Berani Karena Biasa, Takut Karena Baru Pertama

âwalaupun jauh tetep aja itu kereta, bukannya lontongâ?

Di suatu siang yang cukup terik, saya, seperti hari-hari sebelumnya, harus melewati rel kereta api. Rel kereta yang saya lewati tidaklah memiliki palang pintu resmi dimana di sebelahnya ada pos penjaganya, penjaganya berseragam dan kalau kereta lewat palang pintunya akan turun kemudian ditambah bunyi âtung tung tungâ? yang sampai sekarang saya tidak tahu darimana bunyi itu berasal dan di beberapa palang di ibukota ditambah pula rekaman suara wanita yang berceramah bahwa palang pintu bukanlah alat keselamatan utama dan seterusnya-seterusnya yang saya tidak hapal isi ceramahnya tapi saya suka senyum-senyum sendiri mendengar ceramah wejangan itu. Pokoknya perlintasan ini tidak dilengkapi pemerintah dengan palang pintu yang seperti itu. Tapi, oleh masyarakat, secara swadaya dibentuklah sebuah palang perlintasan sederhana serta sebuah pos penjaga yang tak kalah sederhananya pula. Penjaganya hanya memiliki alat peringatan sederhana dengan pakaian yag mereka kenakan rata-rata sederhana pula. Dan kalau anda ingin menanyakan apakah tampang mereka juga tidak kalah sederhana dengan atribut mereka, maaf saya tidak bisa jawab, takut dosa saya.

Kalau membaca paragraph pertama yang mana itu adalah paragraph pembuka saja anda sudah merasa bosan anda dipersilahkan untuk meninggalkan tulisan ini. Karena saya akan melanjutkan cara bercerita yang bertele-tele dan terlalu banyak keterangannya ini. Dan satu lagi, anda juga harus menahan diri meskipun anda gemes melihat repetisi yang saya lakukan, karena kabar buruknya bagi anda yang tidak suka, saya memang sedang menggila-gilai majas repetisi, dan jadilah saya sejenis mahluk blogger yang suka mengulang-ulang kata. Yeah!

Lanjut ke siang yang cukup terik tadi, perlintasan kereta api itu palangnya adalah sebatang bamboo yang diikat tali ujungnya yang ujung dari tali itu masuk ke pos penjaga sehingga dari dalam pos para penjaga bisa menaik turunkan palang tanpa keluar dari markas reotnya itu. Si penjaga juga dilengkapi peluit yang berbunyi kalau ditiup sehingga kalau ada kereta lewat yang terdengar bukanlah âtung tung tungâ? seperti palang kereta resmi tapi âprit prit pritâ? seperti bunyi peluit tukang parkir atau peluit guru olahraga atau peluit apapun asalkan namanya memanglah peluit.

Saat saya mau melintas, mas-mas penjaga bilang âmotor jangan lewat duluâ?, sementara manusia yang jalan di depan saya dibolehkan menyeberang. Sebenernya saya bisa saja marah karena selain nama saya bukan motor, saya juga seorang manusia seperti yang dibolehkan menyeberang itu, dan bukanlah motor, sungguh. Untunglah saya orang baik, jadi saya menurut dan tidak berpanjang kalam.

Saat sedang menunggu keretanya lewat itu, tiba-tiba ada ibu-ibu yang nyelonong mau nyebrang begitu saja, padahal palang pintu sudah diturunkan. Sontak mas-mas penjaga berteriak

âeeeh..kereta! kereta!â?

Si ibu menengok, merasa diteriaki.

ânanti dulu bu..ada kereta tuhâ?

Si ibu senyum-senyum malu-malu manusia sambil bilang

âah masih jauh iniâ?

Si mas-mas jawab lagi

âyee..walaupun jauh tetep aja itu kereta, bukannya lontongâ?

Saya yang denger kalimat terakhir mas-mas jadi ketawa mendengarnya. Ternyata mas ini lucu juga, mungkin sebaiknya dia menggantikan para pemain extravaganza yang seringan jayusnya ketimbang lucunya. Kenapa mas ini memilih lontong? Hasil analisa teman saya adalah mungkin karena lontong itu lembek jadi kalau nabrak ngga mematikan. Tapi kalau menurut saya karena lontong gabisa lari kenceng, jadi kalau masih jauh tenang-tenang aja, sampenya masih lama ko. Entah analisa siapa yang benar.

