Bersiap Menjadi "Kaya"

“mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari”


Dalam sebuah kajian, ustadz yang menjadi muwajih bilang begini “menyiapkan generasi jangan hanya untuk waktu susah, untuk berjihad, dsb, tapi juga saat menjadi kaya, bagaimana menyikapinya”. Mendengar ini saya teringat pada satu hal, sebuah bab di buku “dari gerakan ke negara” yang sangat berkesan buat saya.

Mungkin bab ini adalah bab yang paling berkesan buat saya diantara bab lainnya di buku “Dari gerakan ke negara”. Karena buktinya, hanya bab ini yang masih saya ingat persis judulnya setelah 4 tahun berlalu sejak saya baca buku tsb. Ada satu hal yang paling saya ingat dalam bab ini (dan sepertinya ini adalah yang paling gampang dicerna, maklum, baca bukunya Om Anis pake mikir euy) yaitu “Pikiran kita selalu terfokus pada bagaimana mensiasati keterbatasan. Bukan pada bagaimana menciptakan kemelimpahan. Karena yang kita pikirkan adalah bagaimana mensiasati keterbatasan, maka selamanya keterbatasan menjadi realitas kita. Kemelimpahan tidak pernah jadi nyata, karena kita memang tidak memikirkannya.”

Sesuai dengan judul babnya “mengubah cara kita memikirkan dakwah”, ini memang tentang memikirkan, tidak harus spesifik pada dakwah, tapi bisa diperluas dalam berbagai sendi kehidupan. Kenapa pikiran? Karena tidak ada realitas yang bermula dari sebuah pemikiran. Bagaimana kita berpikir, begitulah kita akan bertindak.

Kembali ke kata ustadz, menyiapkan generasi jangan hanya pada waktu susah, berarti sebuah bentuk penyiapannya adalah menjadikan mereka orang yang berpikir dan bercita-cita besar. Sehingga kalau akhirnya pemikiran itu menjadi realita, sudah tidak lagi kaget atau gagap, karena keadaan seperti itu sudah dipikirkan sebelumnya.

Kalaupun tidak dalam rangka menyiapkan generasi, hal ini juga penting diperhatikan untuk diri sendiri. Mungkin kita sendiri juga termasuk orang-orang yang belum siap dengan menjadi besar, menjadi kaya, menjadi tokoh, dll. Kalau benar begitu, maka harus dari sekarang kita mulai mengubah cara kita memikirkan masa depan.

Pemicu saya membuat tulisan ini adalah peristiwa yang sempat ramai diberitakan di tv, sebelum akhirnya digeser dengan tsunami jepang dan bom buku. Di tivi di rumah (mudah-mudahan di tivi anda juga) berkali-kali diberitakan tentang personil band yang tertangkap karena kedapatan memiliki narkoba. Setiap melihat berita itu ada perasaan yang berbeda menyelusup di dalam hati saya (bahasanya uhuy). Dengan berita serupa, namun lakon berbeda, saya tidak merasakan hal seperti ini. Saya merasa kasihan pada mereka. Kasihan sekaligus menyayangkan. Apa sebab? Karena latar belakang status sosial mereka sebelum menjadi anak band.

Sejak dulu saya sudah tahu kalau mereka semua berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Ada yang tukang bangunan, tukang es cincau, dll. Jenis-jenis kerjaan serabutan dengan penghasilan minim. Sekarang sudah jadi anak band, tentu keadaan keuangan berubah banyak sekali. Itulah yang saya sayangkan, sudah merintis karirnya dari bawah, pernah merasakan susahnya cari uang, kini, setelah bergelimang harta, malah menyisihkan sebagiannya untuk narkoba.

Dalam sebuah tayangan diputar kembali kesaksian salah seorang dari mereka beberapa tahun lalu. Bahwa di awal-awal mereka menerima honor manggung, mereka takjub dengan nominal uang yang diterima. Jutaan, jumlah yang mereka tidak pernah genggam, bahkan meski dengan kerja kaki di kepala, kepala di kaki.

Pada hemat saya, salah satu faktor hal ini terjadi adalah ketidaksiapan menjadi “bukan orang susah”. Kalau dulu serba kurang, mau beli ini tidak bisa, mau beli itu tidak punya, sekarang serba lebih, Mau beli ini tentu bisa, mau beli itu masih sisa. Kemelimpahan ini mau diapakan? Bingung dengan jawabannya, akhirnya tersasar pada penyikapan yang salah jalan.

Tidak hanya kasus ini, yang lainpun banyak. Mereka yang sebelumnya bukan siapa-siapa, setelah dikenal banyak orang, berubah jadi orang yang berbeda. Tidak sedikit kasus kehancuran rumah tangga, penelantaran anak dan istri, justru setelah mereka dihinggapi popularitas. Sewaktu belum terkenal, menawarkan diripun tidak ada yang mau. Setelah ngetop, bersin saja membuat beberapa orang terkesima (lebay, hehe). Jika tidak siap dengan segala perubahan ini, inilah yang bisa berbahaya.

Menyiapkan generasi, juga menyiapkan diri sendiri untuk melakoni kemelimpahan adalah perlu dimulai segera. Efeknya, tidak hanya membuat realitas menjadi lebih dekat dengan kita. Tapi juga agar kita tidak gagap, tidak salah langkah, tidak kehilangan arah, manakala ia memang menjadi realita. Mari, kita bersiap untuk menjadi “kaya”.

baca juga bab lengkap Mengubah Cara Kita Memikirkan Dakwah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s