Andaikan Buku Sepiring Kwetiau

“bacalah bukan belilah”

Dulu, waktu masih SMA (dulu banget kan? Hehe) ada seorang guru NF tanya pada kami murid-muridnya, tentang sebuah hal. Kami tidak ada yang tahu jawabannya. Dia bilang jawabannya ada di buku yang dibagi dari NF. Seorang anak menjawab kalau saat itu dia membawa buku tsb. Diapun berseloroh, “padahal  tuh ayat yang pertama turun “bacalah” ya, bukan “bawalah””. Sampai sekarang saya masih ingat sindiran itu dan kadang saya membuat variannya, salah satunya adalah “bacalah bukan belilah”.

Karena saya sering begitu, membeli tapi tidak membaca. Buku-buku yang saya beli, banyak diantaranya yang belum saya baca sampai sekarang. Maka, jadilah saya ini juga perlu disindir “ayat pertamanya bacalah lho, bukan belilah”. Hehe. Hal yang membuat saya semakin sadar telah menjadi manusia jenis ini, jenis membeli bukan membaca, adalah setelah saya memperhatikan jejeran buku saya di rak, masih banyak yang tersegel plastik!!

Dulu, buku yang habis saya beli, akan saya buka segelnya, saya tulis harga, tanggal dan tempat pembelian kemudian saya sampul. Akibatnya buku-buku saya yang sudah dibaca ataupun belum tidak ada bedanya, semuanya sudah terbuka dan tersampul. Tapi suatu hari, saya main ke rumah teman, saya lihat rak bukunya. Di sana banyak terdapat buku-buku yang masih tersegel. Waktu saya tanya kenapa begitu, dia jawab karena memang belum akan dibaca, makanya belum dibuka. Seketika itu juga saya terinspirasi, jadi pengen ngikutin tindakan itu.

Keuntungannya adalah bukunya jadi terjaga, benar-benar masih baru, tidak kena debu, tidak kotor dan tidak terlipat. Keuntungan lain adalah kalau lagi kepepet harus memberi hadiah, sedangkan saya tidak sempat beli, atau sedang tidak punya uang, saya tinggal ambil salah satu buku tersegel itu untuk dijadikan hadiah. Brilliant! Hehe (dan saya pernah melakukannya). Bahkan ternyata bisa jadi pembeda dengan buku orang lain (alasan yang ini agak maksa :p). Misalnya hari ini saya diceritakan oleh kakak pertama saya. Katanya kakak kedua nyari-nyari bukunya yang hilang. Dia cari di rak buku di rumah. Akhirnya dia melihat, buku dengan judul serupa. Tapi waktu dia ambil, bukunya ternyata masih tersegel, diapun sadar itu bukan miliknya. Waktu diceritain saya ketawa, siapa lagi di rumah yang buku-bukunya masih disegel kalo bukan gw. Hoho.

Diantara buku-buku saya yang masih tersegel itu, sebenarnya bukan berarti benar-benar belum dibaca. Ada beberapa yang memang saya sudah pernah baca sebelum beli, pinjam punya teman, ada juga yang saya sudah tahu isinya karena pernah ikut bedah bukunya. Namun, begitupun sebaliknya, tidak semua buku yang sudah dibuka dan disampul sudah saya baca. Heuheu.

Kenapa semua ini bisa terjadi? Semua ini kembali pada paradigma saya terhadap buku. Bagi saya buku adalah investasi, maka alasan saya membeli sebuah buku bukan karena saya akan membacanya, tapi karena saya merasa membutuhkannya. Saya sering membeli buku yang menurut saya kelak akan saya butuhkan, mungkin tidak saat ini. Maka saya tidak langsung membaca buku-buku tersebut. Yang penting, saya pikir, punya dulu, jadi sewaktu-waktu saya butuh, saya perlu info atau ilmu yang ada dalam buku tersebut, saya tinggal ambil dari rak buku saya, saya buka dan bingo! Ketemulah yang saya cari.

Saya suka sekali dengan analoginya scientia afifah tentang buku, analogi yang pas. Menurutnya, buku itu seperti buah dan sayur, ada yang tidak enak, ada yang biasa saja, ada yang enak. Tapi bagaimanapun sayur itu bermanfaat untuk tubuh. Maka meski rasanya tidak enak, kita tidak suka, kita perlu memakannya, demi manfaat di dalamnya.

Begitupun saya, punya kecenderungan terhadap sayur, juga buku. Ada buku yang memang saya suka, dengan senang hati melahapnya, ada yang andai saya boleh memilih, saya tidak ingin mencicipinya sama sekali. Maka untuk buku-buku yang saya suka, tak perlu waktu lama untuk membuka segelnya. Namun untuk buku-buku dengan rasa tidak enak di lidah saya, saya memilikinya karena tergiur dengan manfaatnya. Akan saya makan suatu hari manakala saya butuh kandungannya. Akan saya paksa lidah saya berdamai dengan rasanya demi mendapatkan saripatinya. Toh, berarti pada akhirnya saya akan membacanya disamping membelinya kan? Bagaimana dengan anda? 

link terkait:

tulisan scientia afifah Read What I Need

(Lagi) Tentang Pentingnya Membaca, Kali Ini Dari Nenek Hama

~judul memang ngikutin buku “andaikan buku sepotong pizza” tapi dirubah seperlunya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s