Karena Kita Ga Kepengen Dikejar-kejar Debt Collector

Kemarin saya nonton film di tivi. Tapi seperti biasa banget, karena secara ga sengaja, saya jadi gatau judulnya apa padahal filmnya bagus. Kasusnya sama dengan sebuah film mandarin yang pernah saya tonton di tpi, bagus banget, pengen punya, tapi sayang gatau judulnya, jadi mau nyari bingung. Hah.

Film drama, amerika, agak jadul. Film ini bertemakan kejujuran, tanggung jawab, dan memaafkan. Kalau saya mau mengulas semua lintasan pikiran saya karena film ini, mungkin bisa jadi puluhan notes. Yah, mengingat kepiawaian saya dalam ngemeng dan poci-poci, hehe, jadi dari yang penting sampe gapenting, dari yang hubungannya dekat sampe jauh bisa saya tulis. Tapi kali ini saya akan angkat satu hal saja, beruntunglah kalian. Tentang sebuah quote di film itu “kita tidak akan benar2 tahu pasti, sampai kita mengalaminya sendiri”. Sederhana, tapi nampol buat saya.

Kita ini kan sering begitu ya, ditanya pendapat oleh orang lain dalam sebuah studi kasus, bisa dibilang. Seorang teman curhat, abis mengalami kejadian begini begitu, dan kemudian teman kita bertanya apa yg sebaiknya dia lakukan. Atau mungkin kita berada dalam posisi sbg penasihat atau penegur. Kita melihat teman berbuat salah, dan kita mesti mengingatkan. Namun seringkali, kasus yg dialami teman kita tsb tidak pernah menimpa diri kita. Maka, mungkin kita akan memposisikan diri kita jadi dia, dan mengira-ngira apa yg kita lakukan kalau mengalami hal yg sama. Tapi tahukah kawan, bahwa semua itu murni hanyalah prediksi. Kita tidak akan benar2 tau sampai kita mengalaminya sendiri.

Ya seperti di film itu. Kata-kata itu dikatakan sang detektif pada tersangkanya. Dia bilang kalo aku yg mengalaminya aku akan begini. Tapi kemudian dia tambahkan bahwa dia tidak akan benar-benar tau sampai mengalaminya. Bener banget menurut saya.

Ini juga yang seringkali saya cemaskan. Karena sering berada di posisi itu, harus “ngomong” padahal ga ngalamin. Cemas juga kalau ketika saya mengalami ternyata apa yang saya perbuat tidak sesuai dgn apa yang saya katakan sekarang. Saya pernah dengar kasus seperti ini. Ada cewe nyindir temannya yang setelah nikah ngajinya jadi suka ga dateng atau terlambat, eh setelah dia nikah ternyata dia begitu juga. Menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Malu kan? Mungkin itulah sebab pembicara dlm seminar narkoba, konselor narkoba banyak dari kalangan ex user. Karena mereka ga cuma bisa ngomong tapi pernah membuktikan.

Lantas bagaimana kalau kita terpaksa harus berada dlm posisi itu? Mesti kasih saran, kasih nasihat, apakah kita mesti menghindar? Ya jangan juga. Toh bukan berarti kita mesti make narkoba dulu sebelum nasehatin para user, bukan berarti kita mesti dikejar-kejar debt collector dulu sebelum bilangin temen yg tukang ngutang. Mm..kalo menurut saya, mungkin kita perlu lebih banyak berhati-hati dalam bicara, jangan omong besar, jangan kebangetan sotoy dan yang paling penting adalah berdoa pada ALLAH agar kita terhindar dari hal-hal demikian, kalaupun tidak, ALLAH membimbing kita agar sesuai antara kata dan perbuatan. Karena kita tak pernah tahu pasti sampai mengalaminya sendiri. ALLAHUa’lam

~bener-bener sakaw, udah lama ga posting tulisan. Akhirnya maksain nulis pake hp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s