Emang Ada Yang Ga Suka Dengan Hal Romantis? (bag. 1)

Mau tidak mau riuh rendah pemberitaan tentang briptu norman polisi gorontalo sampai juga ke ruang-ruang di rumah bapak saya. Dan mau tidak mau pula bahasan tentang dia terlontar juga dari mulut saudara-saudara saya. Dan mau tidak mau pula ternyata bahasannya masuk juga di notes saya. Tidak rela sebenarnya membahas tentang dia. Cukuplah sudah lebaynya pemberitaan tentang dia di media masa. Tak perlulah saya membahasnya pula.

Tapi sayangnya, ada satu tema yang diangkat tentang dia yang sebenarnya tidak mau saya sebut-sebut itu yang menggelitik untuk saya bahas. Jadi biarlah saya relakan satu note fb untuk memuat namanya. Bukan tentang dia utamanya yang saya bahas, tapi tentang satu hal, romantisme.

Lalu apa hubungan romantisme dengan briptu norman (agh, saya sebut lagi namanya)? Abang saya bilang begini ke istrinya, “dia orangnya romantis tau”. Kakak ipar saya jawab “yaiyalah, sukanya nonton film india, makanya romantis. emang kamu sukanya nonton film perang”.

Oke, sudah saya sebut itu salah satu subbahasan note kali ini, hubungan sikap romantis dengan film india. Dengan disebutkannya subbahasan itu, tak perlulah saya sebut-sebut nama briptu norman lagi. (dan dengan ini saya malah makin menegaskan adanya orang tsb dalam note ini, haha)

Tontonan roman membuat penontonnya tertular romantis

Tontonan, meski anda bilang itu hanya tontonan dan bukan tuntunan, sedikit banyak pasti mempengaruhi anda. Sedikit banyak, lama sebentar, kuat dalam. Apalagi kalau anda memproklamirkannya sebagai kegemaran atau favorit. Dalam hal ini baiklah kita persempit, bukan pada film india saja, tapi film atau tontonan bergenre roman.

Saya jadi ingat dulu pernah meledek seorang teman karena kelihatannya dia suka sekali dengan novel roman, roman islami, sesuatu yang membuat saya geleuh bacanya. Seperti novel Ketika Cinta Berpikir (KCB) misal, saya baca, tapi skimming. Tidak perlu detail baca novel gituan, saya cuma pengen tahu apaan sih yang sedang digandrungi masyarakat kala itu. Saya meledek begini kira-kira, “suka banget ya dengan hal-hal romantis”. Eh dia jawab begini “emang pe ga suka? Atau ganti deh pertanyaannya emang ada yang ga suka?”

Waktu itu saya lupa jawab atau ngga. Tapi sepertinya saya memutuskan bahwa saya tidak suka. Tapi itu dulu, sekarang tidak, kan kita udah minum combantrin. Saya, pada akhirnya suka juga dengan hal romantis (uhuk uhuk huek!), mungkin gegara saya juga suka nonton film roman. Sepertinya film bukan kata yang tepat karena bisa juga serial atau apapun yang bisa ditonton, jadi saya sebut tontonan saja. Menonton tontonan roman itu membuat kita jadi suka dengan hal romantis. Ya tidak? Bukan cuma terbatas pada suka dengan hal romantis, tapi juga bisa membuat kita jadi orang yang romantis, atau bisa belajar romantis.

Saya pernah baca sebuah “surat pembaca” tentang sebuah komik roman. Di situ dia bercerita kalau dia memiliki pria idaman seperti cowo di komik itu, salah satunya adalah memposisikan wanitanya untuk berjalan di sisi dalam trotoar. Bagi saya, memposisikan wanita berjalan di sisi dalam torotoar adalah sebuah romantisme. Dan hal itu saya temukan di komik atau yah, tontonan tadi.

Kita memang banyak menemukan hal romantis di film. Beberapa wanita dibuat mabuk oleh sikap seorang Joh Guk pada Mi Rae, memposisikannya berjalan di sisi dalam trotoar, membukakan pintu mobil untuknya, menyuapinya makanan ketika makan bersama, atau membersihkan tempat duduk yang akan diduduki Mi Rae, misalnya di taman atau tempat umum lain. Atau romantisme lain, yang paling mudah saya ingat saja ya, romantisme Chae Mo Ryong di serial witch yo hee. Waktu Mo Ryong memberi “pengalaman percintaan” pada Yo Hee, sikapnya bener-bener menyenagkan. Dia mengirimkan video yang isinya romantis banget ke Yo Hee, memasukkan lipatan-lipatan kertas bertuliskan kata-kata manis ke dalam pop corn yo hee waktu mereka nonton bareng, tidak pernah mencela masakan Yo Hee yang rasanya hancur lebur karena menghargai usahanya. Pokonya maniiiis banget.

