Ini Suamiku Lho


Tingkatan terendah ukhuwah adalah salamatus shadr (bersihnya jiwa) dari perasaan hasud, membenci, dengki dan sebab-sebab permusuhan/pertengkaran. Di sumber lain mengatakan tingkatan terendahnya adalah bersih hati dan berbaik sangka (husnudzhon). Saya sendiri tidak tahu bagaimana sebenarnya kecenderungan hati manusia, berbaik sangka atau buruk sangka. Tapi mengingat fitrahnya hati itu bersih, maka seharusnya cenderung pada hal yang baik. Namun, yang sering saya lihat justru kebanyakan suudzhon. Buruk sangka duluan munculnya. Entah. cmiiw.

Mungkin karena ada setan yang senantiasa mengiringi manusia yang membisikkan ke dalam dada kita, manusia, was-was agar kita tergelincir untuk melakukan perbuatan keji, makanya kebanyakan manusia lebih cenderung pada suudzhon. Omong-omong tentang suudzhon dan was-was, saya selalu teringat pada kisah RosuluLLOH SAW yang terdapat di sebuah hadis. Kisah tentang beliau yang berjalan berdua dengan istrinya Shofiyah. Ada yang pernah dengar?

Alkisah suatu hari Shofiyah yang mengunjungi Nabi shallallahu âalaihi wa sallam yang saat itu sedang iâtikaf. Karena sudah malam, RasuluLLOH SAW keluar bersama istrinya tsb untuk menemaninya pulang. Di tengah jalan, Nabi shallallahu âalaihi wa sallam berpapasan dengan dua orang Anshor. Ketika mereka berdua melihat Nabi shallallahu âalaihi wa sallam, jalan berduaan dengan wanita malam hari begitu, mereka kemudian berjalan menjauh cepat-cepat. Rasulullah shallallahu âalaihi wa sallam pun berjalan menyusul mereka, dan berkata,


âHendaklah kalian pelan-pelan saja jalannya. Ini adalah Shofiyah binti Huyay (istri Nabi shallallahu âalaihi wa sallam).â? Mereka berdua pun lantas mengatakan, âSubhanallah (Maha Suci Allah), wahai Rasulullah.â? Beliau lantas bersabda, âSesungguhnya syaithon mengalir dalam diri manusia di tempat mengalirnya darah. Aku sungguh khawatir jika kejelekan telah merasuk ke dalam hati-hati kalian.â? (HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175, dari Shofiyah binti Huyay)


Kalau ustadz yang mengisahkan pada saya menerjemahkan, 2 orang anshor itu bilang bahwa sebenarnya mereka tidak curiga atau berprasangka pada seorang RosuluLLOH SAW. Tapi RosuluLLOH SAW merasa perlu menyampaikan apa fakta sebenarnya, karena syetan bisa saja membisikkan hal buruk yang akan membuat 2 orang anshar itu berpikir yang tidak-tidak. SubhanaLLAH. Kisah yang tersimpan di memori jangka panjang saya.


Sebenarnya islam mengajarkan satu hal yang begitu penting pada kita, tabayyun. Jika sudah berprasangka, atau jikapun belum, baiknya mengecek fakta yang terjadi pada ybs. Jadi tak ada lagi prasangka, tak ada lagi tuduhan tidak berdasar, seorang muslim bisa terjaga kehormatannya dari hal-hal buruk tersebut. Jika saja semua ini dijalankan, betapa kuatnya ukhuwah ini, betapa manisnya persaudaraan kita ya.

Kalau anda, pernah mengalami kejadian seperti sahabat anshar? atau seperti RosuluLLOH SAW?

belajar husnudzhon dan tabayyun lagi yuu..


~4 paragraf saya cut, dan memutuskan untuk menulisnya sampai disini saja, buat refleksi diri saya saja

Advertisements

28 thoughts on “Ini Suamiku Lho

  1. carrotsoup said: senangnyaaaaaa…. 2 kali di jazakallohin pemikirulung

    (biasanya ada landasan kenapa menulis begini..latar belakang)

    kalau kita sering disuudzoni oleh orang2, kita perlu mencurigai…jangan2 memang begitulah keadaan kita

  2. mylathief said: (biasanya ada landasan kenapa menulis begini..latar belakang)kalau kita sering disuudzoni oleh orang2, kita perlu mencurigai…jangan2 memang begitulah keadaan kita

    ehehe..senangnya sudah dikenal..
    betul mas, 4 paragraf yang saya cut itu menjelaskan pemicu saya nulis ini, tapi setelah ditimbang-timbang, ga perlu lah

    gimana bisa tau kalo kita sering disuuzoni? soalnya yang suuzon kan biasanya ga bilang-bilang, hehe

    btw, itu kata siapa mas?

  3. mylathief said: (biasanya ada landasan kenapa menulis begini..latar belakang)kalau kita sering disuudzoni oleh orang2, kita perlu mencurigai…jangan2 memang begitulah keadaan kita

    kata saya..he he

    begini…ada orang yg sering banget dihusnudzoni, tp di sisi lain ada orang yg sering disuudzoni…

    seringnya, orang menentukan prasangka itu dr akumulasi sikap2 orang yg ia prasangkai itu

  4. mylathief said: seringnya, orang menentukan prasangka itu dr akumulasi sikap2 orang yg ia prasangkai itu

    memang begitu ko..salah satu hal yang mempengaruhi persepsi adalah pengalaman masa lalu (ah, jadi inget tulisan kemaren yang belom kelar, kan lagi bahas persepsi terus mood saya kabur-kaburan)

