Fight Or Flight?

Menjalani kehidupan bisa dibilang juga sedang menjalani sebuah proses belajar. Semua hal yang kita temui selama hidup memang bisa membuat kita belajar, tergantung dari kitanya, bisa mengambil pelajaran atau tidak. Orang lain yang kita temui dalam hidup, adalah sarana belajar atau mungkin guru-guru kehidupan kita. Tidak melulu dengan nasihat, didikan, arahan, atau pengajaran tertulis, seseorang bisa membuat orang lain belajar, dengan cara yang amat sederhana yang bahkan mungkin tak disadarinya.

Dua hari lalu saya belajar lagi. Dan menyadarinya adalah hal yang sangat menyenangkan. Saya belajar dari dua orang yang baru saya temui untuk pertama kalinya. Tentang menghadapi kenyataan hidup.

Saya bercerita pada dua orang yang saya temui itu bahwa seumur hidup, saya hanya pernah merasakan tinggal bersama orang lain (di luar keluarga) selama sebulan. Waktu itu saya ngekos di daerah bogor, karena kuliahnya disana. Kosan saya itu adalah sebuah kamar yang ditinggali beberapa orang sekaligus. Waktu itu, saya tinggal berlima dengan teman-teman kuliah seangkatan.

Saya bercerita, meski cuma sebulan, tapi tinggal bersama orang lain rasanya tidak melulu enak. Sering juga ada friksi di antara kami. Yah, jangankan dengan orang yang saya baru kenal selama kuliah, bahkan ada juga yang baru akrab selama profesi, dengan kakak kandung saja di rumah kadang-kadang suka berantem, hehe. Selama ngekos itu, kalau perasaan sudah tidak enak, rasanya jadi tidak betah dan sakau pengen pulang. Ada teman saya yang tipe nekat, kalau mau pulang ya pulang, meskipun sudah maghrib dan besok harus dinas pagi, meski di luar hujan deras, dia akan tetap pulang. Saya juga pernah, lagi “malesâ€? ketemu orang di kosan, abis dinas pulang aja, bogor-pasar rebo ngga terlalu jauh ko.

Sebenarnya dulu juga pernah, berada dalam keadaan harus “hidupâ€? bersama orang lain. Meski bukan tinggal bersama dalam satu rumah, tapi hampir bisa dibilang begitu juga. Selama 10 pekan saya harus berkelompok dengan belasan orang lain dan setiap hari berkumpul di sebuah kontrakan yang dijadikan posko. Teman-teman kuliah, tapi banyak yang beda suku, beda usia, beda agama, beda pekerjaan dan jabatan pula (gabungan reguler dan ekstensi). Bisa dibilang hampir semua waktu produktif saya dihabiskan bersama mereka. Pagi-pagi berangkat, kumpul di posko, ba’da maghrib, kadang malem baru pulang, besok paginya sudah sampai di posko lagi. Begitu terus, selama 10 pekan, seringkali weekend juga tetap datang ke posko.

Maka friksi adalah sebuah keniscayaan. Awal-awal kebersamaan rasanya seneng-seneng aja, bercanda bareng, ngobrol bareng, diskusi bareng. Tapi beberapa hari berlalu, semakin mengenal satu sama lain, semakin tahu pula asam manis dari masing-masing orang. Konflikpun dimulai, dinamika kelompok mulai terasa. Puncaknya pada pekan ke-8. Suasana posko cukup memanas. Bahkan ada beberapa yang menunjukkan ketidaksukaannya pada yang lain dengan caranya yang frontal. Saya sendiri sudah tidak betah betul. Ingin rasanya segera sampai di hari terakhir pekan ke 10.

Di satu perjalanan pulang, sambil menunggang saya bersyukur dalam hati, untung cuma 10 pekan, tidak seumur hidup saya harus menjalaninya. Saya bersyukur, akhirnya saya akan berpisah dengan si ini dan si itu tidak lama lagi. Tapi kemudian saya membatin, ini cuma kuliah kelompok yang waktunya singkat, lantas bagaimana dengan pernikahan? Kebersamaan ini ada batas yang tidak lama, tapi kalau pernikahan, maka saya harus “bersamaâ€? dengan seseorang yang juga orang lain buat saya– yang pastinya akan juga berkonflik dengan saya, yang pastinya punya 1 atau 2 sifat yang tidak saya suka– dan itu untuk waktu yang setiap orang pasti berharap â€?until death divorce themâ€?, ya kan? [Memikirkan hal ini bikin gw makin ga kepengen nikah. Hahaha.] Kalau kata seorang teman yang saya curhatin dengan ketidakbetahan saya ini menjawab “gimana kalo kerja Di? Kalo ada orang yang ga “enakâ€?, mau ga mau kita harus ketemu dengan dia setiap hari, dan itu bisa bertahun-tahun, bahkan seumur hidupâ€? (kira-kira begitu, cetlognya ilang)

