indonesia mencari pemikir

Bakat itu apa sih? kalau menurut KBBI yang ada di lemari perpus FIK (ketauan deh gw nulis ini di kompi perpus, hehe) bakat artinya dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang dibawa dari lahir. Bakat akhir-akhir ini lagi rame disebut-sebut sejak trans tv menggelar acara indonesia mencari bakat. Melalui program tersebut dikumpulkanlah orang-orang indonesia, yang dianggap memiliki bakat, dan kemudian diadu (emangnya ayam) untuk dapat dukungan terbanyak dari pemirsa.

Apa gunanya bakat? kalau secara arti katanya, dengan dimilikinya sebuah bakat, maka akan memudahkan orang untuk meraih kemahiran dalam bidang yang sesuai dengan bakatnya. Ya ngga sih? Tapi, apakah bakat itu menjamin sebuah kesuksesan atau kepiawaian seseorang dalam bidang tertentu? Menurut saya tidak juga.

Saya ini, emang suka ke-pede-an, merasa memiliki banyak bakat, hehe. Suatu hari saya berseloroh pada teman saya yang baru tahu keahlian saya yang lain “gw ini emang multi talented, sayang aja gw ga ikutan imb”. Lebay. Becanda. Jumawa. Tapi tak disangka teman saya jawab “bakat lo mah Di, ga level sama orang-orang di imb itu, lebih tinggi”, kira-kira begitulah kata-katanya. Saya tertawa. Bener juga sih, akhir-akhir ini saya baru sadar, bahwa bakat yang dicari di imb itu adalah bakat menghibur, dan saya bukan wanita penghibur, makanya bukan saya yang dicari IMB.

Nah, dapatlah 1 bukti, saya ini (merasa) banyak bakat, tapi saya (merasa) belum sukses tuh. Tak ada 1 skill khusus yang benar-benar saya kuasai sampai tingkat ahli sampai saat ini.

Jadi, kembali tentang bakat, menurut saya bakat itu tak terlalu esensial menunjang kesuksesan seseorang. Saya lebih percaya pepatah arab “man jadda wa jada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti bisa. Karena bakat itu, menurut saya, hanyalah sebuah bahan mentah, seperti halnya terigu, yang kalau tidak diolah, tetaplah dia tepung yang tidak enak dimakan. Lain halnya kalau si terigu itu diolah, dibuat adonan, dipanaskan, digoreng atau dimasukkan oven, bisa jadi bakwan, nastar, atau kue lain yang lebih enak ketimbang tepung terigu.

Saya punya 1 contoh bagus. Tahukah anda si kakak beradik venus dan serena williams? Di suatu tayangan tv, saya dapat cerita. Bahwa, sebenarnya venus dan serena bukanlah lahir dari keluarga petenis, atau sejak lahir sudah biasa megang raket. Tidak seperti itu. Tapi, venus dan serena akhirnya dibentuk untuk menjadi petenis setelah ayahnya melihat tayangan tv (sampe disini gw dan ayahnya venus dan serena punya kesamaan, suka terinspirasi dari tv, hehe) tentang pemberian hadiah pada turnamen tenis. Sang ayah takjub, melihat nominal yang diberikan penyelengara turnamen bagi pemenangnya. Sungguh jumlah yang sangat besar. Seinget saya, keluarga mereka memang bukanlah keluarga kaya. Maka sang ayahpun sejak itu bertekad, untuk membentuk anaknya sebagai petenis, dan menjuarai turnamen-turnamen. Tujuannya, uang dengan nominal yang besar. Hasilnya anda mungkin sudah tahu sendiri, venus dan serena menjadi petenis peringkat top dunia dan banyak meraih gelar Grand Slam. 

Mengetahui hal ini membuat saya berpikir, bahwa bakat itu ngga penting-penting amat. Yang penting adalah kemauan dan kerja keras. Anak-anak biasa bisa menjadi petenis kelas dunia. Anak andapun mestinya bisa. Jadi, kalau memang sudah bertekad untuk bisa, dan kemudian berusaha keras mewujudkannya, maka akan bisa.

Maka, untuk orang-orang yang merasa tidak berbakat, tak perlulah kecil hati. Tak ada yang tak mungkin dengan izin ALLAH.

~maap kalo ni tulisan garing banget, nulisnya maksa dan buru-buru soalnya, pake jurus ajimumpung hehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s