkan hati orang lain maka akan bernilai ibadah. (Al-Qoulul Mufiid (Bab tentang لَو, tatkala beliau menjelaskan tentang hadits Abu Huroiroh اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنفَعُكَ…))

Sungguh tidak ada yang salah manakala seseorang berniat untuk menyenangkan hati pasangannya. Tidak harus dengan hadiah bernilai materi, bahkan perilaku dan kata-kata yang baik saja bisa menjadi senjatanya. Dan pada hemat saya, hal-hal itu bisa dimasukkan dalam ragam romantisme yang kita pahami sekarang.

 

~subbahasan tambahan

Omong-omong tentang gombal

Sebutlah ia gombal. Memang, kita perlu menyepakati dulu apa definisinya. Ah, biarlah saya pakai definisi saya sendiri. Bagi saya, gombal adalah kata-kata manis atau rayuan. Entah kenapa ia disebut gombal, padahal gombal kan buat ngepel. Di suatu tatsqif, temanya tentang keluarga (ini tatsqif spesial katanya, haha) si pengisi materi bilang begini ke audiens yang laki-laki “pak, ibu-ibu itu seneng kalo digombalin, makanya sesekali gombal ke istrinya”.

Saya tertawa dengarnya, ketawa geli banget. Tapi waktu itu yang ketawa geli cuma saya, tidak dengan ibu-ibu yang lain. Entah mereka jaim, atau mereka malu menertawakan kalimat itu padahal dalam hatinya membenarkan, atau entah selera humor saya yang aneh. Terlepas dari itu, memang ko, ibu-ibu itu seneng digombalin, meski mereka jawab “ah gombal” manakala digombalin, tapi dalem hatinya sedikit cenat-cenut juga. Hayhay. *asli sotoy inih*

Nah, kalau ternyata gombal bisa menyenangkan hati istri, dan kalau menyenangkan hati istri adalah ibadah. Gombal ga cuma bisa buat ngepel, tapi bisa jadi ibadah toh?

 

 

 

 

~dan tulisan ini udah 5 halaman word tanpa terasa. Saya bingung closingnya gimana. agak tidak puas juga dengan susunan bagian 2 ini sebenernya, tapi udahan aja ah. Sampai jumpa di cuap-cuap (rodo gemblung) ludi yang lain

 

Ibnu Hibban berkata dari Aisyah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan saya adalah sebaik-baik (perlakuan) terhadap keluarga saya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s