bukan dengan terus-terusan tidur

“masa muda masa yang berapi-api”

Meski lulus dari fik baru hitungan beberapa bulan, tapi sebenarnya intensitas ke kampus sudah jauh berkurang sejak 1 tahun belakangan. Karena tahun terakhir kami menjalani program profesi, dan itu tidak di kampus tempatnya. “main” adalah kata yang sering saya gunakan kalau datang ke kampus. Karena biasanya memang, saya menyisipkan hal-hal yang menyenangkan dalam kunjungan ke kampus, numpang online gratis di perpus, main sepeda keliling ui, atau jalan-jalan ke TM bookstore yang padahal sejatinya lokasinya tidak di dalam kampus.

Main ke kampus, maka pastilaah bertemu dengan penghuni-penghuninya. Ketemu pak satpam, karyawan perpus yang galak, dan tentu saja para mahasiswa. Kalau ke kampus rasanya jadi sadar kalau saya sudah tua, pasalnya banyak sekali anak-anak baru yang saya tidak kenal, atau adik kelas yang manggil saya kakak sekarang sudah dipanggil kakak oleh orang lain, bahkan, yang manggil kakak ke adik kelas saya, juga sudah dipanggil kakak oleh orang yang lain lagi. Membuat saya merasa semakin sepuh saja.

Ada berbagai respon yang saya terima manakala ketemu adik kelas. Ada yang cuek, ada yang emang ngga kenal, ada yang pura-pura ngga kenal, tapi ada juga yang antusias menegur, bahkan ada yang salim (cium tangan-red) segala, hehe. itu awalnya karena saya suka nyindir kalau dia tidak negor “eh ngga salim sama aku?”.

Ada satu anak, bahagia betul kalau ketemu saya, kaya alay ngeliat anak band, hehe. Saya bilang begini bukannya tanpa dasar, bukan narsis-narsisan atau over kepedean. Saya juga bingung sama anak ini, dari dulu, jaman saya masih kuliah jenjang akademik, kalau ketemu saya selalu semangat banget negur. Saya sendiri tidak ingat kami pernah beririsan dimana, sampai-samapai dia begitu merasa dekatnya pada saya. Yang special dari anak ini adalah, kalau kami ketemu, sering sekali dia minta didoakan, atau sekedar laporan, sekarang dia lagi ikut lomba apa, dia sedang apply program apa. “kakak, doain aku ya, aku mau ikut PKM”, dan kabar-kabar sejenis.

Melihat anak ini, di masa hidup perkuliahan saya yang saat itu, saya bernostlagia. Dulu, saya juga pernah seperti dia, punya target begini, target begitu dalam proses perkuliahan. Dulu saya suka berseloroh dengan teman-teman, bahwa di kelak saya akan jadi mapres dan ketua SM FIK. Selorohan tingkat 1, tapi bedanya saya dengan dia. Saya hanya omong besar, anak ini konkrit mengejar prestasi di bangku perkuliahan. Bedanya saya dengan dia, dia masuk 5 besar mahasiswa berprestasi FIK, sedangkan saya, ke laut aja.

Ada juga anak lain. Sekali waktu ketemu di kampus, dia menegur. Terus terang, ditegur dia saya agak takjub. Pasalnya, dulu waktu saya masih di kampus, dia mahasiswa baru, masih kaku betul. Belum tentu saya ditegur di jalan, segan mungkin, negur yang bukan mahrom. Yap, dia memang ikhwan, dan saya, akhwat wannabe, hehe. maklum lah saya, masa SMA dulu juga saya kaku banget kalo sama lawan jenis, mungkin dia masih terbawa kultur SMA. Tapi kali itu dia menyapa saya duluan, hangat sekali “kak ludi apa kabar? Sibuk nih jarang ke kampus”.

Saat itu kami di perpus, sama-sama make komputer, bersebelahan. Dia tanya kapan saya ada kesempatan buat ketemu. Katanya dia mau ajak saya diskusi. Sebenarnya saya malu, bagaikan meminta tanduk pada kuda. Kalau untuk diskusi, topic yang saya sudah tebak kemana arahnya, sepertinya saya kurang punya kapasitas kesana. Sambil tetep menghadapi komputer masing-masing kami bercakap-cakap sesekali, sampai akhirnya dia bilang “main ke blog saya dong kak”. Sayapun mampir.