Nah, disinilah saya belajar. Waktu mendengar cerita saya ini, tentang pengalaman saya waktu ngekos. Seorang menjawab “itu yang kita alami di tahun pertama kakâ€?. Kepasbangetan, dua orang anak yang saya temui adalah alumni boarding school. Dia bilang bahwa dia juga merasakan hal yang sama dengan saya di tahun pertama tinggal di asrama. Dan waktu itu, ketika mereka tidak betah, ketika mereka merasa kesal dengan 1 atau 2 orang lain di asrama, mereka bisa pulang (atau setidaknya menghibur diri dengan bayangan mereka akan pulang nantinya). Tapi di tahun kedua dan ketiga, mereka sadar bahwa “pulangâ€? bukanlah sebuah penyelesaian. “tapi setelah tahun kedua dan ketiga kak, kita belajar untuk menghadapinya, karena kita akhirnya sadar kalo kita ga mungkin menghindar dari mereka. Karena kita akan mesti ketemu mereka terus, jadi mau ga mau ya membiasakan diri untuk bisa bergaul dengan mereka jugaâ€?. “tapi ka, kita-kita anak boarding school, jadi lebih bisa menghargai orang lain, karena kita udah berpengalaman hidup bareng-bareng dengan berbagai macam orangâ€?, tambah orang kedua.

Mendengar mereka bilang begitu saya jadi tersadar. Bukankah sekali kita lari, maka kita jadi akan terus lari (kabur, red)? Kuncinya adalah hadapi, belajar untuk mengatasinya. Saya juga jadi teringat dengan kata-kata seorang kakak kelas, yang jadi clinical instructor (CI) saya waktu praktik di sebuah RS. Di tempatnya bekerja dia punya supervisor yang galaknya minta ampun. Marahnyapun tidak beradab, menurut saya. Dari perawat sampai OB pernah kena amukannya. Saya juga pernah dibentak-bentak di depan umum olehnya, untuk hal yang sebenarnya bukan sebuah kesalahan. Saya mikir, kasian betul orang-orang yang jadi bawahannya. Kalau saya hanya akan merasakan terornya selama 2 pekan saya praktik disana. Tapi buat pegawai disitu, setiap hari, selama mereka masih bekerja disana, dan selama si T-rex itu masih jadi supervisor. Sayapun jadi gundah, khawatir akan bertemu dengan orang seperti itu juga kalau saya nanti bekerja. Tapi si CI bilang, “yang namanya kerja, pasti ada aja orang-orang yang ngga “cocokâ€? dengan kita pemâ€?.

Karena kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Karena kita juga tidak selalu bersama dengan orang-orang yang kita harapkan. Maka lari kemanapun rasanya sia-sia karena tidak mustahil kita akan menemukan lagi masalah serupa. Jadi ketimbang terus berlari menjauhinya, sudah saatnya kita berbalik dan memulai untuk belajar mengatasinya. Juga belajar untuk ikhlas dan ridho dengan segala ketentuan yang ALLAH SWT tuliskan atas diri kita.

Hey, bukankah di atas tadi sudah saya tulis bahwa menjalani kehidupan bisa dibilang juga sedang menjalani sebuah proses belajar? Jadi, yuk ah belajar lagi.

~terimakasih untuk orang-orang di sekitar saya, yang memberikan pelajaran-pelajaran untuk pemi ludi yang bodoh ini dalam menjalani kehidupannya

Advertisements

29 thoughts on “Fight Or Flight?

  1. 5 tahun ngekos. hampir satu kamar sendirian terus. tapi belum tentu gak ada friksi lho. kan ada penghuni kamar-kamar lain. :d

    belakangan merasakan menjadi pengamat itu menyenangkan.

  2. topenkkeren said: 5 tahun ngekos. hampir satu kamar sendirian terus. tapi belum tentu gak ada friksi lho. kan ada penghuni kamar-kamar lain. :dbelakangan merasakan menjadi pengamat itu menyenangkan.

    iyalah..friksi itu niscaya

    dari dulu saya sudah menggilai aktivitas mengamati, hehehehe

  3. topenkkeren said: 5 tahun ngekos. hampir satu kamar sendirian terus. tapi belum tentu gak ada friksi lho. kan ada penghuni kamar-kamar lain. :dbelakangan merasakan menjadi pengamat itu menyenangkan.

    betul, jalan satu2nya hadapi, hehe
    aku juga kost dari tahun 92-96, lalu pas kuliah lagi 99 s/d menikah, itu semua bener2 dengan begitu banyak friksi, hehe seru lah… apalagi di kantor huihihihi nggak pernah absen deh… namanya juga manusia semua kan punya pemikiran masing2 ya…

