soal rasa wajah juga bisa bohong

Smiling outside

Crying inside

you never know me

Seperti yang sudah saya katakan di blog saya yang telah lalu, pernah ada contact yang bilang begitu pada saya. Awal mulanya karena saya mentag-nya di foto-foto tentang karakter di fb, dan saya mentagnya di “laughs a lot”. Sungguh nampol buat saya. Saya jadi ga enak betul, dan meremove tag itu langsung.

Kata-katanya ini memang banyak benarnya. Manusia itu unik, tidak ada yang sama persis. Begitupun dengan kesinkronan bahasa nonverbal dan apa yang terjadi di dalam hati tiap manusia. Ada yang kalau sedih maka menangislah ia, ada pula yang tetap tertawa dan terlihat baik-baik saja.

Memang, sebagian besar orang menunjukkan ekspresi atau respon nonverbal yang sesuai dengan apa yang sedang dirasakan. Bahagia maka tersenyum, bersedih maka menangis. Oleh karenanya orang akan cenderung menyimpulkan apa yang sedang dirasakan seseorang dari respon non verbalnya.

Padahal soal kata lidah bisa bohong, soal rasa wajah bisa bohong juga. Ada orang-orang yang memang cenderung tidak ekspresif, atau ada pula orang-orang yang cenderung menyembunyikan, jadi memanipulasi ekspresinya.

Dulu pernah ada teman, setiap hari keliatan senang terus, bercanda-canda dengan kami semua. Pernah satu hari dia terlihat lebih diam dari biasanya, tapi selebihnya dia ceria lagi. Sampai suatu hari, teman saya ini dapat kabar kalau kondisi ibunya kritis. Dia dapat kabar tersebut saat kami sedang melakukan perjalanan bersama. Dia sempat menangis saat di bis. Mau tak mau saya akhirnya jadi tahu tentang kabar ibunya tersebut. Saya juga jadi tahu bahwa 1 hari dia terlihat lebih diam itu akarena dia mendapat kabar tentang penyakit ibunya. Dia berpesan “jangan bilang-bilang ke anak-anak ya Di”. Sepulang dari perjalanan itu, saat kuliah, saat berinteraksi dengan teman-teman dia terlihat biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa, pada ibunya atau anggota keluarganya manapun. Tidak ada yang bisa menebak suasana hatinya yang sebenarnya.

Ternyata, tidak selamanya menangis berarti sedih, tertawa sejatinya sedang bahagia. Sayangnya tak banyak orang mengetahui akan hal ini, termasuk juga saya.

Masih lekat dalam ingatan, salah 1 episode kehidupan saya di REMAS (remaja masjid) SMA. Waktu itu sedang pemilihan ketua REMAS, calon-calonnya teman saya seangkatan, karena memang kamilah yang akan menjalani kepengurusan periode berikutnya. Saat sang ketua terpilih terlontar;ah kalimat kekecewaan dari seorang kakak kelas “ih dia ko ngga nangis sih? Dulu waktu si xxx (ketua remas sebelumnya, teman seangkatan akhwat ini) terpilih dia sampe nangis tau”. Paham saya maksudnya, karena hakikat menjadi pemimpin bukanlah anugrah melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Oleh karenanya Abu Bakar ra mengawali pidato fenomenalnya itu, ketika diangkat menjadi khalifah dengan innaliLLAHI wa inna ilaihi roji’un. Maka bagi kakak kelas saya, menangis akanlah lebih pantas ketimbang cengengesan.

Saya hanya diam mendengar komentar kakak kelas saya itu. Saya, antara kecewa dan tidak. Saya sedikit kecewa juga melihat ketidakmenangisannya sang ketua terpilih. Ekspresinya menunjukkan seolah-olah dia tidak menyadari beratnya amanah yang baru saja diletakkan di pundaknya. Tapi di sisi lain saya juga tidak rela, teman seangkatan saya, partner saya, dikomentari dan dibanding-bandingkan begitu. Dan ternyata perasaan inilah yang lebih dominan.

Di kemudian hari saya dapat cerita bahwa ternyata si ketua baru itu menangis, tidak di depan forum sidang, tapi di masjid sekolah, selepas acara itu usai. Dia menangis di tengah kawan-kawan ikhwan. Ingin rasanya saya berlari dan menyampaikan kabar ini ke kakak kelas itu, bilang padanya “*** juga nangis ko mba”. Dia tidak menangis saat itu, tidak berarti hatinya tidak cemas, tidak berarti dia menggampangkan amanah. Ah, saat itu kami (saya dan juga kakak kelas) hanyalah anak-anak muda yang sedang bergeloranya, hanya melihat hitam dan putih dalam kehidupan kami, padahal masih ada oranye dan warna lain (kenapa mesti oren coba?)

Saya jadi ingin membuat tulisan ini karena melihat adegan di serial korea cinderella’s stepsister. Eun Jo (mudah-mudahan tulisannya bener) memang orang yang tidak suka menunjukkan ekspresinya, yang terlihat hanyalah marah dan sikap keras. Saat ayah tirinya meninggal, Eun Jo tidak terlihat menangis di hadapan orang lain. Hyo Seon menegurnya “tidakkah kau sedih sedikitpun dengan kematian ayah? Kenapa kau tidak menangis sama sekali? Bukankah kau bilang kau sangat menghormatinya, tidakkah kau merasa sedih sedikitpun?” Padahal saya sebagai penonton banyak melihat adegan Eun Jo menangis setelah ayahnya meninggal. Bisa dibilang dialah orang yang paling menyesal dengan kematian ayahnya. Eun Jo meminta maaf sambil menangis tersedu-sedu sementara ayahnya sudah tidak bisa menjawabnya. Bahkan saya ikut menangis melihat adegan itu (weleeeh) karena membayangkan bagaimana penyesalan seorang anak yang selalu bersikap dingin padahal ayah tirinya benar-benar menyayangi dan bersikap baik padanya layaknya ayah kandung. (duh, saya terharu bener kalo liat kebaikannya Day Seon). Dalam kehancuran itu Eun Jo harus menghadapi pertanyaan “tidakkah kau bersedih sedikitpun?”

Begitupun sebaliknya, menangis tidak selalu karena haru. Makanya kita mengenal istilah air mata buaya. Karena memang ada mata-mata yang menangis, tapi hatinya tidak, tangisnya palsu. Tak perlulah saya beri contoh, tulisannya udah kepanjangan, hehe.

Saya teringat sebuah peribahasa, dalamnya laut dapat dikira, dalamnya hati siapa yang tahu. Saya jadi belajar untuk tidak buru-buru menilai, tidak buru-buru berkomentar, hanya karena melihat ekspresi seseorang. Karena apa yang sebenarnya tersimpan di dalam hati, saya tidak tahu pasti. Pun kalau saya tahu, apalah hak saya menilai. Yang penting bagi saya adalah menghargai setiap pilihan orang lain yang ingin menunjukkan atau menyembunyikan perasaannya. Karena tiap pilihan ada konsekuensinya. Semoga tiap pemilih telah siap menanggungnya.

gambar diambil dari pro.corbis.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s