Mencari Letupan Yang Hilang

Seperti yang telah kita ketahui bersama, perang tarif pulsa masih berlangsung. Bahkan kini bukan hanya perang tarif, tapi perang iklan. Satu sama lain saling menuduh, bahwa yang lain berbohong. Saya mah ngga ikut tuduh-tuduhan begitu. Tapi saya pernah dibuat melongo karena melihat sebuah iklan yang begitu “menyerang”. Ckckck. Orang Indonesia sekarang bikin iklannya sindir-sindirannya tajem ya?

Sebagai seorang pengguna, saya menonton saja dari kejauhan. Tak ada minat ganti provider. Karena sudah beberapa kali ganti nomer secara tidak diinginkan, pengennya tidak ganti lagi, kasian para fans, nanti mau hubungin jadi susah. Tidak niat juga nambah nomer, nanti jadi seperti yang diceritain beny and mice di komiknya “talk about hape”, nomer banyak, henpon cuma 1, ribet copot batre sama gonta-ganti sim card.

Keuntungan yang kita dapat adalah tarif jadi murah. Setidaknya yang paling menguntungkan, karena ini yang paling sering (bahkan hampir satu-satunya) saya gunakan adalah tarif sms. Selain tarif murah, ada juga yang memberi bonus yang banyak, bahkan cenderung tidak realistis dan berlebihan.

Ada seorang teman yang menggunakan bonus smsnya dengan cara yang bijak dan bermanfaat. Sebut saja teman saya ini namanya ai. Dia menggunakan bonus sms gratis yang dimilikinya untuk mengsms teman-teman dengan konten tausiyah, berita, resep, dunia penulisan, dan lain-lain saya lupa. Dia bahkan sampai menawarkan siapa-siapa saja diantara temannya yang mau berlangganan dikirim sms dengan konten tersebut, layanannya cuma-cuma. Yaiyalah, secara dia juga sms-nya pake bonus gratisan. Akibatnya, dari 1000 sms gratis yang dia dapat, hampir semuanya dia gunakan.

Saya tidak menggunakan jasa provider yang sama dengan ai, jadi saya tidak punya bonus gratisan sebanyak itu. Tapi saya ikut merasakan manfaat dari bonus tsb, karena saya termasuk pelanggan sms ai, dari konten tausiyah. Bahkan bisa dibilang saya adalah pelanggan paling berharganya, karena dari sms yang dia kirim, saya hampir selalu membalasnya, dengan balasan-balasan beraneka ragam. Dari balasan saya, bisa memicu diskusi, bisa menambah wawasannya, bisa memancingnya untuk berpikir hal yang berbeda, atau bahkan membuat emosi jiwa (barangkali). Sungguh beruntung ai bisa memiliki pelanggan seperti saya. (hahaha, penasaran gw dengan respon ai setelah baca paragraph ini, gw ga rela ente doang yang tenar disini i)

Meski begitu, provider saya juga cukup baik. Saya yang sebenarnya sudah setia sejak dahulu, tapi terpaksa dianggap baru setia beberapa bulan karena nomernya baru ganti, mendapatkan bonus 100 sms tiap hari setelah kirim 2 kali sms. Tidak sebanding memang dengan bonus 1000 sms, tapi itu juga lumayan. Kalau lagi rajin sms, biasanya 100 sms itu akan habis dengan membalas-balas sms yang masuk. Kadang masih ada sisa puluhan, saya gunakan untuk kirim sms tausiyah ke teman-teman. Tapi kalau sedang tidak sms-an seharian, kadang sisa banyak sekali. Nah, akhir-akhir ini begitu.

Beberapa hari terakhir, bonus sms saya hanya terpakai 20an dari 100. Hanya sekitar 1/5nya saja yang terpakai. Berhubung saya adalah anggota kehormatan dari Pasukan Anti Mubazir, rasanya sayang betul ada sms gratis tidak digunakan. Namun biasanya nyadarnya udah malem (emang baru sempet juga), mau tidur cek bonus. Dan saat itu rasanya sudah terlambat untuk sadar. Mau dihabiskan rasanya mata sudah ngantuk, bahkan untuk sekedar mengetik sms dan mengirimkannya ke banyak orang. Apalagi hp yang saya sedang gunakan sekarang hp jadul, jadi ngga bisa langsung kirim ke banyak, harus masukin nomer 1-1, duh, sudah tidak berdaya rasanya. Kalau sudah gitu maka saya suka teringat ai, begini ya rasanya punya sisa bonus sms, berasa kaya punya PR yang belum dikerjain tapi harus segera dikumpulkan.

