Sudah Beberapa Jam


Sudah beberapa jam saya duduk di depan pc. Tapi belum ada satu katapun yang saya ketik di lapang dokumen ini.

Ceritanya saya diberi tugas oleh seseorang yang berada dalam posisi yang memang berhak memberi penugasan. Sebut saja dia bos saya. Tugasnya hanyalah membuat tulisan mengenai topik tertentu, dengan embel-embel “dalam persepsi saya� di belakangnya.

Sepertinya tugas ini diberikan dalam rangka evaluasi. Si bos ingin mengevaluasi saya. Saya pernah bertanya pada orang lain, kira-kira apa sebab seorang bos menyuruh anak buahnya melakukan tugas tertentu. Orang tsb menjawab, kemungkinan karena si penerima tugas dirasa kurang dalam hal tsb. Melihat dari tema tugas yang diberikan, sungguh membuat saya jadi bertanya-tanya, memangnya saya punya salah apa, punya kenakalan apa dalam hal ini.

Sudah beberapa jam saya berusaha merangkai kata. Tapi tak ada satupun yang dapat terlontar.

Banyak hal yang menghalangi saya untuk dapat membuat tulisan ini, banyak hal yang menjadi keraguan saya. Salah satunya adalah topik ini sendiri. Topik yang diberikan adalah sebuah topik yang saya rasa tidak bisa dievaluasi hanya dari sebuah tulisan. Kalau waktu sekolah–di belakang detos–dulu saya pernah belajar tentang pendidikan. Bloom mengkategorikan tujuan belajar dalam 3 domain, kognitif, afektif, dan psikomotor. Jadi, mengevaluasipun harus secara menyeluruh mencakup 3 domain tsb. Kognitif berati perkembangan pemahamannya secara intelektual, afektif terkait dengan penghayatan, sikap, dan nilai-lain, sedangkan psikomotor terkait dengan keterampilan melakukan dan pengamalannya. Dan saya merasa kalau hanya dari tulisan mungkin yang terevaluasi hanya sisi kognitif dan afektif saya saja. Janggal.

Topiknya bukan tentang “sebutkan nama presiden RI dari yang pertama� atau “jelaskan tentang kelistrikan jantung� tapi sebuah topik yang sangat erat kaitannya dengan sebuah pemahaman yang menuntut pengamalan. Kenapa saya berat untuk menulis karena saya merasa tulisan ini akan normatif sekali, teoritis sangat. Saya tahu mestinya begini, idealnya begitu, hal itu pula yang saya pahami, yang saya usahakan terinternalisasi dalam kehidupan saya, dan itu yang akan saya tuliskan. Tapi, bukankah yang lebih penting adalah amal nyata? Bukankah praktik tidak semudah bicara teori?

Maka hal lain yang menghalangi tulisan saya tertumpah adalah kecemasan akan diri sendiri. Ketika tulisan ini selesai, dengan hal-hal ideal dan normatif di dalamnya dan sampai pada kondisi yang menuntut pembuktian. Akankah sejalan antara kata dan perbuatan? Sungguh kecemasan yang kurang perlu diperpanjang, mestinya berdoa dan berikhtiar saja.

Sudah beberapa jam saya berpikir. Tapi makin berpikir, makin saya bertanya-tanya. Ujung-ujungnya saya makin bingung sendiri.

Saya jadi mulai berpikir tentang embel-embel “dalam persepsi saya�. Mulanya saya jelas dengan hal ini, persepsi gitu loh, paham lah. Tapi semakin saya dalami, ko saya merasa jadi bingung, ini output yang diharapkan seperti apa sih? Atau pada dasarnya saya memang tidak paham pertanyaannya?

Akhir-akhir ini saya jadi orang yang kalau ada pertanyaan masuk, dengan jawaban yang bisa luas sekali saya akan validasi dulu apa sebenarnya yang ditanyakan, output jawaban seperti apa yang diharapkan dengan pertanyaan itu.

Pernah suatu hari ada adik kecil bertanya pada saya. Pertanyaannya singkat “mba, menurut mba XXX itu bagaimana?� jawabannya bisa panjang lebar dalam dan tinggi. Saya jawab singkat, superfisial, sambil tanya “memangnya kamu mau tanya apanya?� akhirnya dia tidak balas lagi, waktu ketemu dia bilang “maaf ga kujawab mba, soalnya aku sendiri juga bingung mau tanya apa�. Hm, baiklah berarti tak perlu detail, besok-besok saya jelaskan saja hal umumnya dulu. Ini saya lakukan untuk menghindari kejadian yang dialami seorang ibu yang ditanya anaknya “bunda, sex itu apa?� dan sang ibu pusing tujuh keliling, berusaha menjelaskan coitus dengan bahasa sederhana, sopan, dan secukupnya, ternyata si anak hanya ingin tahu bagaimana dia mengisi form yang ia dapatkan dan ada item isian sex dengan titik dua setelahnya. Hanya perlu male atau female bun, tak usah jauh-jauh.

Teman saya di seberang sana yang tadi saya ceritakan memberi saran “tulis aja serba-serbi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.� Lalu saya beri kemungkinan “kayanya ujung-ujungnya aku curhat nih di tulisan ini�. Teman saya mendukung “bagus lah�. Haha. Terlalu banyak menimbang memang bisa jadi memberatkan keputusan. Apa baiknya alirkan saja demikian adanya?

Sudah beberapa menit jari-jari saya menari di atas keyboard, dan hasilnya malah tulisan ini, sementara lapang yang sudah disiapkan untuk tugas bos saya itu masih polos tanpa huruf satupun.

~Jangan remehkan satu kata, karena ia dibutuhkan untuk memulai sebuah cerita panjang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s