Saya buka blognya. Blog aktivis mahasiswa. Saya baca tulisannya. Dan lagi, sayapun iri, pengen juga punya masa seperti ini. Jaman saya jadi aktivis, kayanya tidak “sekeren” dia. Saya, lagi-lagi, bernostalgia, pada masa-masa seumuran dia. Ah, rasa, semangat, harapan, pada masa itu, sudah pergi kemana?

Kembali ke kampus juga membuat saya kembali terpapar dengan dunia mahasiswa dengan mudahnya. Hanya dengan berjalan di selasar, melihat mading-mading yang ditempel sepanjang jalan. Juga dengan membaca media, yang digeletakkan begitu saja di meja lobi, tiap orang bisa ambil, gratis. Hari itu sedang ada media baru. Di dalamnya ada profil mahasiswa, adik kelas saya, sosoknya tidak asing, saya kenal dia sejak dia baru masuk, anaknya memang catchy, hehe.

Di rubrik itu diceritakan sosoknya, Mapres II FIK, sebagai seorang entrepreneur. Dirinya memenangi penghargaan student entrepreneur award, dari bisnis berjualan donatnya. Saya ingat sosoknya, yang tidak malu-malu menawarkan donat ke siapapun yang ditemu. Dan sekarang omset usaha jualan donatnya itu, bisa mencapai 15 juta per bulan. Jumlah yang banyak banget menurut saya. Lagi, saya melihat seorang anak muda, yang serius berusaha mengejar sebuah capaian dalam hidupnya.

Itulah yang saya suka dari “main” ke kampus. Bertemu dengan mereka, para pemuda, yang di dalam dirinya masih banyak semangat yang bergelora. Sepertinya saya sangat memerlukannya.

Saya melihat diri sendiri, seperti orang tak punya ambisi begini. Dulu, di awal profesi masih punya mimpi, lulus dengan cumlaude. Tapi di semester 2, saya melupakannya. Yang penting lulus, begitu saja. Kalau saya ingat sekarang, menyedihkan betul. Dulu, di awal ngeblog, saya punya mimpi, menerbitkan blog saya jadi buku, sekarang rasanya ragu.

Saya yang sekarang, hidup seperti air, membiarkannya mengalir, padahal air kalau hanya mengalir, maka dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendahlah ia. Bahkan sekarang ini, kalau saya bermimpi, saya mengawalinya dengan perkiraan akan kegagalan diakhirnya.

Tapi saya sadar, hidup yang seperti ini, harus diakhiri. Saya masih punya mimpi, dan saya masih ingin menggenggamnya. Saya khawatir, manakala semakin tua, menjalani hidup semakin seperti air, mimpi itu jadi dilupakan. Kata Dede, memang perlu cari komunitas, berkumpul dengan orang yang punya mimpi sama, agar semangatnya terjaga. Kita ini manusia, memang perlu sering diingatkan. Jika sudah tidak bisa mengingatkan diri sendiri, mungkin perlu meminjam tangan orang lain untuk menggetok kepala biar sadar lagi.

Seperti kemarin, ada seorang teman sms, dan di akhir sms-an kami hari itu dia bilang dia ingin sekali punya buku karya saya di perpustakaan rumahnya. Dan kelak suatu hari, dia akan bercerita tentang saya, pada anak-anaknya. Saya jadi tersadar, bahwa saya juga punya mimpi.itu, dan saya tak rela melepasnya. Saya juga jadi ingat mimpi saya yang lain. Mimpi-mimpi yang tinggi. Karena katanya, kalau kita menggantungkan mimpi di langit, maka apesnya kita jatuh di awan, tapi kalau kita hanya menggantungnya di langit-langit, maka apesnya kita jatuh di lantai. Ada percakapan di sebuah film saya lupa judulnya, “makanya kalo mimpi jangan tinggi-tinggi, kalo jatoh sakit”
“tapi kalo ngga tinggi, ngga bisa liat pemandangan indah”.

Man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh akan bisa. Sekarang, sampai dimana jiddiyah atau kesungguhan saya? Ah, lidah saya kelu menjawabnya. Mari kita mulai lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s