Pernah juga waktu idul adha kemarin. Saya beli paket sms yang 500 sms ke semua operator harganya Rp 1000. Sengaja, untuk kirim-kirim ucapan hari raya ke teman-teman. tapi, saat malam tiba, ternyata 500 sms itu belum juga habis. Baru terpakai setengahnya.

Akhirnya, insting seorang anggota Pasukan Anti Mubazir bekerja lagi. Gimana nih biar bonusnya tidak terbuang sia-sia?

Akhirnya saya buka buku favorit, kutip kata-kata yang bagus disitu, yang sepertinya bisa dikirim ke banyak kalangan. Dan sayapun kirimlah. Ternyata, hari itu saya mendapat respon yang menarik dari orang-orang yang udah lama tidak saya kirim sms.

“ludii,,makasii tausiyahnya,,udah seabad kayanya gw ga smsan sama lw, kekeke”

“=D wuaah *histeris dapet sms dari ludi lagi, he, Alhamdulillah masih diinget, he ^^v

Jazakillah say *ditunggu yang berikutnya”

Atau ada juga sih yang ngeledek

“kaya Mario Teguh aja lo Di”

Seneng banget rasanya, terutama kalau balasannya seperti 2 pertama yang saya sebut. Puas ketika menyadari bahwa sms barusan dirasa bermanfaat bagi orang lain. Saya jadi inget ai lagi “ai sering dapet sms kaya gini kali ya..seneng banget ya ai”. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, ah tidak juga, ai kan smsnya setiap hari, sehari berkali-kali bahkan. Jadi mungkin orang yang menerima sms dari ai tidak merasa begitu special seperti teman saya yang tadi nerima sms dari saya. Seperti halnya saya sendiri ketika melihat sms ai masuk di inbox “oh, paling tausiyah buat hari ini”, begitu saja, biasa.

Sesuatu dirasa spesial manakala kita menemukannya dengan cara yang tidak biasa. Sebuah kebiasaan mengurangi nilai kespesialan. Bukan berarti sesuatu yang biasa atau sebuah hal yang menjadi kebiasaan itu artinya jelek. Misal begini, kita akan biasa melihat seorang imam masjid sholat 5 waktu berjamaah di masjid. Tapi, jika suatu hari, ada seorang di kampung yang terkenal biang onar, suka judi dan mabuk-mabukan, jangankan sholat, baca bismillah sebelum makan saja tidak pernah, datang ke masjid untuk sholat subuh berjama’ah, mungkin akan ada puluhan mata yang terbelalak. Ada puluhan pandangan yang mengikuti gerak-geriknya selama di masjid, dan ada tangan-tangan yang menjabatnya erat dan senyuman hangat menyambut kedatangannya, lebih dari kedatangan sang imam. Mungkin saja begitu. Apakah sang biang onar yang tumben solat subuh lebih baik dari si imam masjid? Saya tidak bilang begitu, juga tidak bilang sebaliknya. Saya hanya ingin bilang, ada rasa yang melompat ketika sesuatu berjalan dengan tidak seperti biasanya.

Ai pernah cerita, satu lagi temannya berhenti berlangganan smsnya. Alasannya dikemukakan, diforward juga smsnya ke saya, sudah saya hapus, dan saya juga sudah tidak ingat lagi persis redaksionalnya. Tapi saya ingat, di akhir sms orang tersebut bilang mau berhenti dulu biar tidak bosan. Sebuah hal yang menjadi kebiasaan, memang bisa jadi terasa membosankan. Namun saat itu, dan sampai saya menulis inipun, saya tidak menyarankan pada ai untuk menghentikan layanan sms-nya, meski alasan tsb secara tidak langsung mengatakan bahwa menerima layanan sms itu rasanya membosankan.

Kita bisa jadi bosan karena kita tak menemukan lagi nikmatnya. Kita jadi bosan, karena kita tidak lagi merasakan sensasinya. Kita jadi bosan, karena tidak lagi menemukan letupannya.

Saya pikir layanan ini tidak perlu dihentikan, karena ini bisa jadi amal soleh juga. Tapi mungkin, seperti judul sebuah majalah, sekali waktu berjalanlah dengan cara yang tidak biasa. Jadi tidak usah dihentikan, tapi diganti saja salah satu unsur kebiasaan yang ada di dalamnya. Sehingga sesekali terasa tidak biasa.

