Siapa Bilang Lelaki itu Tidak Cerewet?

Alkisah ada dua orang wanita yang menghabiskan waktu 12 jam bersama dalam sehari. Dalam ruangan kecil berukuran sekitar 5x5m. Tidak beranjak dari sana kecuali untuk sholat dan makan. Kedua wanita ini memiliki sebuah kesamaan. Sama-sama banyak berbagi cerita (eufimisme dari cerewet, hehe).

Waktu 12 jam bersamanya sebagian besar terisi dengan percakapan satu sama lain. Sesekali berhenti kalau memang harus bekerja yang tidak memungkinkan berbicara, atau mesti berbicara dengan orang lain. Saat keduanya sedang asik bercerita, di jam yang ke 11. Padahal sudah selama itu, tapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk berbagi cerita, seorang yang berada di situ juga sedari tadi menyeletuk “padahal cuma berdua, udah rame banget, gimana kalo bertiga, arisan dah”. Menyadari bahwa mereka yang sedang dibicarakan, keduanya berhenti, tertawa dan menimpali celetukan tersebut.

Dari kasus ini terlontarlah sebuah tanya, “apakah perempuan lebih banyak berbicara dari laki-laki”. Mayoritas dari anda sepertinya akan menjawab iya. Tapi, saya pernah baca sebuah artikel, dari sebuah penelitian didapatkan, bahwa ternyata tidak terbukti kalau perempuan itu lebih banyak bicara dari laki-laki. Penelitian tsb menghitung jumlah kata yang dikeluarkan sekelompok laki-laki dan perempuan. Dan ternyata jumlahnya sengit, tidak berbeda jauh.

Meski katanya kadang ada iblis masuk ke dalam mata para peneliti, tapi biarlah saya gunakan dulu hasil ini. Menurut penelitian ini laki-laki dan perempuan, istilah kasarnya, sama cerewetnya. Yang membedakannya adalah topik yang dibahas oleh keduanya. Para perempuan biasa membahas hal-hal keseharian, curhat, dsb. Sementara laki-laki membicarakan pekerjaan, olahraga, dll.

Jadi tidak benar kalau dibilang perempuan lebih banyak bicaranya. Itu mungkin sangkaan atau overgeneralisasi. Saya sendiri kurang tahu, pasalnya saya tidak banyak “hidup” bersama laki-laki. Jadi tidak tahu seberapa banyak mereka bicara. Tapi kalau dari laki-laki yang ada di sekitar saya, saya lihat mereka juga hobi mengobrol ko, bahkan ada yang lebih banyak ngobrolnya dibanding perempuan.

Memang, kalau yang dilihat adalah perempuan yang ada di ilustrasi pertama tadi, mungkin semua orang akan menganggap bahwa perempuan itu berisik dan cerewet. Padahal, sementara si perempuan mengobrol, memangnya si 2 orang laki-laki yang berada di situ juga melakukan apa? Mengobrol juga ko. Memang sih tidak seheboh si 2 perempuan. Dan kalau saja yang ada disana adalah perempuan lain, yang kalem dan pendiam, mungkin fenomena “arisan” tidak akan pernah terjadi.

Menurut anda bagaimana?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s