Jodoh Saya Di Multiply

Kalau jodoh, kita pasti ketemu lagi

Kalimat itu saya kutip dari sebuah film yang premiernya baru beberapa hari lalu. Film yang sebenarnya saya belum tonton, saya juga ga kepengen nonton. Saya tahu ada kalimat itu karena nonton “di balik layar” nya. Tayangan dibalik layarnya juga saya tonton secara tidak sengaja. Itu semata-mata saya iseng-iseng mencet remote TV gara-gara tengah malem tiba-tiba terbangun dari tidur, terus ngga bisa tidur lagi. Bingung mau ngapain tengah malem, nyuci motor rasanya aneh, nyiramin kembang juga aneh, jemurin cucian lebih aneh lagi, akhirnya nyalain TV yang remotenya emang tergeletak dekat. Jadi saat itu nyalain tv adalah 1 dari sedikit hal yang bisa tetap dilakukan dalam keadaan berbaring, dan bisa memicu kembali rasa kantuk. Terus ketemu deh behind the scene nya film ini. Satu hal yang saya minta pada anda, jangan Tanya apa judul filmnya. Karena nanti postingan ini jadi lebih ga penting lagi. Hehe.

Yah, prolog yang panjang dan “penting sekali” bukan? Rasanya cukup, saatnya menyampaikan maksud yang sebenarnya.

Jodoh apakah identik dengan pertemuan? Entah deh. Tapi saya sendiri sering menyebutnya “jodoh” manakala bertemu dengan orang yang saya kenal secara tidak disangka-sangka.

Dulu kakak saya pernah bilang, dia itu seringkali dipertemukan dengan orang yang sedang dia harapkan untuk bertemu, meski baru sekedar terbersit. Misalnya gini, dia lagi bête nungguin bis ga dating-dateng, terus dia mikir, kayanya enak kalo ketemu sama si itu, atau rasanya udah lama ga ketemu sama si ini, terus, keinginannya terkabul. Tiba-tiba ketemu aja gitu sama orang yang diharap. Kalau saya sih ngga pernah mengalami begitu, udah ngarep ga muncul juga tuh. Tergantung amal perbuatan kayanya. Hehe.

Tapi saya beberapa kali dipertemukan dengan orang-orang tertentu di suasana yang tidak terduga, padahal dalam hati saya tidak berharap, tidak meminta. Orang tersebut adalah cudin (saya manggilnya begitu). Teman dekat saya waktu SMP. Pernah suatu hari, kami ikut acara besar, yang hadir ribuan orang. Saya tidak tahu dia hadir, dia juga tidak tahu saya hadir, kami juga tidak saling mengkonfirmasi kehadiran (jaman itu saya belom punya henpon). Saya juga tidak berharap-harap bisa bertemu dia disana. Tapi tiba-tiba saja kami berpapasan di suatu tempat, diantara ribuan orang. Kalau sudah ketemu begitu ya seneng juga, namanya juga teman dekat dan sudah lama tak bersua. Dan kejadian seperti itu seingat saya tidak cuma sekali.

Saya juga beberapa kali bertemu secara tidak sengaja saat I’tikaf. Saya ini I’tikafnya seringnya “ngalong”, datang malem pulang pagi. Di sebuah masjid besar di Jakarta, saya biasanya tidur (ah ga keren betul pilihan aktivitasnya) atau sebutlah menghabiskan malam di lantai 3 sampai pagi. Setelah dhuha, saya akan turun, wudhu lagi, terus naik ke lantai 2 (soalnya gempor kalo mesti naik ke lantai 3 lagi). Sholat dhuha di lantai 2 trus lanjutin tilawah dulu sebelum pulang. Nah, pas lagi di lantai 2 itu, lagi asik-asik sendirian,tau-tau si cudin nyamperin. Padahal dia juga lagi siap-siap mau pulang, tapi ternyata ALLAH mempertemukan kami walau kadang sebentar.

Saya suka mikir, kami ini jodoh banget. Sering dipertemukan secara tidak disangka-sangka, sementara dengan teman saya yang lain tidak begitu. Namun itu dulu, sekarang sama cudin sudah tidak jodoh lagi, udah ga pernah ketemu seperti itu lagi, mungkin karena dia sudah berjodoh dengan orang lain (baca: nikah). Hehe. Ngaruh ya? Cudin juga punya MP. Kalau anda main ke MPnya kemungkinan besar tidak menyangka orang seperti dia pernah dekat dengan saya. Aura blog kami beda banget kayanya, karakter kami juga beda. Bapak saya aja pernah tanya, ko itu anak bisa-bisanya temenan sama saya, hehe.