Begitupun dengan hal-hal lain yang kita jalani dalam hidup kita, kebiasaan-kebiasaan, rutinitas, yang mulai atau bahkan sudah sangat terasa membosankan. Hal-hal yang kita jalani dengan perasaan sekedar menggugurkan kewajiban. Aktivitas yang sudah tidak terasa gairahnya, kegiatan yang sudah tidak terlihat sisi menariknya. Tidak perlu dihentikan, tidak perlu ditinggalkan, tapi ubahlah salah satu unsur kebiasaan di dalamnya, dengan tanpa merusak nilai dan mengubah kebenarannya.

Tidak perlu berhenti berjalan, tidak perlu berhenti melangkah, hanya, sesekali, berjalanlah dengan cara yang berbeda, dengan langkah yang tidak sama.

Agar kita bisa merasakan kembali kespesialannya.

 

 

~Nah nah nah..ini juga tulisan yang endingnya diluar rencana

Advertisements

21 thoughts on “Mencari Letupan Yang Hilang

  1. emm.. Jadi.. Jadi.. Ini tulisan tentang gw, di? Buat gw..? (owch, terharu sangat.. Khekhe)

    *tapi lo ga rela banget kayaknya kalo isi cerita semuanya tentang gw, wkwk :p

  2. akuai said: *tapi lo ga rela banget kayaknya kalo isi cerita semuanya tentang gw, wkwk :p

    yaiyalah, ini kan lapak gw, masa gada cerita tentang gw-nya? hehe, secara lo juga ga pernah bikin tulisan tentang gw disana

  3. akuai said: *tapi lo ga rela banget kayaknya kalo isi cerita semuanya tentang gw, wkwk :p

    eh, judulnya ganti. Lebih oke yg ini di. Hoho.. Ralat juga: gw cuma dapet 1000sms gratis (itupun kalo udah pake pulsa sms senilai rp1000).
    Tiap hari juga ga tentu jumlah sms gratisan yg dipake. Kadang cuma 100. Tapi max pernah sampe 400an sms (ga pernah abis tuh bonus, heran!)

  4. akuai said: *tapi lo ga rela banget kayaknya kalo isi cerita semuanya tentang gw, wkwk :p

    ludi, gw bayarnya pake cinta aja gimana? Ga laku yaa? Atau tulisan tentang lo juga deh? Seneng kan? Secara pembaca blogku banyak getho! *ujubujubujubhehe

  5. akuai said: *tapi lo ga rela banget kayaknya kalo isi cerita semuanya tentang gw, wkwk :p

    iya..gw juga ngerasa judul yang tadi kurang nyambung..ini tulisan juga udah diedit lagi neng, awalnya ga begini, terus gw baru inget, pengen nambah gambar, haha, pikun

    oh, cuma 1000? yaud nanti kalo koperatif nih koneksi, gw edit, duh..bahu…

  6. akuai said: ludi, gw bayarnya pake cinta aja gimana? Ga laku yaa? Atau tulisan tentang lo juga deh? Seneng kan? Secara pembaca blogku banyak getho! *ujubujubujubhehe

    ga usah neng..gw juga ga seneng kali kalo ada orang nulis tentang gw karena terpaksa, hehe

    iya gw tau, akuai lebih ngetop, pagerank-nya lebih gede, seneng?

    ~dan komen tak mutu-pun dimulai

  7. akuai said: ludi, gw bayarnya pake cinta aja gimana? Ga laku yaa? Atau tulisan tentang lo juga deh? Seneng kan? Secara pembaca blogku banyak getho! *ujubujubujubhehe

    endingnya bagus di

    ai kok ga sms aku??

  8. akuai said: ludi, gw bayarnya pake cinta aja gimana? Ga laku yaa? Atau tulisan tentang lo juga deh? Seneng kan? Secara pembaca blogku banyak getho! *ujubujubujubhehe

    banyak betul bahasannya
    ntar sj

  9. azizrizki said: ai kok ga sms aku??

    huehehehehe…….

    aku juga seneeeeeeeeeng banget kalo replynya kaya yang 2 di atas..
    palagi ke temen2 yang dah kerja jauh2, dan katanya pas banget nasihatnya..
    ampe dianya nelpon aku cerita kondisi keluarga, dsb..
    wuaahh.. seneng banget

    tapi kadang iya.. letupan itu untuk diri sendiri terutama saat ini sedang belum ketemu..
    karena murahnya tarif sms, jadi yang masuk juga banyaakk & hampir tiap hari, tapi biasanya yang deket ma aku justru jarang sms tausiyah, tapi ngegejein biar balik semangat.. hahaha
    cara2 unik bikin ketawa ngakak..
    letupannya kadang itu

    *dulu pernah mo nulis tentang ini tapi ga jadi..hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s