once upon a time in multiply

~kisah ini telah melewati proses dramatisasi, jadi tak perlulah menghubung-hubungkannya dengan siapapun di negeri multiply

Alkisah di sebuah negeri, namanya negeri multiply. Ada seorang pria sedang gundah. Pria ini mengontrak rumah di negeri multiply, di pulau seberang. Dia gundah karena menyadari bahwa tetangga-tetangga yang mengunjungi rumahnya kerap kali adalah perempuan. Yang menyempatkan bertegur sapa, juga perempuan, hampir semuanya bahkan.

Awalnya dia merasa ini bukan masalah, toh rumahnya tidak tertutup rapat-rapat, seperti halnya semua penghuni multiply yang lain. Dibuka for everyone, open house tiap hari, tidak seperti presiden negeri Indonesia yang open house hanya pada saat lebaran saja. Jadi kalau ada yang berkunjung ya sah-sah saja, toh tetangga yang lain juga bisa lihat aktivitas obrolannya. Namun, lama kelamaan pria pulau seberang ini cemas juga. Dirinya masih lajang dan yang datang perempuan lagi, perempuan lagi. Apa kata tetangga?

Diapun memutar akal, bagaimana caranya agar ada pria lain, penghuni multiply, yang berkunjung dan mengobrol juga di rumahnya. Pria inipun mulai memancing, yakni dengan mengunjungi rumah pria-pria lain. Dia datangi kontrakan penghuni multiply yang berkelamin jantan dengan harapan ada kunjungan balik. Sehingga rumahnya tidak selalu diisi dengan perempuan. Tapi sayang, maksud hati memeluk gunung, apa daya gunungnya mengeluarkan wedhus gembel. Pria pria itu ternyata tidak ada yang terpancing. Tidak ada yang balas budi dengan mengunjungi rumahnya. Keadaanpun tak ada yang berubah.

Suatu hari, di rumahnya ada tetangga baru. Sebenarnya penghuni lama, tapi dia baru kenal. Ternyata tetangga barunya ramah, baik hati, suka berkunjung dan menyempatkan ngobrol. Bahkan kadang, sudah pernah lihat 1 tempat di rumahnya, nanti dia lihat lagi, lihat lagi. Kabar baiknya adalah tetangga barunya ini laki-laki. Bagus, ujarnya dalam hati, sekarang ada yang bisa mengalahkan kegantengannya saya disini. Namun buruk rupa cermin dibelah, sebuah peribahasa yang tidak cocok sebenarnya. Si pria telah salah sangka, di kemudian hari dia baru tahu, bahwa tetangga barunya adalah seorang wanita juga. Kenyataan pahit, untung tidak sepahit daun papaya.

***

Di sudut lain di negeri multiply, ada penghuni lain. Kali ini pria yang tinggal di rumpun bambu. Pria ini bukan panda, hewan manis berwarna hitam putih. Pria ini adalah pria biasa, yang tak sempurna dan kadang salah. Hehe. si pria rumpun bambu sedang cemas, setelah dia diberitahu oleh penghuni lain, bahwa meninggalkan jejak di rumah penghuni MP lain. Banyak berkunjung, banyak meninggalkan jejak, apabila di rumah yang pemiliknya perempuan, adalah sebuah tindakan tebar pesona.

Si pria rumpun bambu jadi khawatir apabila maksud baiknya selama ini disalahartikan oleh penghuni lainnya. Selama ini yang dia pahami, jika kita tidak berkunjung, tidak menyapa, bagaimana kita bisa mengenal tetangga? Bagaimana bisa ada tetangga yang mau berkunjung ke rumah kita? Tapi ternyata, ada juga penghuni yang berpikir jauh sekali, bahwa tindakan itu seperti tebar pesona. Dia jadi mikir, tebar pesona?! Apa yang mau ditebar? Pesona saja saya tidak punya! (hehehe, peace ah)

***

Mari beralih ke sudut lain, masih di negeri yang sama. Ada seorang pria sedang bermalas-malasan dan kehilangan semangat. Pria ini tinggal di pinggir jalan yang berkerikil. Pria ini sedang malas tinggal di negeri multiply. Dia lebih suka tinggal di rumahnya di negeri yang lain. Kadang dia datang, hanya untuk menengok rumahnya, juga untuk berkunjung ke tetangga-tetangganya di negeri multiply. Tetangganya yang masih betah, tidak seperti dia.