Disuguhi hal-hal seperti itu membuat kita (ah, baiklah saya, haha) selain senyum-senyum sendiri, jadi berharap hal yang sama juga. Berharap diperlakukan dengan menyenangkan seperti itu. Atau kalaupun tidak, jadi punya referensi bagaimana bersikap romantis. Hoho. So, sampai disini sudah sepakatkah jika seorang penyuka film india adalah orang yang romantis adalah hal yang sangat-sangat mungkin?

Romantisme dimana ia berhenti?

Selain obrolan tentang si polisi yang namanya saya malas sebut itu, ada 1 lagi hal yang membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Yakni tulisan teman di fb, tentang romantisme yang terkikis. Dia menuliskan, bahwa jaman dulu romantisme masih ada begitu dalamnya. Jaman dimana wanita dan pria masih malu-malu jika mereka belum menikah. Jaman dimana surat adalah hal lazim untuk mengutarakan cinta. Jaman dimana seseorang berpuisi dan bersajak dengan mikir sendiri, bukan mengutip dari sms.

Dia sebenarnya membahas perubahan romantisme terkait jaman. Dia juga bercerita bahwa jaman sekarang, orang belum halal sudah berani beromantis-romantis ria dengan pasangannya. Dan saya, jadi berpikir satu hal. Romantisme masih ada di masa sekarang, meski berubah gaya dan tekniknya. Dan yang lebih ingin saya soroti adalah, romantisme itu, mana yang lebih banyak dilancarkan, sebelum sebuah hubungan halal atau sesudahnya?

Sering kita dengar sebuah sindiran, manakala masih pengantin baru, kata sayang masih lazim terdengar. Kalau pasangan jatuh disayang-sayang, ditanya dimana letak sakitnya, tapi ketika usia pernikahan sudah lanjut, kalau pasangan tersandung saja, respon malah hinaaan “mata lo kemana sih?”

Mungkin memang begitu, romantisme, biasa digunakan sebagai senjata pengejaran. Manakala target sudah dicapai, romantismepun ditinggalkan. Sikap manis dan menyenangka biasa dikeluarkan ketika justru hubungan belum halal, ketika niatan adalah untuk mendapatkan seseorang jadi pasangan. Ketika sudah jadi, untuk apa manis-manis lagi?

Setidaknya itu yang saya pernah lihat di sebuah film. Di film itu digambarkan seorang pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebuah perkenalan singkat, segera diakhiri dengan kenyataan bahwa si wanita dijodohkan dengan pria lain. Padahal PDKT baru babak pertama. Si pria mengantarkan si wanita untuk pulang ke rumahnya, di benua lain nun jauh disana, dan sepanjang perjalanan si wanita pelan-pelan jatuh suka dengan pria tsb. Dengan perkenalan singkat itu mereka menikah, dan setelah mereka menikah, barulah terlihat sikap suaminya sebenarnya. Mereka sering bertengkar, si suami tidak lagi bersikap manis. Di suatu pertengkaran, istrinyapun protes

“alasanmu selalu bisnis, lantas kemana bisnismu dulu sampai-sampai kau bisa mengantarkanku sampai yunani?”

“itu kulakukan karena cinta”

“cinta? Lalu kemana cintamu sekarang?”

“sekarang kan kita sudah menikah”

“hah? Jadi maksudmu setelah kita menikah cintamu sudah tidak ada lagi?”

Hehe. Saya suka banget adegan pertengkaran ini, karena menggambarkan, ketika sedang mengejar seorang wanita, seorang pria bisa melakukan segalanya. Tapi setelah dia memilikinya, justru dia jadi melalaikannya. Romantisme itu, hanya ada ketika justru belum benar-benar memilikinya, atau hanya pada awal-awal sebuah hubungan, dan itu tidak bertahan dalam waktu-waktu jauh setelahnya. Bukankah ini sungguh tidak ditempatkan secara benar?

 

 

~ini tulisan belum selesai, awalnya ga pengen dibagi-bagi, tapi setelah ditulis ko jadi panjaaang banget. khawatir pada bosen, jadi saya pecah jadi 2 tulisan, baca lanjutannya ya, ini baru pemanasan, hehe


PS: tulisan ini crosspost dari note fb yang kemarin kupost. tadinya ga niat dibagi di MP, eh ternyata hasil tulisannya ga geje-geje amat, hehe, jadi bole lah ditaro disini. mm..dibolehin dikomen ga yaa *mikir dulu*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s