Berdamai Dengan Nama

Ira pernah menulis di blognyaIf there’s a child hate her name so, it was me” dan di tulisan itu saya memberi komen dengan sesadar-sadarnya “entah siapa yang lebih parah, aku juga betul-betul tidak suka dengan namaku”. Ya, saya adalah satu dari (mungkin) sedikit anak-anak yang tidak suka dan tidak bangga dengan namanya sendiri. Dan jikalau saya menyatakan hal ini pada orang lain, maka banyak di antara lawan bicara yang dengan sukarela tidak terpaksa menasihati saya agar tidak berpikir demikian.

Kata shakespeare apalah arti sebuah nama, tapi kata RosuluLLOH SAW nama adalah doa. Ya, nama mestinya menjadi suatu pengejawantahan harapan dan doa orang tua pada anaknya. Dan inilah yang membuat saya tidak menyukai nama saya, karena ia tidak mengandung unsur doa dari orang tua saya untuk diri saya sendiri. Entah, apa maksud orang tua saya memberi nama itu pada saya. Saya tidak pernah bertanya, dan sejauh ini kalau ayah saya bercerita hanya berkisar pada proses kreatif pembuatan nama tersebut. Bukan pada tujuannya.

Saya tidak pernah mengatakannya dengan terang pada orang tua bahwa saya tak menyukai nama ini. Tak sampai hati melakukannya. Meski pernah terbersit saya ingin mengumpulkan uang agar bisa mengurus penggantian nama suatu hari. Ah, dokumen legal saya dengan nama ini sudah banyak, sepertinya baiknya niatan itu diurungkan.

Teman saya pernah bilang “udah bukan masanya buat kita Pe ga pede dengan nama kita sendiri. Ikhlas aja biar berkah”. Yah, sudah 23 tahun saya hidup bersama nama ini. Tidakkah aneh dengan waktu selama itu masih belum menyerah untuk menerima? Ternyata masih, bagi saya. Saya bilang, itu semua perlu proses, dan saya masih berada dalam perjalanan proses itu. Teman sayapun jawab lagi “yang penting terus diusahakan ya, mudah-mudahan nanti sampai pada momennya”.

Ada pula beberapa orang yang masih tidak memandang arti sebuah nama, akibat kelakuan sang pemiliknya. Waktu itu mas ogie bilang “ada yang namanya bagus-bagus, tapi kelakuan penjahat”. Kalau dipikir-pikir bener juga sih. Ada seseorang dengan nama bagus tapi kelakuan penjahat yang lagi sangat ngetrend akhir-akhir, sempat tiap hari disebut-sebut di tivi, sebelum akhirnya tergeser namanya oleh adjie massaid dan sekarang ahmadiyah. Siapa dia? Seseorang pernah bilang, dia tidak pantas dengan namanya yang sekarang, mestinya diganti dengan “laa hasanah, laa mubarokah”.

Itu jadi sedikit pembelaan untuk saya. Jadi semacam percepat proses saya menuju momen penerimaan. Yah, karena berarti yang penting ketimbang saya mengurusi nama adalah memperbaiki diri saya.

Pas banget saya nemu artikel di koran beberapa hari lalu, judulnya ganti nama. Saking menariknya artikel itu, sampai saya minta potongan korannya biar bisa dibawa pulang, soalnya saya baca di rumah orang lain. Karena mau beli juga sudah susah, koran sepekan lalu. Di artikel itu penulis bercerita bahwa banyak orang mengganti namanya dengan alasannya masing-masing. Dia sendiri sempat ganti nama jadi “ke-cina-cinaan” waktu dia dirawat di china selama 2 minggu. Alasannya sederhana, yaitu karena komputer rumah sakit tidak memuat abjad latin.

Si penulis bilang begini “ganti nama atau tidak, tabiat yang ditunjukkan dalam hidup sehari-hari itu mungkin yang lebih penting.” Dia mencontohkannya dengan dirinya sendiri. Si penulis bernama Samuel Mulia dengan nama tengah Budiawan. Tapi dia merasa bertahun lamanya dia bukanlah orang yang berbudi, bahkan mungkin sampai sekarang. Temannyapun pernah bilang “kamu itu adalah angel with devil heart”.

Ada satu pargaraf yang juga sangat menarik, saya kutip saja.

“saya mungkin bisa mengoceh sejuta menit untuk memberi tips dan wejangan yang mulia. Tapi, secantik apapun nama saya, semulia apa pun arti nama saya, seindah apa pun nama panggilan saya, manusia itu akan mengingat perilaku yang saya perbuat dalam hidup ini.”

Ya..saya akhirnya tersadar, sebagus apapun nama, yang lebih penting adalah hati, pikiran dan amalnya. Karena toh kelak nama bukanlah salah satu item hisab kelak. Namun, memang, bila kita sebagai orang tua, perlu memberikan nama dengan sebaik-baiknya sebagai doa kita untuknya. Karena itu adalah salah satu kewajiban orang tua. Tapi jika posisi kita sebagai anak, sebagai objek yang diberi nama, saya pikir, cukuplah itu saya terima, selama tidak mengandung doa yang buruk. Karena kita tidak bisa memesan nama kan? Lebih baik fokus pada islahun nafsi saja.

Apakah ini berarti saya telah sampai pada momen penerimaan itu? Mudah-mudahan iya.

~cerita sedikit

Siangnya saya baca artikel ini ketemu MPers yang bertanya nama asli saya siapa. Saya jawab âlah ludi itu ya nama asliku.â? Ternyata dia selama ini ga percaya ludi itu nama asli. Sorenya saya komen di fb, eh ada MPers lain yang juga bilang kalau dia dan temannya awalnya juga tidak percaya kalau Pemi Ludi itu nama asli. Ealaah..hahaha. Siapa lagi yang ga percaya? Ngacung!

(ngacung doang..saya gatau, lha wong gabisa komen, heheh)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s