Mata Cinta

diikutkan ke sini http://dewayanie.multiply.com/journal/item/358/lomba_award_untuk_teman_maya_yang_klik

Beberapa hari lalu kakak saya kebingungan, pasalnya khadimatnya tidak betah dan minta pulang kampung, padahal baru sekitar 2 pekan bekerja. Padahal mencari khadimat yang memiliki kriteria sesuai dengan yang kita inginkan jaman sekarang ini susah. Ehm, sebelum tulisan ini melangkah lebih jauh izinkan saya mengganti istilah khadimat. Saya ingin menggantinya dengan kata yang lebih halus, menurut saya, yakni “penolong urusan domestik” alias PUD. Ok?

Kembali ke cerita PUD yang tidak betah ini..

Mendengar kabar tersebut kami di rumah jadi bertanya-tanya apa sebab ketidakbetahannya? Apa beban kerjanya terlalu berat? Apa kita kurang baik memperlakukannya? Ada sikap atau perilaku kita yang tidak berkenan? Atau dia pernah gw galakin?! Kata kakak saya, si PUD ini kangen sama orangtuanya di kampung. Katanya orangtuanya baru saja rujuk, dan dia ingin tinggal bareng mereka. Kakak saya menambahkan “lagipula, dia juga punya pacar di kampung”

“hoo..”, kami kaget tidak menyangka, soalnya, saya aja ngga pernah punya, hehe.Kakak saya bilang “iya De, makanya dia sering banget sms-an, suka liat kan dia sms-an terus?”

Nah, cukup prolognya. Ini yang pengen saya bahas.

Ternyata, salah satu indikasi bahwa seseorang pacaran adalah sering sms-an! Hihi. Sebenernya saya ini seorang sms mania, pas mbak PUD lagi sms-an, saya juga. Jadi tuduhan berpacaran mestinya bisa dilayangkan juga pada saya. hehe

Saya jadi ingat sekitar 1 tahun lalu. Saat itu adalah masa-masa awal saya jadi seorang sms mania. Saya dekat dengan seorang MPers, ternyata dia sms mania juga. Saat itu kami sedang banyak waktu luangnya, tarif sms juga murah, jadilah kami sering banget sms-an. Ngobrol lewat sms, diskusi lewat sms, curhat lewat sms, sampe gombal-gombalan lewat sms. Saya sampai bilang, kami ini seperti orang pacaran saja. Sotoy banget, karena sebenarnya saya tidak tahu pacaran itu seperti apa, ngapain saja. Tapi, mengacu pada kasus PUD ini, sepertinya saya benar. Dulu bahkan dia sering bilang “ludi, nikah yuk”. Atau candaan “target nikahmu kapan Di?”

“3 tahun lagi, kamu mau nungguin aku?”

Sayangnya hubungan itu terputus begitu saja. Dia menghilang dari multiply, menghilang dari dunia sms saya, pelan tapi pasti, juga menghilang dari kehidupan saya. Mau bagaimana lagi? Itu pilihannya.

Apabila teori sering sms-an = pacaran berlaku, maka saya sekarang punya pacar baru di MP. Idnya aishachan. Hehe. Modusnya mirip-mirip dengan El dulu (teman yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya namanya Elisa, kami biasa memanggilnya El). Namun, kalau dengan El, saya memiliki banyak kesamaan, seumuran, menjalani aktivitas yang hampir sama, angkatan yang sama, sama-sama mahasiswa kesehatan,  tapi kalau dengan aisha, perbedaannya cukup banyak. Beda usia kami 4 tahun, saya lebih tua, dia masih bocah. Saya lulus sarjana, dia baru mulai masuk kuliah, saya kuliah jurusan IPA, dia IPS. Jadi, bagaimana bisa kami cocok?

Aisha pernah menulis di blognya “jangan pernah bertanya kenapa aku merasa cocok dengannya. Cocok itu masalah hati. mungkin karena dari seringnya frekuensi komunikasi”. Mungkin juga benar, kenapa kami bisa dekat, karena seperti pepatah jawa bilang “wiring tresno jalaran soko kulino”. Karena seringnya kami komunikasi, dalam hal ini via sms, maka kedekatan kami tumbuh. Tapi, kemudian ada pertanyaan lain, kenapa kami bisa sering komunikasi? Tentunya karena merasa “nyambung” satu sama lain. Dan kenapa bisa “nyambung” alasan besarnya adalah karena adanya kecocokan. Kenapa bisa cocok? Nah, pertanyaannya balik lagi kan? Kalau saya pikir, kenapa bisa cocok adalah karena banyak kesamaan.

Sayapun teringat dengan sebuah perkataan “Mata cinta terasa letih memandang aib. Tapi mata benci (akan) selalu melihat aib.” Tidak terlalu persis sesuai, tapi dari perkataan ini saya jadi berpikir, sebagaimana mata cinta terasa letih memandang aib, maka, mata cinta juga akan cenderung mencari persamaan dan kecocokan, serta tidak memperuncing perbedaan. Sepertinya, hal ini juga berlaku dalam hubungan kami. Manakala kami sudah cinta, meski sebenarnya banyak sekali perbedaan, kami dapat menemukan lagi dan lagi persamaan, sehingga makin merasa cocok satu sama lain. Akibat teori terakhir ini, saya benar-benar bingung dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, pertanyaan yang akhirnya muter-muter bolak-balik tadi, yang mana ayam dan yang mana telurnya. Yang mana yang lebih dulu ada, kesamaan, atau cinta?

Buktinya, suatu hari, belum lama ini, setelah kami sudah dekat, saya merasa kesukaan kami akan sesuatu makin lama makin banyak persamaannya. Saya mulai menggemari komik-komik yang dia baca, diapun jadi gandrung dengan animasi, atau hal-hal lain yang saya simak. Akibatnya, semakin banyaklah hal yang bisa kami bahas dalam kebersamaan kami.

Satu lagi yang saya rasa mendukung kedekatan kami adalah sikap saya yang seperti cermin. Jika orang lain senyum, saya akan balas senyum. Jika orang lain terbuka pada saya, saya akan mudah akrab dengannya. Jika dia tidak sungkan, sayapun nyaman. Begitupun dengan aisha, sejak awal kenal, dengan tidak malu-malu dia mengaku ngefans pada saya dan menyukai tulisan-tulisan saya. Dengan konkrit dia membuktikannya dengan menelusuri blog-blog saya meski telah lampau, tidak banyak (atau bahkan mungkin hanya 1 atau 2 orang) yang seperti itu. Maka sejak itu, merasa dihargai, merasa diapresiasi, sayapun berusaha membalasnya, dengan penghargaan sebaik yang saya bisa.

Jadi jangan tanya mana dulu kecocokan atau cinta, karena saya tidak tahu jawabannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s