sepandai-pandainya tupai berkomen

âkemana arah komen berhembus, seringkali tidak bisa ditebakâ?

Dulu saya pernah punya contact di mp ini, namanya elisa, sempet deket, tapi sekarang orangnya sudah menghapus akun mp nya. Dulu juga saya punya contact namanya zulfan, sebenernya zulfan masih bisa dibilang contact sih, soalnya akun-nya masih ada, orangnya juga masih âgentayanganâ? di mp, meskipun site-nya sudah hampir kosong. Nah, ceritanya, saya dan elisa suka dengan tulisan-tulisan zulfan, mengguncang nalar, memusingkan kepala, heheh. Makanya, meski elisa sudah tidak berada di mp, zulfan juga udah buka lapak baru di wordpress, maka, bagaikan semut, kami tetap mendatangi gula itu, kami tetep suka maen ke lapak zulfan dan baca-baca tulisannya.

Bahkan, kalau boleh saya bilang, sejauh yang saya lihat, komen kami berdualah yang agak lumayan banyak ada disana. Sampai suatu hari, saat saya sedang main ke lapak zulfan, saya jadi agak geli karena menemukan âlagi-lagiâkomen elisa disana, dia komentar begini di sebuah tulisan zulfan

âAndai bisa diklik suka..â?

Sayapun tergelitik untuk meledek, saya komen-lah di bawahnya

andai yang paling sering komen dapat hadiah

Yang membuatnya jadi lebih menarik adalah komen zulfan kemudian, silakan disimak

andai ada yang mengomentari konten tulisannya

Berkomentar dan menjawab komentar adalah hal yang sangat biasa di dunia pengeblogan ini. Saya masih ingat 3 tahun lalu, bahwa diberi komentar di tulisan kita oleh orang lain di luar sana, yang saya tidak mengenalnya adalah hal yang sangat menyenangkan, dan membuat saya begitu jatuh cintanya pada blogging. Di awal saya ngeblog, saya tidak mengenal apa itu komen OOT, yang saya tahu kolom komentar adalah kolom yang harus diisi tentang komentar kita mengenai konten tulisan dan bukan hal lainnya.

Saya juga tidak tahu bahwa komen yang masuk seyogyanya dibalas. Maka tak heran, ada sederetan komen yang tidak saya jawab sama sekali. Atau bahkan, saya memilih-milih dalam menjawab komen, hanya komen yang saya rasa perlu dijawab saja yang saya jawab. Atau komen yang saya tidak tahu harus ditanggapi dengan bagaimana, maka saya cuekin saja. Barulah di kemudian hari saya mengetahui bahwa melakukan hal itu rasanya kurang berkenan di hati orang lain. Mengabaikan satu atau dua komen sementara menjawab komen lainnya adalah hal yang menimbulkan kecemburuan ataupun hal tidak baik lainnya. Begitulah, saya dulu melakukannya karena memang tidak tahu.

Tapi..manusia berubah, jaman berubah, contact saya juga berubah, dan saya lihat tren di multiply juga berubah. Komen dalam sebuah post bisa banyaaak sekali. Kalau di site orang lain tak jarang saya lihat sampai ratusan. Tapi kalau dilihat lebih jauh, komennya dari orang yang itu-itu saja, ditambah komen jawaban dari sang pemilik blog, dan kalau dilihat lebih jauh, kebanyakan komennya adalah OOT sampai jauh.

OOT itu seringkali melenakan. Tak jarang yang akhirnya OOT tak berkesudahan. Komen lagi, jawab lagi, komen lagi, jawab lagi, begitu terus, untung ngga sampai kiamat. Dan kalau mau jujur, keOOTan itu sudah banyak menyedot waktu dan tenaga kita. Bahkan ada pula yang akhirnya membawa petaka.

Pernah sekali waktu, ada suasana âpanasâ? cuma gara-gara OOT. Atau ada pula yang kapok. Tidak mau lagi ngeblog di multiply karena alas an âmenulis di multiply rawan komen OOTâ?. Karena memang, kalau dipikir lebih jauh, seperti harapan zulfan itu, alangkah senangnya kalau komentar yang masuk adalah feed back dari apa yang kita tuliskan, baik itu pujian, kritikan, koreksi, solusi, atau bahkan pengayaan. Saya punya seorang contact yang komennya selalu ditunggu oleh teman saya yang lain. Bagi saya komennya âkerenâ?, karena efek komennya sungguh nano-nano, kadang âmeninju dengan kekuatan penuhâ?, âmenyayat dengan tipis dan dalamâ?, âmemperkaya dengan wawasan baruâ?, atau âmenceriakan dengan warna cerahâ?. Dan kalau saya mau jujur, semua komennya pada akhirnya bermanfaat karena membuat saya belajar, termasuk belajar menahan diri agar tidak meremovenya, hahah.

