Saat Iblis Masuk Ke Dalam Mata

~ini aslinya ada di review, terpaksa saya repost, karena di sana gada yang baca..hehe
~ini review yang agak kemana-mana, tapi, saya sangat merekomendasikan anda untuk membacanya sampai selesai


Sudah lama sekali ga baca QED, dulu baca komik ini kelas 3 sma (yang itu artinya udah sekitar 7-8 tahun lalu) dipinjamkan teman sebangku. Komik ini adalah komik detektif, tapi sedikit beda dengan det. conan atau kindaichi. kalau baca conan kan "berasa" kalau penulisnya suka baca novel sherlock homes atau agatha christie, begitupun kindaichi. tapi menurut saya conan lebih banyak mengadopsi sherlock sementara kindaichi lebih ke agatha christie. nah kalau QED saya tidak tahu komik ini berkiblat kemana, hehe.

(jadi ngalor ngidul gini)

Bedanya lagi, saya hanya baca beberapa komik kindaichi abis itu males, soalnya pembunuhannya lumayan sadis dan 1 pembunuh biasanya membunuh banyak nyawa sekaligus (kaya novel a. christie kan, juarang banget korbannya cuma 1). kalau conan saya sempat ngoleksi sampai akhirnya males juga, karena berasa sinetron ga kelar-kelar. nah, kalau QED saya tidak koleksi, tapi ada beberapa jilid yang saya "incar" untuk punya. ceritanya seringkali "dalem", atau tragis. selain itu komik ini banyak diselipkan ilmu pengetahuannya. suka deh. soalnya si tokohnya kan lulus MIT dalam usia 15 tahun. makanya seringkali komik ini terasa "ilmiah". meski trik-trik pembunuhannya ga seribet conan, tapi Toma menemukan pembunuhnya dengan menyelami sisi psikologis orang lain, itulah menariknya, menurut saya sih. (menurut saya aoyama gosho itu jualan trik dan teka-teki, tapi saya akui, keren, hehe)

nah, QED 31 adalah salah satu jilid QED yang layak saya incar. apa sebab? kasus pertamanya mantep banget deh. ceritanya tentang seorang peneliti yang didakwa memberi kesaksian palsu karena hasil penelitiannya, yang awalnya dinyatakan sukses, ketika dilakukan pengujian tambahan selalu gagal. jadi hasil penelitainnya dinyatakan mengada-ada. ini tentu saja masalah karena penelitiannya di bawah lembaga penelitian negara sehingga ini menyangkut tanggung jawab pada para pembayar pajak.

Yang kemudian sangat menarik adalah statement dari seorang profesor di dalam komik itu
“Para ilmuwan selalu ingin menghasilkan penemuan dan teknik baru supaya mereka diakui masyarakat dan dapat bantuan dana. Ingin memperoleh hasil lebih cepat dari orang lain. Dengan begitu, mereka berkeras bahwa teori merekalah yang benar. Saat itulah iblis masuk ke dalam mata mereka. Semua yang dilihat dan diinginkan akan tampak seperti nyata�

Yah, ini memang hanyalah kata-kata di dalam komik, sebuah bacaan yang jauh sekali dari kata ilmiah atau bahkan dibolehkan dicantumkan sebagai referensi kalau kita bikin karya ilmiah. Tapi kata-kata si profesor ini membuat pikiran saya melanglang buana pada banyak hal yang terkait penelitian.

Misalnya adalah perbincangan di postingan pak iwan (fightforfreedom) diantaranya membahas penelitian. Di sana ada komentar menarik dari pak widodo (saya kutip sedikit, silakan lihat lengkapnya disana)
“Setuju bahwa referensi justru untuk menjadi pembenaran. Padahal referensi zaman kini penuh dengan kepentingan terselubung. Saya contohkan saja. Dulu calon dokter mendapatkan bahan kuliah dari dosen dan dari mata kuliah standar yang boleh kita katakan "lumayan" objektif. Tapi sekarang setelah jadi dokter, kami mendapatkan referensi dari pabrik obat yang mengeluarkan obat… so…? bisa dinilai sendiri kan….

Contoh referensi berkembang yang paling ekstrim adalah tentang musik klasik bisa mencerdaskan bayi yang masih dalam kandungan, ternyata banyak penelitian terkini tidak menunjukkan begitu. Atau misalnya tentang Vitamin E yang diklaim bisa membuat awet muda bila dikonsumsi rutin, ternyata penelitian terbaru mengklaim Vitamin E meningkatkan risiko terjadinya Stroke Perdarahan Pada Otak.

