aku masih disini (padahal tidak) untuk setia

Penyadaran bisa datang dari mana saja. Salah satunya adalah ketika kita berada dalam kondisi menjadi objek. Objek dari suatu tindakan yang padahal seringkali kita lakukan juga. Kita baru sangat menyadari bahwa tindakan itu tidak baik, tindakan itu tidak menyenangkan, tindakan itu merugikan, manakala kita sedang jadi objeknya. Objek penderita, bukan subjek bahagia.

Yang sedang ingin saya bahas adalah spesifik pada hal menunggu. Banyak orang yang menyatakan bahwa hal yaang tidak disukainya adalah menunggu. Tapi, ada berapa banyak orang yang menyatakan tidak suka ditunggu? Banyak orang tidak suka jika harus menjadi subjek dari kata menunggu, tapi bagaimana bila dia jadi objeknya?

Kalau saya, tidak suka keduanya, menunggu atau ditunggu. Karena saya sadar bahwa menunggu itu tidak enak, maka menyadari bahwa saya sedang ditunggu orang lain juga tidak menyenangkan sekaligus menenangkan bagi saya. Itu pula sebab saya kurang suka janjian atau pergi bareng. Karena janjian sangat berpeluang memunculkan dua hal yang tidak saya suka, menunggu atau ditunggu. Saya lebih suka pergi sendiri, karena tidak ada keterikatan disana. Semua ditanggung sendiri. Kalau saya tepat waktu, saya yang senang. Kalau saya terlambat, saya juga yang dihukum. Tidak perlu ada orang lain yang ikut-ikutan dihukum (atau segenap konsukunsi tidak menyenangkan lain) akibat terlambat karena harus bareng dengan saya yang terlambat.

Terus terang, saya ini sering terlambat. Sebuah hal jelek yang ingin saya singkirkan jauh-jauh dari kehidupan saya. Tapi saya tidak sendiri, karena negeri ini dikenal juga dengan jam karetnya. Jadi saya yang sering telat ini sering pula terpaksa dibuat menunggu orang lain yang lebih parah ngaretnya dari saya. Dan masa-masa menunggu ini selalu menonjok saya. Membuat saya semakin dan semakin sadar bahwa membuat orang lain menunggu karena keterlambatan kita itu sangatlah tidak menyenangkan dan bahkan merugikan. “ga boleh telat lagi Ludiii” begitu kira-kira hati saya berteriak berulang-ulang.

Ada sebuah pesan bijak spesial buat para ngaret-ers “jangan membuang waktu orang lain”. Ya, kalau kau ingin membuang-buang waktumu, buanglah sendiri, tapi jangan membuat orang lain jadi terbuang waktunya akibat ulahmu. Begitulah kira-kira terjemahannya versi saya. Datang terlambat memang erat kaitannya dengan membuang waktu orang lain yang tepat waktu. Semestinya sebuah agenda bisa diselesaikan dalam waktu tertentu, jadi “molor” waktunya karena tertunda untuk menunggu mereka yang terlambat.

Sebenarnya menunggu tidak selalu identik dengan membuang waktu. Dulu kakak saya pernah bilang “ah, kalau akhwat mah sambl nunggu kan bisa tilawah”. Ya, ada banyak alternatif hal bermanfaat yang bisa dilakukan selama menunggu. Tilawah atau segala sesuatu yang berhubungan dengan qur’an, adalah sebaik-baik kesibukan yang bisa dilakukan. Hal lainnya bisa membaca buku, atau menulis, seperti yang saat ini sedang saya lakukan (sudah 120 menit saya menunggu disini). Tapi, meski begitu, ada hal-hal yang tetap bisa merugikan, misalnya adalah tertundanya agenda lain. yag mestinya sudah bisa beralih ke urusan berikut, jadi masih stuck di satu urusan. Tidakkah dengan alasan ini cukup untuk mengingatkan seseorang agar tidak terlambat?

Begitu pentingnya sebuah dimensi bernama waktu, tentu semua sudah paham. Tak perlu saya jabarkan disini. Untuk domain kognitif tentang berharganya waktu semua sudah kuasai. Tapi untuk domain afektif dan psikomotor, ternyata masih terseok-seok. Komitmen, ini mungkin yang masih kurang. Pun begitu bagi saya. Tapi, apakah harus terlebih dauhulu menjadi objek penderita untuk menyadarinya?

~tulisan untuk menyadarkan diri sendiri

tulisan terkait:

tulisannya fajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s