Tidak saya pungkiri, saya juga sudah menjadi salah satu mahluk pelakon OOT sampai jauh tadi. Namun, pada akhirnya saya bersyukur karena diberi keterbatasan dalam mengakses internet. Karena saya jadi tidak terlalu intens dalam blogging sehingga komen yang masuk baru bisa saya jawab berhari-hari kemudian. Dan itu ternyata, terbukti efektif dalam mencegah komen OOT tak berkesudahan. Yaiyalah, siapa juga yang masih napsu ngejawabin lagi komen yang udah kelewat 3 hari? Hehehe. Saya juga tidak lagi âmupengâ? dengan post orang yang lain yang komennya sampe 300 (kalau dirata-rata, komen disini hanya sekitar belasan), pasti ngebalesinnya repot. Hehe.

Saya sadari pula, komen-komen saya yang tidak OOT pun kemungkinan besar ada yang salah-salah juga, ada yang tidak berkenan di hati orang lain pula. Menyayat dan membuat orang belajar menahan diri untuk tidak meremove saya juga. Yah namanya juga berhubungan dengan lain manusia, yang memiliki perbedaan rasa dan nyawa. Yang perlu diketahui adalah, saya tidak pernah melakukannya dengan sengaja. Maka untuk itu saya meminta maaf dan doa agar lebih baik lagi di hari-hari berikutnya.

Pada akhirnya semua dipersilakan memilih. Mau berkomen dengan gaya apa. Karena katanya komen OOT juga bermanfaat, anggap saja mempererat silaturahim. Katanya OOT juga bisa umtuk mengasah kreativitas, hehe. Atau komen sesuai dengan topiknya, sehingga memperkaya topik yang sedang dibahas, atau manfaat lainnya.

Dan pagi ini saya dibuat tersadar. Sebenarnya sedih juga mengatakan hal yang sama dengan yang pernah saya katakan sekitar 2 tahun lalu disini juga âberkomen pun saya belum pandaiâ?.

Terimakasih untuk semua yang telah memperkaya saya. sungguh berarti.

(maap gabisa kasi link, kalau memang tertarik, tulisan-tulisan yang saya ungkit di atas bisa dibuka dari homepage dengan tag komentar)

Advertisements

41 thoughts on “sepandai-pandainya tupai berkomen

  1. jadi disini nenek berperan sebagai tupai? 😀

    cieh nenek, mengikuti jejak pak penjajah, komennya gamau OOT, hhwhwhw..
    indikator OOTnya turun drastis.
    tp btw, tren MP jaman skrg di multiplyku mah, jarang yg mau OOT, ga kayak dulu noh, banyak pelakonnya smpe site ente berjubel nek, hehe..

  2. dr kacamata saya,emang komen kalo ga ditanggapi gak ngenakin ati. sy sering memandang org lain sombong n pilih2 kawan kalo gak smua komen d bls.ujung2nya males balik ksana lg.
    emang si menghabiskan waktu.

    tp itulah yg dinamakan service. pengujung puas. dia akan kembali ke tenpat anda di kemudian hari

  3. iyap.. setuju, tapi kalau sesekali OOT mungkin masih lebih baik daripada seriiing sekali, karena kadang mengakrabkan 😉

    dan lagi komen harus dengan bahasa yang baik dan tidak menyakitkan orang.. kadang ada yg tujuannya baik tapi cara penyampaiannya kurang baik 😉

  4. jsattaubah said: meski OOT itu boloeh, tapi seorang Muslim sejati harus lebih memilah lagi agar OOT-nya barokah.

    Gw seringnya ol pake hp. Jadi rasanya males kalo komen ga diquote. Jadinya sering ga dibales komen2 orang. Kadang kalo ketemu kompy gw bales 1-1, tapi seringnya gw tinggalin aja. Hehe.. Tapi gw spakat. Cara itu efektif mengurangi OOT..

    *maaf blum sempat balas sms lo. Saat itu ga ada pulsa..

  5. akuai said: Cara itu efektif mengurangi OOT..*maaf blum sempat balas sms lo. Saat itu ga ada pulsa..

    iya..dan ternyata mengurangi OOT itu asik..bukankah kita pernah sepakat i, OOT di MP ini lama-lama menjemukan dan melelahkan

    udah punya pulsa juga kaga dibales..kayanya udah 2 sms tuu..tadinya mau gw tambahin 1 lagi

  6. akuai said: ketiban sms yang lain.. tapi kan skarang udah gw bales :p

    OOT,,OOT…
    haha..dulu komunitas karumbel suka chatting di postingan org..
    kadang mengganggu, tapi seringkali menghibur, paling yg gondok bukan empunya tulisan, tapi org yang ud pernah baca itu tulisan lalu tertarik untuk tau apa komentar org tentang tulisan tersebut, eh pas dibuka,,,taunya OOT..hahahahaha…
    *curcol, tapi gak oot kan?*

  7. hayawi said: paling yg gondok bukan empunya tulisan, tapi org yang ud pernah baca itu tulisan lalu tertarik untuk tau apa komentar org tentang tulisan tersebut, eh pas dibuka,,,taunya OOT..hahahahaha…

    iya..seringkali begitu

  8. pippoputra said: hehehe, gw ampe sekarang selalu nungguin komen di tulisan gw.tambah seneng kalo yg komen itu OOT, 😀

    oh, jadi ini toh…

    omong-omong, di komen yang Ludi kutip di atas, saya pake emoticon –> 😛

    [/oot]

    [/lokal]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s