AlhamduliLLAH Saya Pernah Menulis

Seseorang pernah bilang, –saya tidak ingat siapa orangnya, dalam acara apa dan kapan dia bilang, bahkan saya tidak bisa memastikan bahwa hal ini benar-benar kata-kata orang lain dan bukan lintasan pikiran saya sendiri, hehe (penting amat pake dibahas)—bahwa telinga yang paling dekat dengan mulut kita adalah kedua daun telinga kita sendiri, maka jika dia menyampaikan sesuatu sesungguhnya diri sendirinyalah yang paling dekat untuk mendengar. Jadi, apa-apa yang disampaikan, sebenarnya, utamanya adalah untuk dirinya sendiri.

Dalam islam sendiri memang diajarkan bahwa kita ini semestinya mengatakan hal-hal yang memang telah kita kerjakan. Karena ALLAH SWT amat benci jika kita mengatakan hal-hal yang tidak kita kerjakan. Jadi terlepas dari seberapa jauhnya telinga orang lain dan seberapa dekatnya telinga kita, memng mestinya kita tidak boleh seperti calo di pangkalan angkot, nyuruh-nyuruh orang naik angkot, tapi dia sendiri tidak.

Penyampaian, ternyata metodenya tidak melulu berbicara, blogpun bisa jadi media penyampaian. Seperti yang telah saya katakan di salah 1 blog saya yang telah lampau. Meski judulnya journal, meski diisi dengan konten yang sama dengan diary, tapi blog anda tidak akan sama dengan diary yang ditulis kemudian digembok dan disimpan baik-baik kuncinya. Karena menulis di blog dan bila anda setting bisa dibaca orang lain, maka secara tidak langsung anda sedang menyampaikan sesuatu pada orang lain, yang dengan sengaja atau tidak, membaca blog anda.

Begitupun saya, yang kalau di site MP ini telah mempublish lebih dari 300 tulisan dengan 99.95% settingannya adalah for everyone. Maka sejatinya saya telah menyampaikan ratusan hal kepada orang lain.

Banyak menyampaikan, menurut saya, bagaikan 2 sisi mata uang. Di satu sisi, semakin banyak yang disampaikan maka semakin banyak yang perlu dipertanggungjawabkan. Dan tentu itu tidak mudah. Semakin besar risiko tergelincirnya. Di sisi lain, semakin banyak pula hal yang berpotensi untuk menjadi penjagaan. Sama halnya dengan menyadari kedekatan antara mulut dan telinga tadi. Bila kita sadar apa-apa saja yang telah kita sampaikan dan kemudian senantiasa berusaha menyelaraskan perbuatan dengannya. Jika hal itu yang kita sampaikan memang hal yang benar dan baik.

Hari ini saya bersyukur, atas sebuah tulisan lampau. Bersyukur karena saya pernah menuliskannya. Ketika hidup ini harus berada dalam sebuah kondisi dimana saya harus memilih tentu dengan segala buntut konsekuensinya. Ketika idealisme ini berbenturan dengan peluang yang begitu menggiurkan. Benturan idealisme yang sebelumnya pernah saya tulis di blog, meski tidak persis sama. Ketika hati ini condong untuk memilih ke arah yang tak sepatutnya, ketika waktu dan pikiran saya diisi dengan perihal menimbang untuk memutuskan, saya terngiang-ngiang dengan tulisan saya sendiri, tentang apa yang saya tulis disana. Disana saya begitu idealis, begitu memegang prinsip, maka kalau dulu saya pernah bilang begitu, kenapa sekarang tidak. Hanya dengan teringat tulisan saya itu, hati saya pelan-pelan kembali tertarik kecondongannya, menuju ke arah yang sama.

Saya juga teringat dengan kata-kata saya beberapa waktu lalu pada “adik-adikâ€? saya. Lidah ini pernah menyampaikan tentang haqiqatul insan. Bahwa kita, manusia, adalah mukalafun, yang mendapat beban. Tidak diberi keistimewaan begitu saja tanpa syarat.

