Padahal Katanya Laki-laki Itu Mudah Melupakan Rasa Sukanya

Telah lama cinta terbiar dari cinta yang suci

Telah lama cinta tersasar dari cinta hakiki

Kerna sekian lamanya manusia dibuai cinta nafsu

Kita sering menyangka cinta manusia itu yang sejati

Saya pernah baca di sebuah artikel, tentang fakta-fakta dari seorang laki-laki. Bacanya dari note fb temen gitu, biasalah, artikel yang kalo jaman dulu biasa nyebarnya lewat milis. Semacam artikel yang sebenernya banyak benernya, tapi diramu dengan gaya yang santai. Yaa..bisa dibayangin lah.

Dudulnya, yang paling saya inget cuma 1 fakta, yaitu katanya laki-laki itu mudah melupakan rasa sukanya. Ehehe. Namanya juga manusia, unik, ngga bisa dipukul rata, banyak yang sepakat tapi banyak juga yang engga. Maka seperti biasa, saya survey-lah pada beberapa laki-laki yang memang bisa saya jangkau untuk membuktikan seberapa benarnya fakta ini.

Ternyata kebanyakan pria tidak mengakuinya. Ehm..ehm..uhukk..uhukk. Observasi sederhana saya juga mengatakan begitu. Banyak juga ko laki-laki yang sulit melupakan rasa sukanya pada seorang wanita. Ada yang sampe ngancem-ngancem bunuh diri karena mau ditinggalin ceweknya, ada yang masih aja dijadiin bahas tulisan di blognya padahal sudah berlalu lama, ada yang sampe membujang hingga tua karena wanita yang dicintanya menikah dengan pria lain (yang tidak lain adalah kakaknya sendiri, kaya sinetron tapi ini nyata), ya macem-macem lah. Hehe. Nah inilah yang sebenernya pengen saya bahas. Tentang seorang pria yang sudah mencinta cukup lama. Uhuuy.

Terus terang, saya suka kasian sama orang-orang kaya gini. Yang katanya mencintai (ah untuk sementara sebut saja dulu ini cinta ya, biar gampang) seseorang dengan demikian besar, tapi tidak atau belum juga dipersatukan. Kasian lihatnya.

Dulu ada temen MPers, sudah ada kecenderungan satu sama lain, tapi belom dibolehin nikah sama orang tuanya. Dan ortunya ngga bergeming dengan rayuan, tidak ya tidak. Kasian saya sama mereka. Karena saya tahu kalau mereka sudah begitu mendamba pernikahan. Kabarnya mereka baru akan nikah tahun depan. Saya tanya kenapa lama betul, kenapa ga November, dia jawab “kalo aku mah maunya sekarang Di”. Tuh kan kasiaan. Yaa..bantu doa lah.

Saya juga lihat seseorang. Sepertinya rasa sukanya pada seorang perempuan demikian besar. Sayangnya, ini orang kayanya tidak menutupi rasa sukanya itu. Sepertinya semua teman-temannya tahu, dan parahnya suka diledek-ledekin di FB. Mau tidak mau, saya yang orang luar jadi bisa menerka, padahal saya hanya membuka beranda fb, tidak sampai jauh-jauh mengunjungi halaman profilenya. Dan akhirnya saya bisa mengambil benang merah alasan dia menggunakan id sebuah akun dunia maya-nya (akun apa? Rahasia ), ternyata id itu merujuk pada wanita yang dicintainya tersebut. Oalaah pantesan dia suka nyebut-nyebut ke saya kalo id-nya itu adalah calon istrinya!! Yang bikin saya kasian pada dia adalah sebuah statemen-nya suatu hari, waktu diledekin sama seseorang, lagi-lagi di fb, kenapa dia ngga menikah saja kalau memang sudah punya pilihan “gw mau sama dia, tapi dianya ngga suka sama gw”. Dan saya tahu pria ini masih sangat mengharapkan wanita itu sampai sekarang. Trust me, I have some data .

Saya jadi keingetan sebuah nasyid, meski sebenernya kurang nyambung, biarlah saya sambung-sambungin

Tuhan dulu pernah aku menagih simpati

Kepada manusia yang alpa jua buta

Lalu terhiritlah aku di lorong gelisah

Luka hati yang berdarah, kini jadi kian parah

Mirip-mirip sama keadaan para pecinta ini. Berharap bisa bersatu, tapi tidak mudah, maka luka hati yang berdarah, jadi kian parah. Saya jadi mikir, mencinta itu segitu sengsaranya ya? Hehe. Jadi kaya lagu Cinta Gila “tahukah kau apa yang kau lakukan itu? Tahukah kau siksa diriku?”.

Udah pengen nikah, tapi belum bisa juga begitu sengsara sepertinya. Dulu ada adik kelas cerita, ada percakapan seperti ini

“aku mau minta cariin suami ah, pokoknya aku pengen cepet-cepet nikah”

“ih kamu kaya udah siap aja”

“hormone, ini masalahnya hormone”

“ya udah kalo gitu puasa”

“ah kalo puasa kan cuma bisa nahan siang doing, trus malemnya gimana?”

Saya cuma melongo waktu diceritain begitu. Mana yang cerita adik kelas saya 2 tingkat, ceritanya udah sekitar 3 tahun lalu lagi.

Untuk orang-orang seperti ini, memang harus benar-benar disegerakan, karena hukum nikah buat mereka bukan lagi mubah atau sunnah, mungkin sunnah muakad, atau bahkan wajib. Tapi kalau ngomong memang gampang, lha kalo restu orang tua belum diberi, ceweknya ngga mau, atau malah, calonnya sendiri belum ada bagaimana?

Nah..nah..sampai disini saya cuma bisa kasian. Mungkin ini salah satu hikmah, kenapa kita dibolehkan untuk mencintai, tapi jangan terlalu. Jangan dengan sebesar-besarnya cinta, tapi dengan cinta yang sederhana. Kita juga diajarkan untuk tawakkal, karena manusia hanya bisa berencana, ALLAH lah yang memutuskan. Kita boleh berharap menikah bulan depan, tapi ALLAH yang menentukan kapan tanggal pastinya.

Sebenarnya saya kurang berhak sepertinya bilang begini. Karena saya sendiri belum pernah merasakan, mencintai seseorang, berharap segera menikah dan menghabiskan masa hidup dengan seseorang. Saya belum pernah, jadi ngga tahu gimana rasanya kegelisahan itu. Hehe. Tapi saya ingin mengutip sebuah nasyid lain

Kasih manusia sering bermusim

Sayang manusia tiada abadi

Kasih Tuhan tiada bertepi

Sayang Tuhan janjiNya pasti

Jadi..duhai kalian para pecinta, sudahkah mencintai sang kekasih dengan sederhana, dan meletakkan cinta pada ALLAH di atas segalanya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s