Pria jalanan kerikil ini jadi malas karena merasa rumahnya selalu sunyi. Sementara dia lihat tetangga sebelah rumahnya ramai, yang berkunjung banyak, yang menyapa juga banyak. Sedangkan rumahnya? Yang berkunjung itu lagi, itu lagi, tidak lebih dari beberapa gelintir orang saja. Lama-lama dia jadi tidak betah. Lama-lama dia jadi malas menyuguhkan makanan lagi untuk para tamu. Ah, paling juga ngga ada yang main kesini, begitu pikirnya.

Ternyata, kemalasan membawa masalah. Meski dia sekarang lebih banyak membiarkan rumahnya sunyi dan tidak terawat, dia kata-kata tetangganya, yang mengutip lagu dari sebuah band di negeri Indonesia. Kalau kau ingin berhenti, ingat tuk mulai lagi. Diapun ingin memulainya lagi. Namun, ibarat menggoreng bakwan, ketika aktivitasnya dihentikan, kompor dimatikan, minyak di wajanpun jadi dingin. Maka ketika mau mulai goreng lagi, mesti nyalain kompor lagi, dan menunggu agar minyaknya panas beberapa saat lagi. Memulai sesuatu yang pernah berhenti, tidak semudah melanjutkan sesuatu yang masih berjalan. Butuh tenaga ekstra untuk membuat rumahnya berisi lagi. (maap ya analoginya cupu, ga kreatif nih)

***

Mari beralih ke penghuni multiply lain. Dulu rumahnya di hamparan semanggi yang selalu berembun. Segar sekali. Sayang, suatu hari semua semanggi berembunnya hilang dan berganti dengan kotak-kotak text box bertuliskan photo bucket. Tidak suka halaman jelek begitu, dia cari suasana lain. Sekarang rumahnya di padang rumput hijau yang luaaas sekali. Ditemani balon udara yang berterbangan di langitnya. Damai. Meski dia masih selalu merindukan semanggi berembunnya, dia cukup senang dengan padang rumput ini.

Si penghuni padang rumput mengetahui kisah 3 pria. Ada yang dia tahu dari pengamatan sederhana, ada yang dia simpulkan sendiri dari kunjungannya, ada juga yang dari kesaksian si pria langsung. Ah, tak pentinglah sebenarnya dia tahu dari mana. Toh bisa saja ini adalah kisah fiksi karangannya sendiri. Hoho.

Tentang pria pulau seberang, dia jadi kasihan, ingin rasanya dia suruh pria-pria yang dikenalnya untuk berkunjung kesana juga. Pikirannya sempat tergelitik, apakah ada kecenderungan seperti itu. Penghuni wanita lebih suka berkunjung ke penghuni pria dan juga sebaliknya? Diapun melihat rumahnya, melihat halaman padang rumputnya. Ada berbagai mahluk disana, bahkan sayur dan buah juga ada. Diapun menyanggah pikirannya sendiri. Bukan gender masalahnya, tapi pada kedekatan, kecenderungan, mungkin kebermanfaatan, dan mungkin juga idiopatik.

Manusia itu unik, penghuni multiply juga. Ada yang suka kopi ada yang suka susu. Ada yang suka kwetiau ada yang suka martabak. Mungkin memang perempuanlah yang lebih suka kwetiau yang disajikan di rumahnya. Dia memancing pria penyuka martabak. Terang saja si pria tak datang ke rumahnya, karena tak ada martabak disana.

Tentang pria rumpun bambu, penghuni padang rumput juga sempat terperangah. Seram sekali melihat bagaimana sebuah pikiran bisa melintas. Masa cuma menyapa saja disangka tebar pesona? Perempuan memang suka ribet, makanya penghuni padang rumput lebih suka sama perempuan yang solihah, yang ga banyak buruk sangka, ga banyak GR, ga banyak liat pesona. Liat pria sedikit, terus ngerasa melihat pesona sedang ditebar, ampun dah! Tapi bisa juga pria yang ribet, lihat pria lain begini begitu, terus merasa tersaingi (ya ga sih?). Saran penghuni padang rumput, jangan terlalu menuruti kata orang, kita memang perlu meminta fatwa pada hati kadang-kadang, kalau merasa memang sudah berlebihan, ya jangan dilanjutkan.

