berbahasa (bukan) kaumnya

Beberapa hari ini saya lagi nulis tentang kesehatan. Tulisan ini diperuntukkan bagi orang umum, sedangkan saya berlatar pendidikan kesehatan. Jadi, disinilah tantangannya, saya harus memastikan tulisan ini “enakâ€? dibaca.

Di awal saya bingung bagaimana saya “mengalirkanâ€? tulisan ini. Mau seperti apa bahasannya, mau bagaimana penjelasannya, mau bergaya apa pemaparannya. Teman saya menyarankan lihat buku-buku kesehatan populer di gramedia. Berhubung saya “malesâ€? beli buku kesehatan yang kaya gitu, ga sempet juga baca-baca di toko buku, sayapun cari pinjaman. Seorang teman bilang dia punya satu buku tentang penyakit epilepsi, “tapi buku itu ga enak banget dibaca Pe, bahasanya susahâ€?, tambah teman saya. Nah itu dia kekhawatiran saya, tulisan ini terasa “beratâ€? dan sulit dimengerti bagi para pembaca.

Kalau ketemu istilah yang agak susah, saya tanya teman saya anak FK UGM. Karena banyak juga kata-kata seperti itu, yang saya susah menerjemahkannya ke bahasa yang lebih familiar. Dan mendiskusikan hal ini ternyata menarik, kadang bikin ketawa-ketawa. Kata pertama yang saya tanya adalah “penyulitâ€?. Kata kedua adalah droplet. Saya menerjemahkan droplet dengan muncratan bersin, jelek banget kan? Tapi temen saya bilang “percikan air liurâ€?, owh, manis sekali bahasanya. Kenapa saya tidak terpikir kata percikan ya? Kalau di buku dari depkes diterjemahkan dengan “percikan dahakâ€?. Siplah bungkus.

Kemudian sampai pada permasalahn sumbatan pembuluh darah di jantung yang bisa menyebabkan matinya sel-sel di jantung. Saya minta teman saya melanjutkan sebuah kalimat, oksigen digunakan otot jantung untuk ….. Di sumber yang saya baca kata yang digunakan adalah respirasi. Saya merasa istilah respirasi kurang tepat, meski benar, tapi agak kurang spesifik, khawatir orang akan bingung ko otot bisa napas? Tapi istilah yang lebih tepatnya yaitu “perfusiâ€? terasa lebih langitan lagi. Teman saya jawab “lha? emangnya digunakan untuk apa? Metabolisme sel? Kalimatnya ngga awam jugaâ€?, dia tambahkan “orang umum ga perlu dijelaskan tentang tingkat seluler, mereka taunya telepon seluler, hihihiâ€?. Pada akhirnya saya bilang ke dia “aku tau din, oksigen digunakan otot jantung untuk TETAP HIDUPâ€?. Hehehe. Yah begitu saja. Intinya kan kalo oksigen kurang otot bisa mati. Titik.

Ada satu bahasan yang kepasbangetan pernah saya post di multiply yaitu tentang kanker. Saya buka kembali entry blog itu, berharap agar saya bisa copas saja tulisan di sana saja, tak perlu menulis ulang. Tapi saya akhirnya sadar, ternyata tulisan singkat tentang kanker itu ternyata bahasanya juga kurang enak, padahal saya sengaja tulis untuk dibaca orang umum. Duh, jaman itu, kenapa ngga kerasa ya? Namun (sepertinya) banyak juga orang yang seneng dengan adanya tulisan itu. Hehe. Jangan-jangan mereka basa-basi padahal sebenernya kurang mudeng? Dududu.

Ternyata berbahasa yang sesuai dengan bahasa kaumnya tidak mudah ya. Apalagi kalau kita memang sudah terbiasa menjadi kaum yang berbeda. Sungguh tantangan tersendiri.

Saya merasa jadi banyak sekali belajar selama menjalani proses ini. (deuh, pake kata proses, kesannya..) Yah, menuliskan sebuah pengetahuan atau ilmu memang tidak main-main. Saya jadi banyak buka buku dan browsing agar apa yang saya tulis adalah hal yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan, setidaknya sesuai dengan ilmu pengetahuan yang manusia tahu sekarang ini (mana tau ke depannya akan berkembang lagi). Beda dengan tulisan-tulisan curhat atau memoar saya yang biasa, meski seringkali untuk menelurkan sebuah blog saya juga pake browsing dan buka buku sih, tapi pokoknya nulis tentang kesehatan ini benar-benar membuat saya merasa “belajarâ€? dalam makna yang saya pahami waktu sekolah dulu.

Sayapun jadi kangen pengen posting tulisan tentang kesehatan lagi di blog. Padahal alasan bikin blog keperawatan beberapa tahun lalu kan itu, pengen diisi tentang konsep penyakit (dll). Tapi kemudian berhenti ngga pernah nulis tentang itu lagi, bahkan mungkin bisa dibilang memang tidak pernah benar-benar dimulai. Mungkin karena effortnya yang besar. Padahal dengan effort besar itu, saya juga dapat banyak keuntungan darinya. Hu..diisi lagi ah blog itu..

~kalau udah banyak isinya pada main kesana ya..soalnya tidak berencana di crosspost kesini. Biar fokus blog-blognya. MP kan udah terlanjur isinya memoar, curhat, dan racauan penting. Hohoho.. Tapi bukan sekarang, masih belum sempet *soksibuk.com*

Advertisements

32 thoughts on “berbahasa (bukan) kaumnya

  1. adiraf22 said: Ditunggu:)

    hooh di..
    ngerasain itu pernah.. pas menyampaikan hal yang bahasa-nya sebenere berat.. tapi musti diistilahke biar biar bisa sante..
    di MP juga pernah.. bahas hal yang berat tapi musti bisa dibikin seringan mungkin.. hohoho
    ampe pernah bikin jurnal singkat gara2 itu..hehe

  2. jaraway said: buatq berat,,, buat orang lain ringan..hahaha

    ah kamu merendaaaah :p

    kalo gitu buatku sangat berat ya jar

    btw, kalo buat orang lain ringan kenapa kamu mesti meringankan? mestinya ga perlu dong. nah ya, ketauan ngeles ya :p

  3. pemikirulung said: ah kamu merendaaaah :pkalo gitu buatku sangat berat ya jarbtw, kalo buat orang lain ringan kenapa kamu mesti meringankan? mestinya ga perlu dong. nah ya, ketauan ngeles ya :p

    wekekeke..

    aku dah ga ngelesi sekarang di..=p

  4. pemikirulung said: Sayapun jadi kangen pengen posting tulisan tentang kesehatan lagi di blog. Padahal alasan bikin blog keperawatan beberapa tahun lalu kan itu, pengen diisi tentang konsep penyakit (dll).

    jurnal yang seperti ini juga sudah bermanfaat kok, Te. ^^8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s