  4. topenkkeren said: 5 tahun ngekos. hampir satu kamar sendirian terus. tapi belum tentu gak ada friksi lho. kan ada penghuni kamar-kamar lain. :dbelakangan merasakan menjadi pengamat itu menyenangkan.

    wew? ganti judul? gak jadi larilari? ;))

  5. topenkkeren said: 5 tahun ngekos. hampir satu kamar sendirian terus. tapi belum tentu gak ada friksi lho. kan ada penghuni kamar-kamar lain. :dbelakangan merasakan menjadi pengamat itu menyenangkan.

    empat tahun kuliah ngontrak terus. Sekamr berdua trs. Saling ngerti. Mengetahui bahwa bgitulah memang tipenya, akan memberikan pemakluman.

  6. topenkkeren said: 5 tahun ngekos. hampir satu kamar sendirian terus. tapi belum tentu gak ada friksi lho. kan ada penghuni kamar-kamar lain. :dbelakangan merasakan menjadi pengamat itu menyenangkan.

    intinya mah tentang ‘menghadapi, bukan lari’. Tapi ini tulisan bisa jadi sepanjang ini… Wews. Gimana cara ngembanginnya sih Di? (gw jadi inget tulisan gw di FB judulnya tanpa baking powder, hehe)

  7. topenkkeren said: 5 tahun ngekos. hampir satu kamar sendirian terus. tapi belum tentu gak ada friksi lho. kan ada penghuni kamar-kamar lain. :dbelakangan merasakan menjadi pengamat itu menyenangkan.

    setuju banget… sekolah kehidupan…

  8. topenkkeren said: 5 tahun ngekos. hampir satu kamar sendirian terus. tapi belum tentu gak ada friksi lho. kan ada penghuni kamar-kamar lain. :dbelakangan merasakan menjadi pengamat itu menyenangkan.

    kalo aku, karena lelaki…friksi terbesar adalah hidup dengan perokok dan suka bikin gaduh..C#

  9. topenkkeren said: 5 tahun ngekos. hampir satu kamar sendirian terus. tapi belum tentu gak ada friksi lho. kan ada penghuni kamar-kamar lain. :dbelakangan merasakan menjadi pengamat itu menyenangkan.

    aku 5 tahu ngkos diwisma yg berbedA2.. sekamar berdua, dengan serumah yg isinya macam2 orang.. banyak friksi memang, namun perbedaan mengajarkan nilai2 untuk bisa memahami perbedaan tersebut..

    yah, walopun sering jd destroyer dimana2.. kekekke

  10. mylathief said: empat tahun kuliah ngontrak terus. Sekamr berdua trs. Saling ngerti. Mengetahui bahwa bgitulah memang tipenya, akan memberikan pemakluman.

    luar biasa, lalu kenapa kalian tidak menikah saja? saling ngerti kan salah satu kunci sukses sebuah pernikahan. hahaha

  11. srisariningdiyah said: lebih banyak lagi dibanding di kantor, tapi kan engga harus ketemu tiap hari dan interaksi langsung hehe kalo ada apa2 tinggal tendang, delete :)) resikonya nggak sebanding kalo hubungan di kantor ๐Ÿ˜€

    iya betuuull…jadi friksi mp harusnya jangan dijadikan alasan cancel akun ya, hehe, lha wong ga harus ketemu tiap hari ko, bahkan kalo ketemupun mestinya masih bisa dimenej ๐Ÿ˜€

  12. akuai said: intinya mah tentang ‘menghadapi, bukan lari’. Tapi ini tulisan bisa jadi sepanjang ini… Wews. Gimana cara ngembanginnya sih Di? (gw jadi inget tulisan gw di FB judulnya tanpa baking powder, hehe)

    itu karena gw banyak omong banyak cerita, jadi nulispun pasti jadinya panjang..gw malah pengen belajar nulis yang singkat-singkat aja i

    belum baca note itu

  13. bleruangke said: kalo aku, karena lelaki…friksi terbesar adalah hidup dengan perokok dan suka bikin gaduh..C#

    iya..kasian aku sama laki-laki perokok pasif, tapi aku lebih kasian ke anak-anak perokok, yang terpaksa menghisap asap rokok bapaknya..yang aku gemes adalah, kenapa ibunya mau nikah sama bapaknya yang perokok itu..

    bikin gaduh gimana fat?

  14. pemikirulung said: iya betuuull…jadi friksi mp harusnya jangan dijadikan alasan cancel akun ya, hehe, lha wong ga harus ketemu tiap hari ko, bahkan kalo ketemupun mestinya masih bisa dimenej ๐Ÿ˜€

    hahaha aku sih ketawa aja ngeliat banyak yang cancel akun gara2 friksi aja… sensinya mesti di menej, eh tapi orang kan beda2 ya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s