Banyak Merasa, Merasa Banyak


Suatu hari saya pernah menulis qn bunyinya begini “Serem sekali kalau kita sampai merasa "telah berbuat banyak". Semoga dihindarkan dari perasaan demikianâ€?. Seorang teman berkomentar (di fb)“yang mengerikan adalah merasa telah makan banyakâ€?. sayapun jawab “justru yang lebih mengerikan lagi adalah tidak merasa telah makan banyakâ€?. yah, pada akhirnya saya menemukan fakta menarik yang ternyata berkaitan dengan jawaban komen saya ini. Sebuah bukti nyata, hehe.

Di suatu hari, saya mengikuti sebuah ujian percobaan. Setiap peserta ujian diberikan makan siang gratis berupa nasi box. Siang itu, saya makan berdua bersama teman saya. Setelah nasi saya habis, saya membatin “wah, ngga nampol nihâ€?. Ya, porsi nasi box itu terasa kurang bagi ruang lambung saya, sepertinya masih muat untuk dimasuki setengah (atau lebih) porsi lagi (haha, parah!). Terasa masih lapar gitu. Tapi ketika saya tanya pada teman saya, dia merasa cukup dengan porsi nasi box kami. Baginya, takaran segitu adalah takaran yang “wajarâ€?. Dan siang itu saya menyadari satu hal, salah satu sebab penting kenapa saya bisa tetap (atau bahkan tambah) gendut adalah karena saya kerap makan dengan porsi yang lebih banyak daripada orang lain, dan saya tidak menyadarinya. Huhuhu. Sungguh mengerikan. Sangat mengerikan.

Fisiologi tubuh kita memang begitu, istilah mudahnya adalah gampang beradaptasi. Salah satunya adalah lambung. Tidak salah jika dulu ada yang bergurau bahwa perutnya adalah perut karet, diisi berapapun tidak akan penuh, karena bisa melar. Hehe. Kaya luffy aja, yang kalau makan perutnya bisa menggembung sampai berkali-kali lipat. Lambung kita memang elastis, meski tidak seelastis luffy si pemakan buah gomu-gomu. Jika kita terbiasa makan dengan porsi tertentu, maka lambung kitapun akan merasa cukup dengan porsi itu. Jika suatu hari kita makan dengan porsi yang lebih sedikit, otomatis lambung kita akan “nagihâ€?, begitupun sebaliknya. Demikianlah penjelasan ilmiah dari bencana yang menimpa saya di paragraf kedua. Ehem..ehem..

Kenapa orang bisa, tetap, atau tambah gemuk? Saya pernah serampangan berteori dari pengamatan subjektif saya (seperti biasa, hehe) dan saya tulis di blog beberapa tahun

sebelum masehi
silam. (biar kesannya gw udah sepuh banget, hoho). Tapi yang pasti, penjelasan ilmiah kenapa berat badan seseorang bisa naik adalah karena asupan kalori yang lebih besar dari kebutuhan.

Sebelumnya, seorang teman senasib-menurut pengakuannya sendiri- pernah menulis di blognya bahwa obesitas telah menjadi epidemi di dunia. Teman senasib itu, tentu saja yang saya maksud adalah senasib dalam urusan berat badan, kalau namanya disingkat jadi Fat Man, alias lelaki gendut. Pas banget ya? Hahaha *info ga penting*. Hal ini menarik sekali buat saya, karena setali tiga uang dengan sebuah bahasan yang sedang saya garap akhir-akhir ini. Tentang penyakit-penyakit mematikan.

Karena obesitas adalah epidemi abad 20 dan 21, maka penyakit-penyakit yang dipicu karena obesitas juga meningkat kejadiannya. Misalnya diabetes, selain juga sudah menjadi epidemi, peningkatan penderita diabetes di seluruh dunia mengkhawatirkan jumlahnya. Bahkan di sebuah buku dikatakan 40 juta orang amerika mengalami pradiabetes (sebuah kondisi dimana sepertiga dari mereka akan jadi diabetes dalam 5-10 tahun). 40 juta sodara-sodara! (itu belum termasuk yang udah menderita diabetes)

Seperti yang tadi sudah dibilang, kenapa orang bisa gemuk jawabannya cuma 1, karena pemasukan lebih besar dari pengeluaran. Kalau ingin kurus ya tinggal merubah salah 1 dari dua pilar penting itu, memperkecil pemasukan, atau memperbesar pengeluaran. Omong-omong tentang ini, saya jadi ingat sms racauan seorang teman beberapa hari lalu “alih-alih mengurangi IMT yang udah lebih dari 30, berat badanku malah naik 2 kg..huhu.. Syahwat perut, susah banget dihindari sii..â€?. waktu itu saya jawab “yaudah kalo syahwat perut susah dihindari, diimbangi aja dengan syahwat olahraga, heheâ€?. Simpel sebenarnya, seimbangkan pemasukan dan pengeluaran. tapi, saya tidak heran kalau ada yang mengomentari tulisan ini dengan “ah teori nih Ludi, praktekin dongâ€?. Hahaha.

Susah memang mengubah kebiasaan. Apalagi PR saya untuk menjadi “manusia normalâ€? sampai 15 kg. Jumlah yang banyak banget kan. PR yang susah bener. Tapi, kalau mengingat risiko apa saja yang membuntuti saya akibat kelebihan berat badan ini, mau tidak mau memang harus dipaksa. Mungkin dengan memulai banyak merasa dan merasa banyak. Tepatnya merasa banyak makan. Merasa banyak pemasukan.


Kegemukan ini harus diakhiri sekarang. SEMANGAAAAAAAT!!

