All Isn’t By My Self

Di usia seperti saya ini, kebanyakan orang mengalami perubahan dalam fase hidupnya. Kebanyakan adalah perubahan 2 fase yaitu semula adalah fase menjadi seorang mahasiswa, kemudian berganti menjadi seorang pekerja. Serta perubahan dari fase lajang, menjadi fase menikah. Dan beruntunglah anda, hehe, karena yang ingin saya bahas adalah perubahan yang kedua.

Seperti yang mungkin juga dirasakan oleh teman-teman. 2 bulan terakhir adalah musim kondangan. Kenapa saya bilangnya musim kondangan bukan musim nikah? Soalnya peran saya memang kondangan kemaren, bukan berperan sebagai orang yang nikah, hoho. Teman saya yang nikah banyak sekali. Temen pengajian ada 2 orang, temen sekelas SMA ada 4 orang, temen kuliah ada 2, bahkan temen paling deket waktu smp juga nikah.

Orang yang memang sudah kepengen menikah, melihat temen nikah begitu, makin bertambahlah mupengnya. Tapi, orang-orang yang pada dasarnya belum ada keinginan yang kuat untuk memasuki fase itpun, mau tidak mau terbersit pula sedikit cemas. Mungkin bukan cemas “kapan giliran saya?”, tapi cemas “nanti temen jalan gw siapa? Nanti siapa lagi yang bisa diajak curhat-curhatan dan makan bareng?”.  Seorang teman cerita, ada perempuan, sampe nangis waktu datang ke kondangan seorang temannya, terus sambil nangis gitu dia minta ke teman-temannya yang lain, agar tidak menikah mendahului dia. Soalnya dia takut nanti ngga ada temen lagi. Ih, saya diceritain begitu jadi heran, ko kurang salimul aqidah? Emangnya jodoh bisa diatur semau kita?

Ada lagi seorang teman saya yang lain. Sekarang dia sudah jauh di pulau seberang. Gara-gara melihat tulisan saya di season lalu, season bertema cinta dan pernikahan, dia jadi cemas. Sampe tanya ke teman saya yang lain, bagaimana keadaan teman-teman yang di pulau jawa, kenapa ludi ngomongin nikah, memangnya disana udah pada akan nikah, sementara dia belum.

Kehilangan teman memang rasanya tidak enak. Saya tidak bilang bahwa setelah menikah seseorang jadi tidak bisa jadi teman lagi. Tidak sepenuhnya begitu juga. Tapi kita yang jadi temannya tau diri lah, pasti akan ada perubahan. Ada waktu-waktu yang dia miliki, yang harus dibaginya dengan orang yang lain lagi. Kalau dulu berangkat I’tikaf bareng kita, setelah nikah ya sama suami. Kalau dulu telponannya sama kita, setelah nikah jadi sama suami. Dan kita sebagai teman, jangan menuntut yang sama seperti dulu, fase hidupnya memang sudah berubah say.

Tidak enaknya adalah, kalau kita jadi yang terakhir. Yang lain udah punya teman baru (baca: suami atau istri). Lha kita sendiri belom. Ngenes juga yak? Nah..pas lagi masa-masa kondangan kemarin, pas lagi dapet cerita-cerita begini, pas mulai menghitung-hitung teman yang tersisa, pas banget saya lagi seneng sama lagu “all by myself”, dan saya baru ngeh lagu ini cukup mewakili, meskipun sebabnya beda dan didalamnya ada liriknya begini

Livin’ alone
I think of all the friends I’ve known
When I dial the telephone
Nobody’s home

Hiyaa..saya langsung ketawa, sambil bilang dalem ati “sedih amat”. Trus udahannya saya mikir, kira-kira kalau lagunya dibikin jaman sekarang, jaman orang-orang udah punya henpon, tidak lagi telpon-telponan pake telpon rumah, liriknya jadi gimana ya? Hehe.

Tapi kalau saya belajar dari pengalaman hidup orang lain. Saya melihat orang-orang di sekitar saya, yang bisa dibilang nikahnya belakangan, bahkan belum menikah, sementara teman-temannya sudah berkembang biak jadi banyak (etdah bahasanya). Beryukurlah saya, orang-orang saya lihat itu, setidaknya terlihat, menikmati hidupnya, menjalaninya dengan biasa. Kaya lagunya d’massiv, syukuri apa yang ada. Temannya memang jadi berganti-ganti terus, bahkan jadi temenan sama orang-orang yang lebih muda, karena yang seumuran sudah pada berkeluarga, tapi tetap ada teman ko, live still go on.

Jadi saya pikir, menjadi yang belakangan tak perlulah terlalu dirisaukan. Karena selain jodoh memang di tangan ALLAH. Hidup ini terlalu berharga untuk dirisaukan dengan hal-hal seperti itu. Lagipula, seperti yang pernah saya tulis di blog sebelum-sebelumnya, bahwa tidak semua orang harus jadi lifetime buat kita. Mungkin dia memang cuma season, atau bahkan reason, yang kelak akan berganti. Kalaupun dia season, buatlah season yang sekarang adalah season yang baik dan menyenangkan. Jangan sibukkan diri dengan kekhawatiran dia akan pergi dari sisi kita. Betul tidak?

So, nikmati saja musim kondangan ini, nikmati saja senyum bahagia teman-teman kita di hari pernikahannya, sambil terus nabung, gitu kan wen?

Tuh kan gw jadi ngomongin ginian lagi, udah-udah…

 

5 Agustus 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s