scar

“no body can make you feel inferior without your consent” (Eleanor Roosevelt)

Siapa punya bekas luka di tubuhnya? Kalau anda anak Indonesia kebanyakan, yang masa kecilnya dihabiskan di kampung, bermain bersama teman, main petak umpet, galasin, bentengan, sepeda dan banyak lagi permainan lain, yang kebanyakan adalah aktivitas fisik, mungkin anda akan punya bekas luka. Akibat terjatuh, kena paku, kecantol seng, atau luka-luka lain yang bisa didapat dari aktivitas bermain masa kanak-kanak tadi.

Saya juga punya bekas luka. Bukan didapat karena bermain waktu anak-anak sih, sepertinya kalau luka masa itu sudah tak berbekas semua. (lha terus kenapa tadi nyontohinnya itu?). Bekas luka (scar) saya adalah luka operasi. Letaknya di pergelangan tangan kanan. Operasinya sudah 5 tahun lalu. Tapi scar-nya sampai sekarang masih jelas terlihat, makin jelas malah.

Selama ini saya memandang scar hampir sama dengan sherina di petualangan sherina, bukan di iklan GSM, memandang luka di tubuhnya. Bagi saya, punya scar itu keren. Haha. Mungkin pandangan yang aneh, tapi begitulah adanya. Ada scar di pergelangan tangan itu, membuat saya seperti seorang mantan jagoan. Mungkin juga ini terpengaruh dari film kartun Rurouni Kenshin, dimana tokoh utamanya punya scar gede banget, di wajah lagi. Anehnya, saya padahal kurang suka dengan karakter kenshin. Tapi setidaknya, menurut saya scar di wajah kenshin tidak membuatnya jadi jelek, malah keren. Ah, itu kan gambar ya, kalau beneran juga ga bakal seperti itu.

Karena merasa punya scar dari operasi itu kerenlah makanya saya pernah agak kecewa, waktu dokter bedah operasi kedua saya menginsisinya tepat di bekas luka operasi pertama. Jadi, meskipun saya menjalani operasi 2 kali, lukanya cuma ada satu. Padahal, sesuatu yang harus dikeluarkan dengan jalan operasi itu letaknya tidak sama persis dengan yang pertama, agak ke bawah sedikit. Dulu saya sempat mikir andai dokternya “motong” di bawahnya, nanti ada luka seperti tanda sama dengan (=) di pergelangan tangan saya. Dan itu keren sekali. Duhduhduh.

Ternyata, di kemudian hari scar ini agak merepotkan juga. Soalnya agak catchy, jadi biasanya kalau ada yang melihat akan bertanya, itu luka apa, apa sebabnya. Mungkin semua scar akan mengundang pertanyaan demikian. Jangankan yang melihat, anda yang baca tulisan ini saja pasti sudah bertanya-tanya kan saya ini operasi apa, sampai 2 kali lagi. Jadi, dalam 6 tahun terakhir (operasi pertama 6 tahun lalu), entah sudah berapa kali saya harus menjelaskan luka apa ini. Masalahnya lagi, biasanya orang tak cukup bertanya satu kali, akan muncul pertanyaan lain. Misal, bahayakah? Haruskah dioperasi?dll. Saya sampe mikir, mungkin perlu bikin selebaran tentang ini, jadi kalau ada yang tanya saya kasih saja selebarannya, biar simple gitu. (ternyata menjelaskan sesuatu yang sama secara berulang-ulang itu bisa membosankan juga, jadi kagum sama para guru dengan masa bakti bertahun-tahun)

Selain pernah dioperasi, saya ini juga kerap kali jatuh. Saya anak ibu saya yang paling banyak record jatuhnya. Pernah suatu hari sampai ada teman tanya “ko jatoh mulu sih Pe?”, saya jawab “banyak dosa kayanya”, dan saya memang beneran berpikir begitu. Tapi ada satu temen kasih tanggapan menyenangkan banget (saya pernah tulis ini di status fb), dia bilang “itu berarti Pemi punya kemauan yang kuat, tiap jatuh bangun lagi dan bangun lagi”. Hah, komennya bener-bener bikin semangat, yap, yang penting saya masih bisa bangun lagi.

Kejadian jatuh saya terakhir beberapa bulan lalu, stang motor “nyenggol” truk. Hohoho. Setelah beberapa lama ngga meluk aspal akhirnya pelukan lagi. Kejadian itu meninggalkan bekas luka di punggung tangan kiri. Lumayan parah, lukanya sembuhnya lama juga. Pernah, saat lukanya belum sembuh, saya balut kassa biar tidak kotor dan saya tetap beraktivitas biasa. Di atas transjakarta, ada bapak-bapak kasih saya duduk, sebuah kejadian yang sudah amat jarang sekali terjadi. Dan saya mikir, ini pasti karena dia lihat balutan di tangan saya. Haha. Alhasil jatuh itu, scar saya tambah lagi. Ibu saya pernah komentar, waktu lihat tangan saya “ko jadi ada bekas-bekas luka semuanya gitu, di kanan ada, di kiri ada”. Dan pada akhirnya saya mikir juga, iya ya, ini tangan ngga mulus amat.

Suatu hari saya pernah tanya ke teman kuliah yang udah bapak-bapak. Bagaimana pendapat mereka lihat scar ini (yang bekas operasi, yang kiri waktu itu belum ada), mereka bilang jelek. Bahkan waktu pertama lihat mereka mikir saya ini jorok, kaya bekas sakit kulit gitu, kaya gatel-gatel, tapi setelah dilihat seksama baru sadar kalau itu luka operasi. “ah, tapi ini keren tau pak”. “keren apa? Kalau kita-kita mah tau ini luka operasi, kalau orang lain mana tahu? Mikirnya kamu itu jorok”. Waktu itu saya berpendapat, ah ini babeh-babeh emang paling seneng ngeledekin saya aja, dan emang iya sih.

Sampailah saya beberapa hari lalu, saya lihat iklan di tivi. Sebuah produk untuk menghilangkan scar. Di iklan itu diperlihatkan 2 cewek yang merasa tidak percaya diri, merasa begitu malu, karena bekas lukanya terlihat pria. Gara-gara iklan itu saya baru mikir “oh, punya bekas luka tuh memalukan ya?”. Ah, lagian saya mah heran, sudah tau merasa malu karena ada bekas luka di lengan, kenapa pakai baju yang memperlihatkan lengan? Atau iklan lain, sudah tau malu karena ketiaknya item, kenapa pake baju u can see? Punya bakat exibis mungkin, jadi seneng pamer aurat.

Sampai disini saya merasa kalau kata-katanya Eleanor Roosevelt itu bener banget “no body can make you feel inferior without your consent”. Misalnya kasus scar ini. Meskipun di iklan diperlihatkan kalau punya scar itu memalukan, meski perempuan-perempuan lain malu kalau punya scar, tapi kalau kitanya tidak perduli, tidak berpandangan begitu, maka meski kita punya scar, kita tidak akan merasa malu, tidak merasa rendah diri karenanya. Toh saya masih merasa, punya scar itu keren, jadi iklan itu ngga ngaruh buat saya. Hehe. Scar ini membuat saya ingat, bahwa saya pernah jatuh dan saya bisa bangun lagi. Hoho. Filosofi scar yang bagus bukan?

Apalagi kalau scar-nya para mujahid ya? Bekas luka perang di jalan ALLAH. Scar-nya Thalhah, bekas kepahlawanannya melindungi RosuluLLAH SAW, bukti jasanya di perang uhud. Itu scar bener-bener bikin tambah keren dah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s