~lebih jauh tentang fenomena, sebab, akibat kegemukan, ataupun mitos terkait peningkatan berat badan. Pokoknya tulisan yang lebih ilmiah lah, akan saya bahas di tulisan lain


baca juga

Kenapa Orang Bisa, Tetep atau Tambah Gendut?

poto diambil dari corbis.com

Advertisements

49 thoughts on “Banyak Merasa, Merasa Banyak

  1. mylathief said: katanya gemuk itu fajtor turunan berpengaruh besara, kan,lud?

    ga juga..buktinya bisa jadi epidemi, kalo faktor keturunan berpengaruh besar berarti nenek moyang kita juga kegemukan semua dong..

    life style lebih berpengaruh

    by, dee (not lud)

  2. zukruf85 said: tp g sesimpel itu aplikasinya..hahaha..buktinya..diriku istiwomah di angka 30 terusss…

    embeeer..
    sama aja dengan mengurangi berat badan..pokoknya teorinya begitu, jangan percaya dengan mitos yang beredar

    hah? 30 kg? bisa-bisa ga boleh donor darah seumur hiduuuup, hehehe

  3. pemikirulung said: embeeer..sama aja dengan mengurangi berat badan..pokoknya teorinya begitu, jangan percaya dengan mitos yang beredarhah? 30 kg? bisa-bisa ga boleh donor darah seumur hiduuuup, hehehe

    30-an..yah batas minimal 35 kg lah..tp kmren smept 34 kg..hiks…iyah g pernah donor darah..kecuali sm nyamuk…

  4. pemikirulung said: ga juga..buktinya bisa jadi epidemi, kalo faktor keturunan berpengaruh besar berarti nenek moyang kita juga kegemukan semua dong..life style lebih berpengaruhby, dee (not lud)

    iya..gaya hidup pastinya berpengaruh.. Komentarku itu tdk menafikan faktor ini… hanya ada orang yg mudah gemuk ada tidak… dengan gaya hidup yg tak jauh beda

  5. cinderellazty said: aku makannya buanyaak (katanya kek tukang becak) tapi tetep segini2 aja gak ngurusin gak gendutin

    ya berarti kalori yang masuk, yang katanya makan banyak itu, semua dihabiskan untuk energi, ga sisa ga kurang, makanya tetap, begitu aja..jangan percaya mitos..

  6. mylathief said: iya..gaya hidup pastinya berpengaruh.. Komentarku itu tdk menafikan faktor ini…

    setelah dipikir-pikir kayanya perlu diperjelas nih

    di komentar awal mas iqbal bilang keturunan berpengaruh besar, saya jawab ga juga, saya bilang life style lebih berpengaruh..jadi..saya juga tidak menafikan faktor keturunan, saya bilang faktor life style lebih besar pengaruhnya, begitu..yah, saya tahu, besar kecil itu relatif..

    ada sebuah sumber yang saya baca bilang, jika orang tua gemuk, kemungkinan anaknya gemuk 40%, berarti 60%nya adalah di luar faktor orang tua. tapi..faktor orang tua sendiri belum tentu gen, bisa juga faktor gaya hidup. contoh sederhananya begini. orang tua yang gemuk, gaya hidup cenderung pada peningkatan berat badan, akan menularkan gaya hidup tsb ke anaknya, langsung maupun tidak. makanya anaknya jadi gemuk juga. jadi si 40% itupun tidak semata-mata genetik kan?

  7. mylathief said: nah, dalam reaktor, ada yang namanya efisiensi reaksi.. konversi reaksi…jangan2 efisiensinya ada yg jelek…konversi makanan mjd energi rendah

    menariiiik..saya suka manakala para blogger menunjukkan core competencenya..bikin kaya bahasan πŸ˜€

    bisa juga gini mas, si makanan belom keserap, udah keburu kebuang lagi, karena efektifitas penyerapannya terganggu, ini bisa terjadi kalo ususnya dipotong..ada kelainan kongenital tertentu yang penyelesaiannya adalah "potong usus" (kesannya horor banget ya) *jadi pengen bahas itu juga di tulisan lain* πŸ˜€

  8. pemikirulung said: ya berarti kalori yang masuk, yang katanya makan banyak itu, semua dihabiskan untuk energi, ga sisa ga kurang, makanya tetap, begitu aja..jangan percaya mitos..

    katanya ahli gizi… karena genetik jiyaaah…
    emang sih ampe nenek2ku sodara2ku ndak ada satupun yg endut doeng2
    ludiii maen yuu

  9. rabytah said: aq suka fotonnya *komenimut

    makan 2x sehari jam 10-11 dan jam 05-06 dan atau 3x sehari namun sayur ijonya banyak..jangan ngemil..jika mengemil, buah asli..kalau masih jadi anak kos bisa enak banget nglakuin ini..kalo kelaparan, ya tidur..haha..C#

  10. aishachan said: yaaaahgimana caraaa,,aku pan bukan anak sana,,ga bsa minjem sepeda donk

    pinjem KTMnya ka suci..yang penting ada KTM ko, gabisa pinjem punyaku meski aku punya 2, soalnya masa iya ada 2 orang pemi ludi pinjem sepeda dalam waktu bersamaan? πŸ˜€

  11. pemikirulung said: pinjem KTMnya ka suci..yang penting ada KTM ko, gabisa pinjem punyaku meski aku punya 2, soalnya masa iya ada 2 orang pemi ludi pinjem sepeda dalam waktu bersamaan? πŸ˜€

    hoooooooooo
    gtuu
    sok aja dirancang,,pas jam sepi,,aku takut jatoh πŸ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s