Tentang pria jalanan kerikil, penghuni padang rumput ingin sekali memberinya semangat. Andai dia punya 5 rumah di negeri multiply, ingin rasanya dia berkunjung ke rumah si pria jalanan kerikil dengan berangkat dari semua rumahnya. Karena penghuni padang rumput suka bilamana ada penghuni multiply yang aktif, yang mengisi rumahnya dengan berbagai kegiatan. Yang suka nulis, ga cuma bikin quick note geje (hehe, nyerah gabisa cari analogi). Tapi semangat harus bisa dimulai dari diri sendiri.

Semua kembali pada niat. Mengontrak di negeri multiply untuk apa? Meski tak bisa dinafikan juga, perhatian tetangga lain juga bisa jadi semangat tersendiri. Meski manusiawi jika ingin didengar dan dilihat. Meski memang benar jika pujian, kecaman, bahkan lemparan penghuni lain juga bisa jadi sarana belajar. Tapi kadang perhatian manusia sifatnya melenakan, jadi harus hati-hati.

Kepada pria kerikil jalanan, penghuni padang rumput menunggu, kapan rumahnya dibuka lagi. Dia ingin main kesana, dan memakan pempek suguhannya sampai kenyang!! (kalo bisa sediain kwetiau juga ya, hehe)

Kalo kamu, bagaimana kisahmu? Kamu tinggal di kavling multiply mana, boleh aku kesana?

Advertisements

46 thoughts on “once upon a time in multiply

  1. jaraway said: wehehehehe… ludi malem2 posting beginian..aku perempuan bang..hahahah…..jadi ga yang mana2..haisyah.. wkwkwk

    nanti, kalo aku udah lebih mengenalmu, atau berinteraksi lebih banyak denganmu, kubikinin tulisan juga..perempuan di waktu matahari belum terbit, hehe

  2. pemikirulung said: masa siiih..kudenger-denger solihah sangat ko…

    saya mengontrak di negeri multiply karena sebuah misi konstruksi pribadi. Membangun pondasi sejak awal. Karena itu tak ada tetangga pun tak apa-apa. Karena jendela rumah saya untuk semuanya. For everyone. Namun ketika berbagi hantaran penganan saya hanya membuka pintu untuk tetangga dan undangan saja. Maka, kavling saya tak sebatas dinding antar tetangga. Halah. X D

  3. pemikirulung said: masa siiih..kudenger-denger solihah sangat ko…

    ih abangkuh..:))
    *ntar kna tegor lagih dah, dikata godain ikhwan..padahal abangkuh kan akhwat, hahaha*
    kaya’ kenal ama yang disebutin itu..*kedip2*
    lucu juga…:D

  4. pemikirulung said: masa siiih..kudenger-denger solihah sangat ko…

    saya mengontrak di negeri multiply karena sebuah misi konstruksi pribadi. Membangun pondasi sejak awal. Karena itu tak ada tetangga pun tak apa-apa. Karena jendela rumah saya untuk semuanya. For everyone. Namun ketika berbagi hantaran penganan saya hanya membuka pintu untuk tetangga dan undangan saja. Maka, kavling saya tak sebatas dinding antar tetangga. Halah. X D

  5. aishachan said: nah itu dia kakaku udah nyobag bisamau nanya kakaga sempet :(*numpang ngobrol ya ka ludi

    weh..bukannya cuma mau didiemin aja..
    yakin mo digituin..
    kirim alamat emailmu deh..hehe

    tu kan ludi,kapling gejeku keluar deh..haha

  6. pippoputra said: pasti nanti orang2 di atas bakal turun gunung deh di (dipaksa turun gunung untuk vote lomba juga bisa ,hehehe)*sotoy

    orang ketiga doang kali..kalo orang pertama dan kedua emang sehari-harinya ga mendekam di gunung ko πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s