Sudah Bukan Virus Merah Jambu Lagi

Tempat lain yang membuat kita bisa menemukan banyak buku sekaligus selain perpustakaan adalah toko buku dan pameran buku (book fair). Berada di tengah kepungan buku-buku itu membuat kita mau tidak mau bertemu dengan berbagai judul buku. Dan ternyata dari sini saya menemukan hal yang menyenangkan, atau tepatnya, menyegarkan. Karena dari berbagai judul buku ada saja yang menggelitik dan mengundang senyum saya.

Sepertinya menjadi kebiasaan, dan mungkin juga kebiasaan orang lain, kalau menemukan judul buku yang lucu saya akan menunjukkannya pada orang lain. Tujuannya untuk melihat respon orang lain, apakah sama dengan saya. Tujuan tersembunyinya adalah biar bisa ketawa bareng. Hehe.

Misalnya di Indonesian Book Fair yang terakhir, saya datang sama kakak, dan 2 keponakan. Kalau ketemu buku dengan judul lucu, saya tunjukkan ke kakak saya. Saat itu saya ketemu buku dengan judul kira-kira “tips agar menjadi menantu yang disayang mertua”. Menurut saya, ini judul lucu banget. Saya liatin ke kakak saya dia juga ketawa. Dan banyak judul sejenis, saya sudah lupa persisnya.

Di IBF kali ini ada satu judul yang paling berkesan. Waktu itu saya lihat dari kejauhan. Pas lagi makan di dalam istora, di tempat duduk penonton yang berundak-undak itu, pandangan mata saya berkelana ke jejeran buku di stand terdekat. Dan tertumbuk pada buku “Terapi Penyakit Cinta”. Menurut saya judul ini lucu. Kenapa cinta disebut penyakit? Sampai terapinya perlu diangkat jadi sebuah buku segala?

Apakah cinta itu penyakit? Sepertinya tidak. Saya sendiri hanya lihat judulnya, tidak mendekat apalagi membuka dan membaca lembaran-lembarannya. Saya menebak bisa jadi 2 hal yang dimaksud oleh si penulis buku, bahwa cinta memanglah penyakit, atau ada hal yang melekat pada cinta yang sebenarnya murni sehingga menjadikannya sesuatu yang bisa dibilang penyakit .

Sebenarnya apa sih cinta? Hal yang bukan kali pertama saya tanya di blog multiply saya ini. Siapakah yang bisa mendefinisikan cinta? Atau adakah definisi cinta yang disepakati banyak orang? Kemungkinan kita mengenali cinta dari gejalanya. Bila begini begitu maka disimpulkan bahwa itu cinta. Tapi tidakkah cinta itu bersifat individualis? Unik? Beda gejalanya pada tiap orang? Entah.

Pernah saya membaca tentang ciri-ciri cinta. Seseorang dikatakan mencintai sesuatu jika merasakan ciri-ciri tertentu. Tapi banyak orang menyatakan dia cinta tanpa lebih dahulu merasakan apakah semua ciri itu ada padanya. Ciri terbaru yang diungkap boy band asal indonesia adalah perasaan hati cenat cenut apabila ada yang dicinta. Cenat cenut itu seperti apa? Bisa didefiniskankah? Pusing kan muter ke definisi lagi? Hehe.

Maka hal ini sering membuat orang mempertanyakan apabila ada masalah terkait cinta, pertanyaan yang mendasar, yaitu yakinkah bahwa itu cinta? Dan alternatif lain yang disodorkan biasanya adalah nafsu. Jadi, biar saya sederhanakan, biasanya pertanyaannya begini “yakin tuh itu cinta? Bukan nafsu?” Familiar sekali kan?

Ah sudahlah, saya tidak mau jauh-jauh bahas cinta, saya sendiri bingung soalnya. Apalagi mengingat saya mengklaim bahwa belum pernah jatuh cinta (pada manusia, lawan jenis, bukan mahrom), karena kalaupun pernah ada perasaan, saya tidak yakin itu cinta, bisa jadi kaya lagunya Shanti, hanya memuji. Hihihi.

Kembali ke judul “terapi penyakit cinta”, ada diskusi menarik tentang buku ini. Beberapa jam setelah saya lihat judul itu, saya bertemu dengan teman seorang farmasis. Sambil bercanda saya bilang “ada tuh buku cocok sama kamu, terapi penyakit cinta”. Dia jawab “ah belum ada penelitiannya tuh”. Dan berlanjutlah percakapan kami.

Saya bilang lagi “kamu kan anak farmasi, jadi biar bisa belajar, gimana terapinya, gimana bikin obatnya”.
Dia bilang “kasi antibiotik aja”
“loh, kalo virus kan ga usah dikasih antibiotik”
”iya memang virus ga perlu antibiotik”
“tapi kalau cinta kan biasanya dihubungkannya dengan virus”
“bukan, dia bukan virus lagi, sekarang bakteri”
“namanya ganti dong, bukan VMJ lagi, jadi BMJ, bakteri merah jambu” timpal yang lain
Tertawalah kami.
“makanya dia perlu antibiotik”
“jadi ga cukup dengan makan bergizi dan istirahat ya”
“iya, mesti antibiotik minimal 3 hari dan harus dihabiskan”
“trus kalau minum antibiotiknya ga bener bisa resisten, lebih parah lagi bisa-bisa multi drug resisten”
ko cinta jadi mirip sama TBC? Hehe.

Jadi, benarkah cinta itu penyakit? Atau sebenarnya bukan tapi bisa terkontaminasi? Atau yang sampai terkontaminasi itu sebenarnya bukan cinta?

Lieur.


~salah 1 pelaku obrolan ini ai, sebenernya ga perlu juga dia disebut, tapi orangnya minta, yasudah kabulkan saja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s