  5. jaraway said: trus ga jadi dipublish..padahal aku sependapat ama yang ludi tulis ntu

    hehe, pas banget nih dengan ulasan ditempatku tantang prasangka. Prasangka kepada orang yang shalih memnag harusnya prasangka yang baik. Trsu kapan kita boleh berprasangka buruk, nih aku titip ya:
    http://subhanallahu.multiply.com/journal/item/111/Antara_Pamrih_dan_Gayus

    Ada, loh su’udzhon yang diperbolehkan, yaitu prasangka yang berlandaskan alasan yang jelas. Memang tidak semua pejabat begitu. Tapi kita lihat lagi kan…, pejabat apa dulu. Pejabat BUMN mungkin yah, tapi klo pejabat-pejabat yang bisa kita hitung nilai take home pay-nya yang halal, ya tentu saja lainlah… Apalagi yang kita bicarakan ini saja cuma pegawai rendahan, seperti Gayus. Pantaslah kita, bahkan aparat penegak hukum untuk berprasangka buruk terhadap mereka yang jelas-jelas bisa dihitung kekayaan yang diterimanya secara halal.

    Su’udzhon atau buruk sangka secara umum memang dilarang:
    "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa." (Al-Hujurat: 12)"

    Nah, perhatikan ayat itu, cuma disebut sebagian saja kan?
    Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka dan tidak mengatakan agar kita menjauhi semua prasangka. Karena memang prasangka yang dibangun di atas suatu qarinah (tanda-tanda yang menunjukkan ke arah tersebut) tidaklah terlarang. Hal itu merupakan tabiat manusia. Bila ia mendapatkan qarinah yang kuat maka timbullah zhannya, apakah zhan yang baik ataupun yang tidak baik. Yang namanya manusia memang mau tidak mau akan tunduk menuruti qarinah yang ada. Yang seperti ini tidak apa-apa. Yang terlarang adalah berprasangka semata-mata tanpa ada qarinah. Inilah zhan yang diperingatkan oleh Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam dan dinyatakan oleh beliau sebagai pembicaraan yang paling dusta. (Syarhu Riyadhus Shalihin, 3/191)

    Zhon/prasangka yang diperingatkan dan dilarang adalah tuhmah/tuduhan tanpa ada sebabnya. Seperti seseorang yang dituduh berbuat fahisyah (zina) atau dituduh minum khamr padahal tidak tampak darinya tanda-tanda yang mengharuskan dilemparkannya tuduhan tersebut kepada dirinya. Dengan demikian, bila tidak ada tanda-tanda yang benar dan sebab yang zahir (tampak), maka haram berzhon yang jelek.

    Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menyebutkan dari mayoritas ulama dengan menukilkan dari Al-Mahdawi, bahwa zhon yang buruk terhadap orang yang zahirnya baik tidak dibolehkan. Sebaliknya, tidak berdosa berzhon yang jelek kepada orang yang zahirnya jelek. (Al Jami’ li Ahkamil Qur`an, 16/218)

    Dimungkinkan pula, kata Al-Qadhi `Iyadh rahimahullahu, bahwa zhon yang dilarang adalah zhon yang murni /tidak beralasan, tidak dibangun di atas asas dan tidak didukung dengan bukti. (Ikmalul Mu’lim bi Fawa`id Muslim, 8/28)

    Nah, bagaimana? tentu saja kita pantas berburuk sangka kepada orang-orang yang memang layak untuk diburuksangkakan….

  6. subhanallahu said: tentu saja kita pantas berburuk sangka kepada orang-orang yang memang layak untuk diburuksangkakan….

    jazakaLLAH khoiron atas pengayaannya pak..

    tapi tulisan ini memang membahas tentang husnudzhon pada saudara, atas dasar ukhuwah, karena memang pemicu dibuatnya tulisan ini karena melihat seorang saudara, bukan dari contoh seperti yang bapak bilang

    nice comment eniwei

  7. berry89 said: ya ituuu.. Shofiyaah 😛

    apa hubungannya ama suami ??

    suka sekali dengan kisah di atas..

    ludi, klo ada yang diem aja padahal udah banyak yang berprasangka ke orang itu, itu gimana ya? jadi maksudnya, si orang itu, membiarkan aja orang mau berprasangka yang aneh2..die demen gtu ceritanya

  8. deraisa said: apa hubungannya ama suami ??suka sekali dengan kisah di atas..ludi, klo ada yang diem aja padahal udah banyak yang berprasangka ke orang itu, itu gimana ya? jadi maksudnya, si orang itu, membiarkan aja orang mau berprasangka yang aneh2..die demen gtu ceritanya

    tet tot..tidak ada hubungannya..hehe

    kita yang tau bahwa banyak yang berprasangka ke dialah yang bertanggung jawab menasihati..kasih tau aja kisah ini, RosuluLLAH SAW aja klarifikasi ko, bahkan sebelum ada prasangka dan berita buruk yang menyebar 🙂

  9. pemikirulung said: kita yang tau bahwa banyak yang berprasangka ke dialah yang bertanggung jawab menasihati..kasih tau aja kisah ini, RosuluLLAH SAW aja klarifikasi ko, bahkan sebelum ada prasangka dan berita buruk yang menyebar 🙂

    subhanalloh..siap! segera dilaksanakan!

    ini juga berlaku untuk ludi ke ides ya..saling mengingatkan ya di.. 🙂

  10. deraisa said: ni juga berlaku untuk ludi ke ides ya..saling mengingatkan ya di.. 🙂

    insya ALLAH..duh..itulah budaya yang harus bener-bener kita jalankan ya..jadi inget nidzhamul usar :)..sama-sama..ingatkan aku juga ya des

    baca
    ini juga deh, hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s