Nenek dan Cucu Pemelihara Serigala

Tadi siang terjadilah percakapan maya antara nenek dan cucunya. Sebenarnya percakapan biasa saja. Tapi akhirnya mengalirlah kemana-mana. Dan sampailah pada sebuah fakta, yang membuat sang nenek bisa mengambil benang merah tanpa sengaja. Sebenarnya ini mudah saja, mengingat taraf kecerdasan sang nenek di atas rata-rata (haha). Sang nenek jadi “ngeh” dengan siapa yang cucunya curhatkan di percakapan episode sebelum-sebelumnya, jauh sebelum percakapan yang sekarang.

Si nenek teringat, sekitar 3 pekan lalu sang cucu curhat. Tentang kekesalannya pada seseorang. Muak dan benci jadi satu. Tapi sebenarnya lantaran kecewalah perasaan itu. Kalau boleh diibaratkan, kecewa lantaran anak kuda yang dipeliharanya ternyata memiliki nafsu serigala dan kemudian memperturutkannya sehingga tumbuhlah dia jadi serigala.

Saat itu, sang nenek yang dicurhati memberi petuah banyak sekali. Bahwa kita ini hanya pemelihara, soal genetik di luar kuasa kita. Di tengah jaman seperti ini, wajarlah jika napsu-napsu serigala tak terkendali dan jadi menguasai. Apalagi jika kita tidak berkumpul sesama kuda, dan malah masuk ke hutan belantara tanpa teman, tanpa kawanan. Pokoknya sang nenek memberi petuah-petuah bijak sekali. Sebenarnya, memang oleh sebab itulah dirinya dinobatkan sebagai nenek. Bukan karena garis keturunan, bukan pula karena usia, tapi semata-mata karena kalau dia sudah angkat bicara, terlihat begitu “tua”, persis nenek-nenek yang banyak pesen-pesennya, persis nenek-nenek yang panjang wejangannya.

Tapi siang itu si nenek akhirnya jadi tahu. Siapa tokoh yang cucunya curhati. Yang telah membuat sang cucu muak begitu besarnya. Ternyata orang itu adalah salah satu anak kudanya juga. Maka kecewa pulalah sang nenek siang itu. Baru tahu dia bahwa anak kudanya jadi serigala di belakangnya. Padahal si nenek juga berharap, seperti halnya harapan para pemelihara. Bahwa nanti peliharaannya kelak jadi peliharaan unggulan. Sama harapannya dengan para orangtua, bahwa anaknya bisa tumbuh jadi anak yang soleh. Si nenek sedih bukan kepalang, anak kudanya jadi bangsa buas karnivora. Padahal dia berpikir, anak kudanya akan jadi kuda yang gagah dan kencang larinya, dan tinggal sedikit lagi usaha merubahnya jadi kuda yang perkasa. Tapi ternyata anak kudanya, memilih jadi serigala.

Si nenek kini merasakan hal serupa. Hal yang telah dirasakan cucunya 3 pekan lalu. Curhatan cucunya di episode obrolan virtual sebelumnya. Dan si nenek hanyalah manusia biasa. Si nenek adalah orang indonesia kebanyakan. Bohong kalau nenek bilang tidak kecewa. Pahit. Memang. Mungkin lebih pahit dari daun pepaya. Dan si nenekpun membuka chatlognya, menekuri petuah-petuah yang telah diberikannya pada cucunya. Kali ini dibacanya untuk dirinya sendiri. Si nenek juga belum pandai. Si nenek juga masih harus belajar. Kini dari petuahnya sendiri.

~gambar dari corbisimage.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s