Jadi, yang dapat dilakukan adalah mengimbangi penelitian yang dimonopoli oleh dunia barat atau pun yang dikategorikan sebagai "lawan" dengan penelitian mandiri/independen. Klaim apa pun susah dilakukan bila penelitian dilawan dengan asumsi.�

Membaca komentar pak widodo inipun pikiran saya saat itu melanglang buana pada “cerita-cerita� MSG. Ada sebuah surat, isinya adalah promosi sebuah produk yang masuk ke inbox facebook saya. Di surat itu dipaparkan bahaya-bahaya MSG, dan ditambahkan kata begini
“Hampir semua studi yang menyimpulkan bahwa MSG aman bagi kesehatan ternyata dilakukan oleh para peneliti yang disponsori industri produsen/pemakai MSG dan didalam studi tersebut, "control group" (kelompok obyek penelitian yang tidak mengkonsumsi MSG) diberikan Placebo yang mengandung Aspartame yang diketahui memberi kesan dan akibat yang sama dengan MSG. Studi yang dilakukan oleh FASEB, yang ditugaskan oleh U.S.Food and Dug Association (FDA) dianggap melenceng dari tugas yang dibebankan kepada FDA sebagai otoritas tertinggi di bidang Obat dan Makanan di Amerika, karena 4 dari 8 orang anggota panel FDA yang mensupervisi kerja FASEB ternyata mempunyai konflik kepentingan,sehingga studinya tidak komprehensif.�

Saya terpengaruh dengan tulisan ini, dan semakin yakin bahwa MSG itu memang berbahaya. Namun pemikiran saya ini dipatahkan waktu mengobrol dengan seorang teman yang kuliah di FMIPA UI jurusan kimia. Kalau menurut dia, MSG itu tidak terlalu berbahaya, setidaknya dia bukanlah sebuah zat yang perlu terlalu kita khawatirkan karena menurutnya semasa kuliah MSG tidak terlalu ditunjukkan sebagai bahan berbahaya. Dia memang bisa berbahaya, tapi dengan kadar tertentu, dan teman saya tambahkan “lagipula kita ga mungkin makan sebanyak itu MSG dalam sehari�. Sebagai bahan berbahaya, menurut teman saya, MSG masih jauuh lebih kecil pamornya ketimbang merkuri atau teflon dll, jadi baginya membatasi konsumsi MSG itu tidak perlu.

Masih tentang penelitian dan MSG, saya juga baca tulisan di kompasiana yang membahas bahwa MSG sebenarnya tidak berbahaya. Si penulis memperkuat bahasannya dengan deretan hasil-hasil penelitian ilmiah, skala internasional pula. Fyuh, membingungkan kan?

ini juga sejalan dengan kata-kata ustadz di sebuah kajian. Ustadz bercerita, ada sebuah hasil penelitian ilmiah yang mengatakan bahwa anak yang lahir dari ibu yang lesbian ternyata memiliki k
ecerdasan yang lebih tinggi dari ibu normal. Ustadz bilang “makanya kita ini jangan selalu percaya sama penelitian, lihat saja profesor di harvard, kebanyakan yahudi semua�. Begitu kata ustadz.


Yah, ini semua yang muncul, lari-larian, guling-gulingan di kepala saya waktu membaca QED 31 ini. Menarik banget deh kalo ngomongin penelitian. Ada lagi satu hal yang juga sangat saya suka dari kasus ini. Di sana ada kata-kata Loki, seorang ilmuwan, lulusan MIT
“menurut saya semua ilmuwan sebenarnya tidak berniat jahat. Tapi, mereka harus menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat dalam bentuk dana atau campur tangan pihak lain�

Pendapat Loki ini dibantah oleh profesor dengan lugas sekali “’menghasilkan uang itu paling penting’, ‘bekerja hanya demi hidup’, atau ‘walau bodoh, asal sepenuh hati tidak masalah’. Bayangkan di tengah masyarakat yang menganut nilai-nilai seperti itu muncul dokter dengan prinsip yang sama. Kau bilang, para ilmuwan tergoda berbuat jahat akibat pengaruh masyarakat. Kalau terus berpikir begitu, kelak akan muncul dokter yang berpikir ini semua gara-gara masyarakat. Kegelapan akan tetap ada. Tapi, alangkah baiknya kalau kalian bisa bertahan supaya tidak terseret ke dalamnya�.

link terkait
review buku pak iwan
tulisan di kompasiana

~komen di review aja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s