Yaya..berani karena biasa, takut karena baru pertama. Seringkali orang begitu, termasuk dalam menghadapi kereta. Saya tinggal di daerah yang tidak dilewati kereta, jadi saya tidak biasa liat lontong besi itu lewat. Terpaparnya saya oleh kereta ya semenjak masuk kampus. Pengalaman naik KRL saya yang pertama adalah di tingkat 1 kuliah, jurusan pondok cina-tebet. Karcisnya sempat disimpen buat kenang-kenangan, sayang ilang. Dengan kondisi seperti itu, maka kereta adalah barang yang menakutkan. Waktu awal-awal, yang namanya nyebrang rel mah horror banget. Abang saya aja pernah ngaku suatu hari âih gw mah kalo ngelewatin rel rasanya takut bangetâ?. Tapi seiring berjalannya waktu, ngeliat perilaku orang lain juga, keberanian jadi bertambah, tak ketinggalan kenekatan. Begitupun orang lain pastinya.

Liat saja para pengendara, biarpun sirine sudah bunyi âtung tung tungâ? dan palang pintu belum turun sepenuhnya, ada yang berani melintas. Jangankan motor yang kecil dan rodanya 2 penumpangnya maksimal 5, metromini yang gede dan jalannya suka ngos-ngosan penumpangnya uyel-uyelan saja berani menantang si âtung tung tungâ?. Maka tak heran kalau di poskota suka ada berita metromini ketabrak kereta, angkot ketabrak kereta, dsb. Karena mereka sudah biasa lewatin rel. menyeberangi rel sudah seperti makan nasi bagi mereka, rutinitas tiap hari. Sekali waktu mereka nakal, ternyata selamat. Yang kedua nakal lagi, selamat lagi. Yang ketiga-keempat nekat, eh ko selamat juga. Maka besokpun jadi biasa. Atau kadang kereta pertama melintas, tapi âtung tung tungâ? masih berbunyi, ada kereta kedua rupanya, selama batang hidung lontong besi kedua belum terlihat, wus..nyebrang sajalah.

Bahaya? Sudah barang tentu tidak diragukan lagi. Mungkin sudah banyak kecelakaan kereta yang terjadi karena hal ini. Saya pikir, teori saya tadi tentang âberani karena biasa, takut karena baru pertamaâ? tidak hanya dalam menghadapi kereta, tapi juga dalam banyak dimensi lain dalam kehidupan kita. Kalau dalam hal baik sih tidak apa-apa, tapi yang jadi masalah adalah kalau dalam hal keburukan. Misalnya takut waktu pertama kali mencontek, tapi karena sudah beberapa kali tidak pernah ketauan, maka rasa takut tidak lagi muncul, mencontekpun sudah tidak diiringi dag-dig-dug lagi, smooth aja. Horror kan? Adalah hal yang sangat mengerikan ketika hati ini terbiasa dengan dosa yang dilakukan.

Mungkin itu sebab kita disuruh oleh Rosul untuk mengiringi perbuatan buruk dengan kebaikan. agar kita tidak menjadi biasa, agar kita tidak menjadi berani melakukannya lagi pada akhirnya.

ALLAHUa’lam

"Bertakwalah di manapun engkau berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya ia akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." [Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmizi dari Abi Dzar. Tirmizi berkata: hadits ini hasan sahih. Dan Al Hakim mensahihkannya atas syarat Bukhari dan Muslim, dan disetujui oleh Adz Dzahabi dan Al Baihaqi dalam Asy-Syu’ab. Dan Ahmad serta Tirmizi dan Al Baihaqi juga Thabrani meriwayatkannya pula Mu’adz. Adz Dzahabi berkata dalam kitab Muhadz-dzab: sanadnya adalah hasan. (Al Faidl: 1/121)]

Advertisements

31 thoughts on “Berani Karena Biasa, Takut Karena Baru Pertama

  1. tisataasyara really like this 🙂

    nyambung mbak!
    nyambung sama apa yang lagi ada di pikiran saat ini.
    "sebelum masa menjadi panjang dan hati menjadi keras…" (Al Hadiid:57),
    maka kenekatan dalam keburukan ga boleh dibiarkan,
    atau kita akan terus mengulang2 kesalahan itu, dan hati menjadi sekeras batu. na’udzubillah..

    saling mendoakan dlm kebaikan 😉

  2. iya jg yaa
    awal kul dulu jg saya takut nyebrang margonda, skrg sudah biasa
    hmm.. ala bisa krn biasa
    *berniat sangat membiasakan kebaikan

    btw, jfs pem 🙂

  3. pemikirulung said: âwalaupun jauh tetep aja itu kereta, bukannya lontongâ?

