Pemikirulung Kecil Cerminan Anak Indonesia

Entah kenapa pagi ini saya jadi bernostalgila, teringat kenangan masa kecil. dan saya jadi pengen cerita. Yowis ditulis saja, itung-itung lagi momen “hari anak nasionalâ€?.

Pemikirulung kecil adalah anak indonesia kebanyakan. Tak ada yang terlalu istimewa darinya. Pemikirulung kecil adalah seorang anak perempuan dengan postur tubuh kecil, tidak kurus dan tidak juga gemuk. Pemikirulung kecil adalah anak perempuan penurut, berteman banyak, berprestasi sekolah lumayan. Tidak nakal, tidak suka bikin onar.

Itulah yang ingin digarisbawahi, tidak nakal dan tidak suka bikin onar. Pemikirulung kecil mirip-miriplah sama "amir di mata baba" di buku the kite runner. Tidak memiliki kemampuan untuk mengejami orang lain. Begitulah kira-kira. Bahkan sampai sekarang masih begitu.

Pemikirulung kecil hanyalah anak kecil. Yang kadang polos dan karena kepolosannya jadi bertindak bodoh. Yang karena tindakan bodohnya maka dia mencelakakan orang lain. Tapi Pemikirulung kecil tak berniat jahat. Tak bermaksud kejam. Hanya kepolosan.

Berhubung bapak Pemikirulung adalah seorang yang "tua" dalam silsilah keluarga. Maka kalau dari segi struktur keluarga, Pemikirulung meski masih kecil sudah punya ponakan. Tak lain dan tak bukan adalah cucu dari budenya. Ponakan Pemikirulung, tak sedikit yang hampir seumuran. Bahkan ada yang lebih tua.

Ceritanya suatu hari di kehidupan Pemikirulung kecil. Dia berkunjung ke rumah family bersama bapaknya. Ke rumah seorang "mas". Dan di sana ada anak “masâ€? yang itu artinya adalah keponakannya. Waktu itu mereka bertiga. Pemikirulung kecil dan 2 ponakannya. Sebut saja si budi dan wati. Saat itu mereka bermain bersama, mainnya di rumah om yang tak jauh dari rumah "mas" (maap ya kalo puyeng). Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pindah. Pergi meninggalkan rumah om, menuju rumah "mas", yang mana bahwa mas ini adalah ayah wati.

Pemikirulung kecil diajak berkonspirasi oleh budi untuk mengagetkan wati. Awalnya mereka sepakat untuk menempuh jalan yang sama dari rumah om menuju rumah wati. Tapi, budi bersiasat, mereka berdua menempuh jalan pintas sementara wati tidak tahu. Dia berjalan memutar. Sehingga "duo siasat" ini sampai duluan di rumah wati. Dan mereka menunggu di suatu tempat untuk mengagetkan wati begitu dia sampai.

Diam-diam mereka bersembunyi. Terdengar langkah wati di kejauhan. Dia berlari, di kegelapan malam, sendirian. Begitu wati sampai, "dor!!". Budi dan Pemikirulung kecil kompak layaknya suporter bola kalau ada bola masuk ke gawang. Wati kaget. Sangat kaget tepatnya. Pemikirulung kecil dan budi cengengesan. Merasa upaya mereka berhasil, puas sekali. Tapi tidak lama. Karena di depan mereka wati jatuh tersungkur, menangis, napas terengah-engah, tangannya memegang dada, ekspresinya meringis, kuku dan mulutnya berubah kebiruan. Wati, dengan napasnya yang satu-satu menangis memanggil bapaknya. Saat itu juga Pemikirulung kecil menyadari kesalahannya. Sebuah kesalahan besar.

Bapak Pemikirulung keluar dari rumah ayah wati. Ayah wati juga keluar. Sama-sama keluar mereka. Bedanya, ayah wati lantas menolong wati, sementara bapak Pemikirulung memarahi Pemikirulung habis-habisan. Tapi, tanpa dimarahi Pemikirulung kecil sudah sangat menyadari kesalahannya. Dia tahu bahwa siasat mengagetkan wati yang sejak lahir punya kelainan jantung congenital adalah kesalahan fatal. Pemikirulung kecil hanya bisa menyesal, kenapa tadi dia melakukannya. Mau saja dia bersekutu dengan budi, keisengan polos, padahal dirinya lebih tua. Harusnya lebih waspada. Pemikirulung kecil cuma diam dan ketakutan, melihat ponakannya yang memang punya kelainan jantung itu sedang megap-megap di depannya.

Pemikirulung kecil hanya polos dan pendek akal. Tak ada niat jahat. Tak ada kemampuan mengejami orang lain.

