Am I “bego-er” than a 5th grader?

Beberapa waktu lalu seseorang minta diajarin matematika dasar. Saya bilang, nanti, saya mesti belajar dulu, soalnya udah lupa-lupa. Orangnya agak kurang percaya, karena dia memandang saya ini pinter. Haugh..pandangan yang menyesatkan. Kalau saya bilang, matematika dasar itu statusnya buat saya “pernah bisa”, bukannya bisa. Untuk soal-soal aljabar, logaritma, persamaan linear 1 atau 2 peubah, eksponen dan bentuk akar, turunan, mungkin masih bisa meraba-raba, tapi kalau soalnya sudah tanjakan (lawannya turunan, integral maksudnya), limit fungsi, apalagi dimensi tiga, bener-bener gelap. Yah, namanya juga 5 tahun ngga makan kwetiau bareng matematika, jadi saya udah lupa, mungkin si matematika juga udah lupa sama saya.

Saya jadi mikir, andai saya ikutan lagi spmb, pasti tidak bisa, karena spmb sekarang udah tidak ada. (halah jayus). Yah, kalau saya ikut-ikutan seleksi masuk perguruan tinggi negeri begitu sekarang ini, mungkin saya hanya akan merasakan tidak lolos untuk ke-5 kalinya (lebay, mestinya 2, hehe). Bukan apa-apa, karena saya memang sudah tidak lagi bergesekan dengan pelajaran-pelajaran itu.

Perhitungan yang saya lakukan selama kuliah paling waktu statistic, itupun pake kalkulator. Menganalisa data waktu penelitian juga pake program SPSS. Coding-coding, masukin data, trus criiing..analisanya keluar. Ilmu hitung paling sering saya gunakan untuk menghitung berapa tetesan infuse per menit, atau berapa cc obat yang perlu diambil sesuai dengan dosisnya setelah obat itu diencerkan, atau berapa kebutuhan nutrisi dan cairan klien, atau balance cairan. Tidak jauh-jauh dari situlah. Tidak ada integral, limit fungsi, apalagi irisan kerucut.

Apakah itu artinya saya ini lebih bodoh dari anak kelas 3 sma? Mungkin.

Saya jadi ingat dengan kuis “a*e you smarter than a 5th grad*r” yang ditayangkan di sebuah stasiun tv. Sebenarnya saya ini belum pernah nonton kuis ini secara lengkap dari awal sampe habis sama sekali. Nonton yang sepotong-sepotong juga tidak sampai 5x. Namun dari pengamatan sederhana saya, saya akui soal-soal di kuis ini lumayan susah. Pernah saya nonton, pertanyaan pertama kategori bahasa inggris kelas 4 kalau tidak salah, apa bahasa inggrisnya perosotan?. Itu lho, mainan perosotan yang suka ada di tk. Maaf saya tidak tahu bahasa Indonesia yang benarnya apa, bahasa inggrisnya slider. Dan saya, cuma bisa melongo, kaga tau jawabannya bos!! Saya jadi horror, soal pertama aja saya tidak bisa. Pahit betul. Dari jaman masih sekolah dulu, saya ini paling sebel kalau ujian soal pertamanya saya tidak bisa, meski 24 soal berikutnya mungkin saya bisa (bisa nembak, hehe). Bikin ciut nyali. Makanya saya menghimbau para pembuat soal, kalau soal nomer 1 itu kasihlah yang gampang dulu. Contoh lainnya adalah pertanyaan dari mana asal lagu “o ina ni keke”. Waduh. Kalau disuruh nyanyi saya masih bisa, setidaknya kalimat pertama. Tapi kalau darimana asal itu lagu, mana gw tau.

Apakah itu artinya I am bego-er than a 5th grader? Maybe.

Ilmu itu, memang karakternya mudah hilang karena lupa. Makanya Ali bin Abi Thalib ra sampai berpesan agar kita mengikatnya dengan menuliskannya. Imam syafi’I juga sependapat dengan Ali ra, beliau bilang ilmu itu seperti binatang buruan, sedangkan tulisan itu adalah tali pengikatnya. Artinya, ilmu itu memang suka lari dari otak. Dan dengan adanya tulisan, meski dia lari, kita masih punya arsip, masih bisa dipelajari lagi, tidak benar-benar kabur dia.

Sama halnya dengan pelajaran sma atau bahkan pelajaran sd. Dulu mungkin kita pernah bisa, tapi karena sudah tidak dipelajari, maka jadi lupa. (tapi kalo bahasa inggrisnya perosotan kayanya waktu gw sd gw juga gatau deh). Tapi, salahkah kalau kita jadi melupakannya karena sudah tidak diulang-ulang lagi? Entah. Saya tidak bisa jawab. Namun pada hemat saya, tidak masalah.

Pendidikan tinggi kita, membuat kita semakin menjadi spesialis. Kita semakin fokus mempelajari hal-hal yang menunjang pekerjaan atau keahlian kita kelak. Dan itu akibatnya, menyampingkan hal-hal lain yang akan tidak digunakan. Kenapa tidak dipelajari saja semuanya? Ya silakan aja kalau sanggup mah, tapi buat apa? Toh kalau tidak dipakai juga lambat laun akan lupa. Jadi mau tidak mau ya kita harus memilih, sama seperti memilih jurusan, ada yang kita pelajari secara mendalam, dan ada yang tidak kita perdalam lagi. Dan sebagaimana sebuah pilihan, semua punya konsekuensi. Jadi kalau menurut saya, pelajari hal-hal yang memang akan kita gunakan secara mendalam. Untuk yang diluar itu, boleh juga dipelajari, untuk sekedar tahu. Biar jadi generalis yang spesialis, mantep!

Kembali ke pertanyaan “am I bego-er than a 5th grader?” entah. bagaimana kalau pertanyaannya dibalik saja, diajukan pada para 5th grader, “are u smarter than a ners?”. Jangan-jangan jawabannya iya, aduh maak!! (lagian ners-nya kaya gw sih)

 

5 Agustus 2010

Akhirnya ditulis juga 😀

Advertisements

2 thoughts on “Am I “bego-er” than a 5th grader?

  1. kerasaa banget kalo lagi nemenin belajar adikq yang paling kecil..
    weleeeeh.. aku dudul banget yak sekarang.. lupa semua =)))
    qiqiqi

    quran juga kek unta ya.. mudah lepas *jleeb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s