    Copast aaah copast 😀
    Ah bang,,walo ampir tiap minggu aku pulang naik kereta, tapi aku tetep takut loh. Apalagi klo sendiri. Aku nyoba naik bus, sama mama abis itu dilarang,,katanya amanan naik kereta,,huhu

  4. pemikirulung said: âwalaupun jauh tetep aja itu kereta, bukannya lontongâ?

    langsung ketawa baca paragraf 2 nya.. hahaha

    btw, klo dulu pernah terbiasa.
    trs udah lamaaaaaaa meninggalkan kebiasaan itu.
    pas mulainya lagi apakah dianggap sebagai pertama kali lagi???

  5. wennyrad said: takut nyebrang margonda

    dulu aku sampe dipanggil master karena jago nyebrang, sekarang setelah gapernah nyebrang lagi, kemampuan itu luntur..nyebrang itu susah banget, apalagi di margonda, huff..

    jazakiLLAH khoiron

  6. aishachan said: Copast aaah copast :DAh bang,,walo ampir tiap minggu aku pulang naik kereta, tapi aku tetep takut loh. Apalagi klo sendiri. Aku nyoba naik bus, sama mama abis itu dilarang,,katanya amanan naik kereta,,huhu

    silakan silakan

    aku juga takut ko naik kereta, kalo kaki 2-2nya udah masuk ke dalem, rasanya legaa banget 🙂

  7. khoti7587 said: klo dulu pernah terbiasa.trs udah lamaaaaaaa meninggalkan kebiasaan itu.pas mulainya lagi apakah dianggap sebagai pertama kali lagi???

    bisa begitu sih..pasti ketika melakukan akan terasa kaku lagi

  8. sofiyasaja said: Hadistnya menjawab tanya saya… Trima kasiiihhhhhh;)

    Yap, terkadang pembiasaan bisa menjadi racun yang menggerogoti hidup kita, tapi terkadang juga bisa menjadi madu dan habbatussauda yang menyehatkan. Oleh sebab itu, sebaiknya kita membiasakan diri mengkonsumsi madu dan habbatussauda.. 😀

  9. pemikirulung said: dulu aku sampe dipanggil master karena jago nyebrang, sekarang setelah gapernah nyebrang lagi, kemampuan itu luntur..nyebrang itu susah banget, apalagi di margonda, huff..jazakiLLAH khoiron

    mantabhhhh, master! hehe..

    waiyyaki^^

  10. akuai said: Ajarin gw nulis bertele-tele dunk say? ^_^*paling tergugah saat lo tulis mencontek, bukan menyontek. Like this!

    ini serius apa engga si i?

    emangnya kenapa? harusnya menyontek apa mencontek? *ga mikir sampe ke kaidah bahasa yang benar* :p

  11. menjadiyanglebihbaik said: betewe nek, kebaikan yang mengiringi keburukan itu juga bisa menimbulkan kembali perasaan deg2an kalo kita melakukan keburukan yang sama kedua-kali-nya-kah?

    setidaknya kebaikannya itu jadi pembersih hatinya, menjaga agar hatinya ga kotor-kotor amat, jadi kalau hatinya bersih melakukan dosapun rasanya tak nyaman

  12. akuai said: Seriusan!Jawabannya seperti contoh kata berikut: mencuci atau menyuci? Mencuri atau menyuri? ^_^

    yaelah..nulis bertele-tele aja pake diajarin..tinggal tulis aja semua yang ada di kepala nt, tumpahin semua disana, jadilah itu pasti panjang sekali

    oow..bahasa indonesia gw bagus juga ya, padahal nilainya waktu sekolah dulu ga lebih bagus dari matematika, tapi setidaknya lebih bagus dari ppkn 😀

  13. akuai said: Seriusan!Jawabannya seperti contoh kata berikut: mencuci atau menyuci? Mencuri atau menyuri? ^_^

    gw juga suka tu naek motor selonong boy palang kereta..tergantung si..lagi buru2 ato gak sama ada temennya ato gak, hehehe

    endingnya keren di, makasih dah mengingatkan

  14. pippoputra said: gw juga suka tu naek motor selonong boy palang kereta..tergantung si..lagi buru2 ato gak sama ada temennya ato gak, heheheendingnya keren di, makasih dah mengingatkan

    ih puput pake gw-gw-an..aneh, hehehe

    sama-sama put 🙂

  15. pippoputra said: gw juga suka tu naek motor selonong boy palang kereta..tergantung si..lagi buru2 ato gak sama ada temennya ato gak, heheheendingnya keren di, makasih dah mengingatkan

    ko malah baru dibales sekarang ?*liat tanggalku nulis coment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s