Lain waktu, Pemikirulung kecil juga punya cerita. Lagi-lagi dengan family. Kali ini dengan keponakannya yang lain. Di suatu sore, di tempat family yang hajatan. Pemikirulung kecil bermain-main bersama ponakan, kali ini bukan budi, bukan pula wati, sebut saja dia amir. Saat itu dia berdiri di pinggir jalan. Jalannya agak tinggi dibanding tanah di sekitarnya, tingginya sekitar 0.5 m. Di sebelah jalan itu, di bawah, adalah teras rumah lain. Dan sore itu, teras rumah itu becek. Pemikirulung kecil yang sedang berdiri di pinggir jalan, di ketinggian, berdiri menghadap teras rumah. Dari belakangnya, amir mendorong sambil memegangnya, amir bilang “untung gue peganginâ€?, gerakannya seolah-olah mengguncangkan badan Pemikirulung kecil. Mendorong, tapi sambil dipegangin. Pemikirulung kecil kaget sekaget-kagetnya. Hampir saja dia jatuh setinggi 0.5 m. buat anak-anak, itu lumayan tinggi juga.

Pemikirulung kecil merasa tidak terima telah dikejutkan seperti itu. Diapun berpikiran membalas. Setelah melihat kesempatan, dia tak mau melewatkannya. “untung gue peganginâ€?, begitu kata Pemikirulung kecil, persis meniru. Tapi sayangnya, hanya kata-katanya yang ditiru, tapi tidak metodenya. Pemikirulung kecil mendorong amir ke arah teras begitu saja. Dan jatuhlah si amir. Jatuh dari ketinggian. Jatuh tengkurap. Kena becek-becekkan. Amir menangis. Menangis sejadi-jadinya. Sepanjang tangisannya dia menyebut-nyebut nama Pemikirulung, tapi diberi tambahan kata “nakal, pukul aja diaâ€?.

Pemikirulung kecil cuma bengong, bingung dia, kenapa amir bisa jatuh segitu fatalnya padahal dia tadi tidak. Pemikirulung kecil akhirnya sadar, bahwa kalimat “untung gue peganginâ€? merupakan gabungan dari kata “untungâ€? dan frase “gue peganginâ€?. Pemikirulung kecil hanya tahu dia tadi didorong, dan diapun membalas begitu.

Pemikirulung kecil tidak sadar, bahwa perbuatannya dan perbuatan amir adalah hal yang sangat berbeda. Dia tidak tahu, bahwa kata-kata “sukurin lo gue dorongâ€? lebih cocok digunakannya tadi ketimbang “untung gue peganginâ€?. Karena memang itu yang dia lakukan. Mendorong. Dan tak ada sama sekali unsur memeganginnya, tidak seperti amir tadi.

Pemikirulung kecil hanya polos dan pendek akal. Tak ada niat jahat. Tak ada kemampuan mengejami orang lain.

Begitulah 2 fragmen dalam kehidupan Pemikirulung kecil. Hanya kepolosan anak-anak. Kepolosan yang membawa kebodohan. Kebodohan yang kemudian mencelakakan. Untungnya hanya 2 kisah sepanjang masa kanak-kanak. Karena Pemikirulung kecil hanyalah anak Indonesia kebanyakan. Kenakalannya bukan rencananya. Selebihnya, dia hanyalah anak kecil biasa.

~selamat hari anak nasional wahai para anak. untuk kisah pemikirulung kecil lainnya, buka tag "nostalgila", semoga bermanfaat. dan jangan ditiru. hoho.

~makasi buat
diah yang rela hati bantuin publish tulisan ini, kau adalah yang pertama, namun bukan yang terakhir bagiku (hihihihi) *sambil lirik cewe laen*, kata Diah,"
Ah abang..kok gitu?"

baca juga
Jejak Kelicikanku

Advertisements

23 thoughts on “Pemikirulung Kecil Cerminan Anak Indonesia

  1. pemikirulung said: Boleh minta tolong ga di? Dicopasin dari note ku di fb dong. Ceritanya jadi ga nyambung. Btw, nomermu ga aktif ya?

    Ooooo
    Jadi abang semalem mau minta tolong iNi? Huhu sayang inetku lagi rusak.kadang connect dan sering ga connect

    Btw. Kak wati gimana kabar?
    Cerita yang kedua asli bikin ngakak. Tapi si amir tetep kasian πŸ˜€

  2. luvummi said: ternyatah kejem banget critanyah πŸ˜€

    kamu salah diah, pemkirulung sejak dulu sampai sekarang tidak punya kemampuan mengejami orang lain

    kalau terlihat kejam, itu karena kepolosan, kepolosan yang membawa kebodohan, haha

  3. aishachan said: OooooJadi abang semalem mau minta tolong iNi? Huhu sayang inetku lagi rusak.kadang connect dan sering ga connectBtw. Kak wati gimana kabar?Cerita yang kedua asli bikin ngakak. Tapi si amir tetep kasian πŸ˜€

    iya..gitu deh chan, untung istriku banyak :p

    wati menjalani operasi jantung pas usianya 18 tahun. sekarang dia udah sehat, gapernah sianosis lagi katanya (bibir, kuku berwarna kebiruan)

  4. aishachan said: Cerita yang kedua asli bikin ngakak. Tapi si amir tetep kasian πŸ˜€

    oiya ini belom kejawab :p

    haha..lucu ya, aku waktu kecil dodol banget emang
    iya, kasian amir, tapi sepertinya dia udah lupa.
    kayanya gada yang inget kejadian ini, tidak budi, wati, tidak pula amir, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s