tak cukup hanya belajar mencegah

Sedari kecil kita diajarkan sebuah nilai “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Nilai yang baik menurut saya. Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar orang akan mudah menerima, bahwa hal itu benar adanya. Mencegah sesuatu hal yang buruk terjadi, lebih baik daripada memperbaiki akibat dari keburukan setelah terlanjur.

Namun, pada hemat saya, nilai ini masih kurang. Semestinya nilai itu tidak berhenti di situ saja. Karena apapun bisa saja terjadi. Bagaimana dengan kemungkinan gagal mencegah? Bagaimana bila terlambat? Bagaimana kalau lupa? Bagaimana kalau salah? Bagaimana kalau pada akhirnya kita tidak mencegah dan kemudian kita benar-benar sakit dan perlu mengobati? Maka satu lagi yang perlu ditanamkan adalah menerima keadaan bahwa kita telah sakit itu perlu.

Saya merasa penanaman pada diri anak-anak Indonesia untuk menerima kesalahan dirinya, untuk menerima bahwa dia telah salah, dan harus berani menghadapi akibat dari kesalahannya tersebut, masih kurang. Karena kita hanya kenal pentingnya mencegah. Tidak diajarkan bagaimana bila kita terlanjur tidak mencegah. Setidaknya itu terjadi pada saya.

Ada satu momen yang membuat saya menyadarinya, waktu semester kedua profesi kemarin. Saya ini bukanlah mahasiswa baik-baik, bisa dibilang nakal. Sebagai seorang mahasiswa, saya ini seringkali telat mengumpulkan tugas. Begitupun di semester terakhir itu. Ditambah semangat sekolah yang sudah semakin menipis, sudah bosan mengerjakan tugas, semakin parahlah kenakalan saya.

Ternyata kenakalan itu membuahkan petaka. Karena sebuah tugas yang saya kumpulkan lewat dari deadline, saya dan beberapa mahasiswa nakal lainnya diancam tidak lulus mata ajar tersebut. Entah kalau di jurusan atau program lain, tapi bagi kami, itu adalah sebuah masalah besar. Saat itu adalah semester terakhir, dan mata ajar itu adalah prasyarat untuk mata ajar berikutnya. Jadi, kalau kami tidak lulus, maka bisa dipastikan kami juga gagal lulus dan meraih gelar ners tahun itu. Maka, rencana kami masuk lagi balairung bulan agustus hancur sudah.

Tapi itu baru ancaman, belum berupa vonis. Ancaman yang mengerikan buat saya, cukup membuat saya menangis diam-diam kalau melihat wajah bapak. Tak sanggup saya membayangkan bagaimana harus menjelaskan padanya bahwa saya punya risiko tidak lulus tahun ini. Tak sanggup saya membayangkan bagaimana akan sedih hatinya mendengar kabar ini.

Suatu hari kordinator mata ajar tersebut memanggil kami, mahasiswa-mahasiswa nakal, para terdakwa, ke kantornya. Kami menunggu di depan kantor dengan perasaan cemas luar biasa. Berita apa yang akan kami dengar berikutnya? Akankah ancaman itu jadi nyata? Pertanyaan “duuh, kita bakalan diapain ya? Bakal diomel-omelin kali ya?” muncul. Seorang bapak mahasiswa ekstensi menjawab “yah, mau bagaimana lagi, kalau tidak diluluskan ya terima saja, memang kita yang salah ko”. Deg! Pernyataan singkat, tapi benar-benar menyadarkan saya. “hey, ludi, kamu memang bersalah, jadi, belajarlah menghadapi akibat kesalahanmu!” begitu kira-kira suara hati saya.

Hari itu saya benar-benar belajar, bahwa menyadari bahwa diri ini sudah bersalah, itu perlu. Bahwa mempersiapkan diri untuk menghadapi konsekuensi sebuah kesalahan, itu penting. Jadi, kalau kemarin saya sudah “berani nakal”, maka hari ini saya juga harus “berani dihukum”. Kalau kemarin tidak mencegah, maka harus terima kalau hari ini sakit. Begitu.

Al Ghazali pernah bilang “barangsiapa yang berjalan akan sampai, yang menanam akan menuai”. Ya, kita semua akan menuai apa yang kita sendiri tanam. Kita diajari untuk menanam yang baik-baik, agar menuai yang baik pula kelak. Tapi, kita seringkali tidak siap ketika musim panen tiba jikalau masa tanam kemarin kita tidak melakukan yang sebaiknya. Tak sanggup mata kita memandang ladang itu, tak sanggup tangan kita memetik buah itu, padahal, tangan itu juga yang dahulu digunakan untuk menanam benihnya.

Suatu hari seorang kawan bercerita. Dia sedang ada masalah di kampusnya. Masalah yang cukup pelik, tapi jika dirunut, itu semua terjadi tidak terlepas dari akibat perbuatannya juga. Masalah yang membuatnya sampai takut datang ke kampus, karena takut bertemu dengan orang-orang yang berpolemik dengannya. Saya bilang padanya “kita harus belajar untuk siap menuai apa yang kita tanam”. Saya juga pernah berada di posisinya, saya paham bagaimana rasanya. Tidak enak memang harus berada dalam kondisi “memanen hasil yang buruk”. Namun, dalam kondisi itu yang harus dilakukan adalah, hadapi, jangan lari.

Seperti yang sering saya bilang, setiap pilihan ada konsekuensinya, dan semoga setiap pemilih telah siap dengan konsekuensi yang akan hadir dalam kehidupannya. Begitupun dengan urusan tanam dan tuai ini. Tiap yang kita tanam akan kita petik, semoga kita telah mempersiapkan diri untuk memanen sejak kita sedang menanam atau bahkan telah mempersiapkan diri untuk tidak ikut panen, karena kita memang tidak pernah menanam. 

Semoga tidak ada lagi orang yang seperti saya. Tidak ada lagi orang yang ingin kabur dari kondisi sakitnya. Semoga semua sudah belajar bahwa jika kita telah sakit, maka bersabar, obati, dan ridholah dengan keadaan itu. Semoga semua bisa menerima dengan jujur, bahwa jika pencegahan telah gagal, maka sakitlah yang kini bersama.

harus siap dengan buah yang pahit, kalau kita dulu menanam pare
harus rela dengan buah yang pedas, karena kita memang menanam cabai
jangan lari dari masalah yang kita timbulkan, hadapilah,
belajarlah untuk bertanggung jawab, dan kitapun akan lebih kuat, insya ALLAH

~terimakasih untuk ii dan ai, yang pernah menquote kata-kata saya ini di site mp-nya disini dan disitu
~poto diambil dari corbisimage.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s