Ada

hal-hal yang harus kita jalani dan emban. Maka ketika saya bilang ke seorang teman “hidup bukan untuk uangâ€?, dan teman saya jawab “tapi hidup itu perlu uang Diâ€?. Yang kemudian meneguhkan saya adalah ingatan saya akan hal-hal yang pernah saya sampaikan sendiri. Kita ini hidup dengan membawa beban (setidaknya begitu referensi yang saya baca) untuk beribadah, untuk menjadi khalifah. Tidak bisa kita hidup sesuka hati, tidak bisa hidup semau sendiri. Tidak bisa semata-mata demi memenuhi kebutuhan akan uang, yang dicari atas nama kehidupan, maka kita bisa “tabrak

sana

tabrak sini�.

Saya bersyukur sekali pernah menulis. Saya bersyukur pernah menyampaikan. Tak disangka kelak itu menjadi penjagaan untuk saya. Saya berpikir, sepertinya memang perlu sesekali menelusuri kembali blog ini. Untuk membaca dan menyadarkan diri sendiri akan apa saja yang pernah saya tulis. Meski hampir semuanya saya ingat garis besarnya. Tak ada salahnya menyimak kembali. Sebagai penjagaan diri sendiri, agar tidak menjadi NATO, agar tidak ALLAH SWT benci.

Baca juga

Menabung Aset Atau?

Geliat Sebuah Butiran Pasir

Advertisements

19 thoughts on “AlhamduliLLAH Saya Pernah Menulis

  1. mylathief said: ada banyak yg sy sepakati πŸ™‚

    mas iqbal..terimakasih sudah komen di tulisan ini..

    soalnya saya suka tulisan ini, tapi yang dikomen orang malah yang tentang jodoh..haah..sudah pada kepengen nikah MPers-MPers ini..jadi kalo bahasan cinta dan jodoh selalu banyak yang "ngintip"

  2. carrotsoup said: konsistensi yang paling gampang adalah, konsisten untuk tidak konsisten

    iya..gw tau..tapi ada hal lain yang jadi pertimbangan juga

    btw, tau ga i..saat kemaren gw udah niat mau cuti ngempi itu, pas lagi nyusun kata-kata buat pamitan, ada temen komen di fb, dia bilang, dia mulai nulis lagi karena baca tulisan gw yang ini..bahkan, tanpa gw baca tulisan gw sendiripun, tulisan gw bisa jadi pengingat lagi

    masalahnya bukan tidak ada semangat untuk nulis, tapi karena ada kecemasan, kekhawatiran, karena merasa ilmu gw masih cetek banget

  3. carrotsoup said: konsistensi yang paling gampang adalah, konsisten untuk tidak konsisten

    justru krn ilmu yg cetek itu bikin lo terpacu utk tahu. Pun ada diskusi dlm tlsn lo. Jadi peluang lo dpt masukan lbh banyak..

  4. ibutina said: Pemiiiii…..kapan kita cerita-cerita lagi masalah dunia tulis-menulis???maen-maen dong ke ibutina.com πŸ˜›

    mba tinaaaaa…
    ada link yang pengen kukasi mba..tulisanmu diikutin lomba aja

    yaya..akan kuingat, hehehe

  5. pemikirulung said: mba tinaaaaa…ada link yang pengen kukasi mba..tulisanmu diikutin lomba ajayaya..akan kuingat, hehehe

    Tulisan yang mana???lomba apa???link apaa???
    Dasar Pemi….Postinganku baru dikit ni…Semangatin donk!!!!!

  6. ibutina said: Tulisan yang mana???lomba apa???link apaa???Dasar Pemi….Postinganku baru dikit ni…Semangatin donk!!!!!

    novel yang dulu itu..aku liat ada lomba nulis novel deh..nanti kucek lagi..punya fb ga? infonya ada di fb soalnya

    semangat semangat mba tinaaa (udah cukup belom? hehehehe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s