Omong-omong tentang jodoh, kenapa saya jadi pengen nulis ini, karena hari ini saya merasakan perjodohan itu lagi. Hehe. hari ini saya hadir ke sebuah acara besar di istiqlal. Yang hadir ribuan. Tahulah anda luasnya istiqlal, orang-orang tersebar di berbagai tempat, di berbagai lantai pula, jadi peluang ketemu orang tertentu kecil sekali. Namun hari ini saya bertemu dengan seorang teman. Teman yang lumayan dekat. Yah, mungkin tidak dekat-dekat amat, tapi setidaknya saya lebih dekat padanya ketimbang orang lain yang tidak ada irisan dengan saya seperti dia. Hence, saya manggilnya.

Dulu waktu dikampus teman-teman kami masing-masing menyangka bahwa kami berasal dari sma yang sama. Mungkin karena mereka tidak menemukan irisan diantara kami berdua, beda fakultas, beda organisasi, beda lajnah tapi temenan. Jadi mereka simpulkan sendiri bahwa kami beririsan di sma, padahal mah ngga. Apalagi kami ini beda banget. Dia mahasiswa berprestasi saya bukan, dia kalem saya kaga, dia akhwat solihah saya soleh wannabe. Ai bahkan pernah bilang “ga salah lo Di temenan sama hening, adem banget”. Enak aja, harusnya ai bilang gitu ke hening, ga salah dia udah milih temenan sama Ludi, anget banget (emangnya teh?). Pokoknya setidaknya hence adalah orang yang bagi saya paling dekat ketimbang siapapun di UI yang beda fakultas, organisasi, dsb, seperti dia.

Hari ini saya bertemu dengannya diantara ribuan orang itu. Dia berjalan ke arah saya duduk. Sebenernya dia ga lihat saya, tapi saya lihat dia, terus saya melambai-lambai dengan semangat kaya Hermione yang mau jawab pertanyaan di kelas, sambil memanggil namanya. Akhirnya kami salaman doang sih, terus saya kenalin dia ke kakak yang ada di sebelah saya. Cuma gitu doang, tapi tetep aja, jodoh. Menurut saya, hehe.

Kalau diingat-ingat waktu masih di kampus saya pernah juga mengalami momen perjodohan dengannya. Misalnya di sebuah acara, pas pembagian kelompok, kami dapat kelompok yang sama, atau pernah juga pas ada acara simulasi, kami semua disuruh bikin 2 barisan, kemudian kedua baris itu dihadapkan, sehingga setiap orang akan berdiri berhadapan dengan 1 orang lainnya, terus kami diminta berpelukan dengan orang yang berdiri di depan kami. Dan siapa orang yang setelah barisannya dirapikan, akhirnya berdiri tepat di depan saya? dia. Siapa yang akhirnya saya peluk? Dia. Siapa yang membasahi jilbab saya dengan air mata dan sebaliknya? Dia. Saya ingat repon pertama kami waktu disuruh berbalik dan berhadapan, kami berdua tertawa dan bilang “eh dia lagi”. Emm..entah dia masih mengingat momen ini atau tidak. Hehe

Hence punya akun MP, tapi sebatas punya. Site MPnya tidak diisi. Dia bikin akun cuma untuk komen aja. Lumayan sih, dia adalah salah satu orang yang bisa diminta turun gunung dan memberikan suaranya pada saya kalau saya sedang ikutan lomba yang pake voting. Hehe

Omong-omong tentang jodoh lagi, sebenarnya masih ada 1 orang lagi. Kali ini benar-benar dari dunia maya. Saya juga heran, sering banget ketemu orang ini, di beragam tempat, yang lebih tidak disangka-sangka ketimbang tempat pertemuan saya dengan cudin atau hence. Kadang saya lihat dia, dia tidak lihat saya atau sebaliknya. Sebenarnya tidak sering-sering amat kami dipertemukan. Tapi, kalau dibandingkan dengan siapapun orang dari dunia maya, dialah juaranya. Tak perlulah saya sebutkan dimana tempat-tempat kami tidak sengaja bertemu atau bersama (istilah yang saya pilih untuk berada di tempat yang sama tapi saya lihat dia, dia ga lihat saya, atau sebaliknya), saya khawatir orangnya baca, hehehehe. Dan saya minta 1 hal lagi pada anda, jangan tanya siapakah orang ke-3 ini.

Ehm, jadi penasaran, saya akan berjodoh dengan siapa lagi ya?

14 November 2010

~tulisan kurang penting ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s