Kasti, Masihkah Permainan Anak Jaman Sekarang?

Hari ini saya main kasti sama anak-anak perempuan usia SD. Tentang kronologi atau alasan atau motivasi kenapa saya bisa melakukan aktivitas itu tak perlulah saya bahas di sini, karena bercerita terlalu banyak tentang diri sendiri terlalu banyak di dunia maya itu tidak baik (halah). Sebutlah saya ini pembantu panitia di acara bermain kasti tadi pagi, begitu saja.

Peserta yang hadir cuma sedikit, mestinya ada 50an anak, tapi yang hadir hanya 8 orang. Dengan panitia yang semuanya ibu-ibu, maka saya yang sudah mirip ibu-ibu ini diminta bantuan (haha, asal menghubung-hubungkan). Saat akan mulai bermain si ibu panitia asli bertanya pada saya “bisa main kasti?”, sebuah pertanyaan yang saya jawab dengan mengambang, seperti biasa. Bingung saya jawabnya, bilang bisa ko kayanya belagu, tidak teruji pula, kalo dites ternyata ga bisa mukul bola kan malu, tapi kalau dibilang tidak bisa, ko kayanya culun betul. Hehe. Dasar manusia pertengahan.

Beberapa jam berselang setelah pertanyaan ini dilontarkan, permainan kastipun sudah jauh lama selesai, saya baru sadar kalau pertanyaan ini sebenarnya ambigu sekali, dan betapa apa yang saya tangkap tadi belum tentu sama dengan maksud sang penanya. Kenapa tidak saya validasi tadi ya? Yang saya tangkap, maksud pertanyaannya adalah “apakah saya mahir bermain kasti”, tapi saya sadr bahwa bisa saja yang dimaksud adalah “apakah saya tahu aturan dalam bermain kasti.”

Sepertinya saya tidak salah berpikir begini, karena dalam perjalanan saya temukan si ibu panitia asli banyak kesalahan dalam memaparkan aturan permainan kasti pada anak-anak. Yang akibatnya saya mesti meluruskannya atau kadang pula saya yang menjelaskan lebih banyak aturan. Yang paling saya herankan sebenarnya adalah anak-anak sd itu ga pada bisa main kasti. Tidak bisa dalam artian tidak tahu aturan mainnya. Olalaa..

Saya jadi bertanya-tanya pada mereka, emangnya di sekolah ga pernah main kasti pas pelajaran olahraga? Katanya sih tidak. Ada 1 anak mengaku pernah tapi sudah lupa. Saya tidak tahu kalau anak sd sekolah lain, atau anak sd di jaman yang lain, tapi, dulu, waktu saya SD, permainan saat pelajaran olahraga tidak jauh, tidak lain, tidak bukan, adalah permainan kasti. Hampir selalu. Selain senam juga sepakbola, hanya itu yang saya ingat, ya main kasti. Bahkan permainan di rumah, setelah sekolah selesai, bareng-bareng temen di kampung, di lapangan bola dekat kuburan, kami ini kerjanya main kasti.

Mungkin itu pula sebab saya tidak mahir dalam berbagai permainan olahraga, karena olahraga saya waktu SD tidak variatif. Mungkin karena murid SD saya sedikit sekali, jadi guru saya memilih permainan yang tidak terlalu membutuhkan banyak orang. Bahkan di tahun-tahun terakhir, saking dikitnya murid, pelajaran olahraga digabung 2 kelas, jadwalnya sengaja dibuat berbarengan, agar ketika permainan anggotanya bisa lebih banyak. Tapi bagi saya, hal itu hanyalah sebuah siksaan mengerikan, hehe.

Entah apa yang terjadi, motorik kasar saya tidak berkembang dengan baik. Jadi, waktu masih SD, saya tidak pandai memukul bola, lari lambat, lompatan tidak tinggi, dan sederet kelemahan lain. Jadi kalau main kasti digabung kakak kelas, saya adalah mahluk kecil yang amat sangat bisa jadi sasaran empuk gebokan. Huhuhu. Dan anak-anak cowo itu kalo nge-gebok sakit banget, nge-geboknya niat banget sih.

Omong-omong tentang pelajaran olahraga, menurut saya pelajaran olahraga saat SMP cukup menyenangkan. Karena di masa ini saya mulai mengenal (dan belajar) lompat jauh, lompat tinggi, lempar cakram, lempar lembing, tolak peluru, juga berbagai senam seperti kayang, kop stand, dll. Tapi tetap saja, kalau servis voli saya ngga pernah bisa lewatin net. Hahaha. Memalukan euy.

Kembali ke kasti, saya yang sekarang tentu beda dengan saya waktu SD. Ludi yang sekarang sudah bisa memukul bola, yeyeye , sampai jauh juga bisa. Tapi tetap saja saya kagum dengan anak-anak SD itu, yang pandai memukul, pukulannya sering kena, melambung jauh pula, dulu waktu saya sebesar dia ga sejago itu, hihi. Bermain bersama mereka rasanya menyenangkan, ada anak yang kemampuan memukulnya di bawah rata-rata, membuat saya melihat ada ludi kecil di sana. Ada pula yang meng-gebok dengan ragu-ragu, takut menyakiti, membuat saya teringat ludi kecil yang digebok cowok kelas 5 sakitnya bukan main. Lumayan lah mengisi waktu ahad pagi. Meski saya tidak ikutan main sebenarnya, hanya jadi pitcher. Tapi lumayan sempet ngejar-ngejar dan memungut bola juga. Dan saya baru sadar, kenapa kaki saya malam ini terasa pegal sekali, padahal sepertinya tidak berjalan jauh, ternyata sebabnya karena main kasti tadi pagi.

 

 

~Sedikit cerita, ada 1 anak yang ikut main, saya merasa familiar, saya tanya “kamu anaknya ustadzah nash**oh ya?” dia bilang iya. Oalaah, itu anak dulu waktu balita suka diajak ibunya ngajar di kelas tahsin saya dan kerjanya nangis mulu, sekarang sudah kelas 3 SD. Ckckck. Waktu berlalu tidak terasa yaa (ustadzah itu istrinya ustadz yang nerjemahin beberapa buku, salah satunya tarbiyah dzatiyah, salah 1 ustadz favorit saya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s