[diary profesi] Kali Ini Salahnya Suster, Bukan Salahnya Kodok

Kesalahan orang tua dalam mendidik anak mereka pernah diangkat oleh, salah seorang penulis favorit saya, M. Fauzil Adhim, di bukunya yang berjudul “Salahnya Kodok”. Sayangnya, saya belum pernah baca buku itu, cuma pernah baca resensinya (ngakunya favorit tapi ga semuanya pernah dibaca, hahah). Di dalam buku ini digambarkan bagaimana orang tua salah dalam mendidik anak karena secara tidak langsung mereka telah mendidik anak mereka untuk menjadi pendendam, pencari-cari kesalahan, penakut, dsb.

Adalah hal yang sangat biasa ketika seorang tua di Indonesia bilang “kodoknya udah loncat”, “kodoknya nakal”, dsb kalau anaknya jatuh. Atau juga menyalahkan seabrek benda lainnya kalau anaknya celaka, misalnya terbentur meja, maka si meja akan dipukul sambil bilang “mejanya nakal”. Maka sang anak akan berpikir, dia tertimpa musibah karena kesalahan orang lain, atau sesuatu yang lain yang ada di luar dirinya. Begitulah yang dia pikirkan. Beda betul ya dengan cara berpikirnya Fudhail bin Iyadh yang dikutip di buku Tarbiyah Dzatiyah?

Kasus lainnya, anak-anak biasa ditakuti atau diancam “kalau ga mau makan nanti sakit”, “jangan kesana, ada hantunya”, dan seabrek penakutan yang lain. Makanya ngga heran kalau orang indonesia sayur-sayur.

Mungkin masih banyak contoh lain di buku itu, silakan dibaca saja sendiri, saya tidak sedang ingin mereview buku tersebut. Lha wong saya sendiri belum baca. Tapi saya ingin mengangkat dua contoh di atas, karena dekat dengan kehidupan saya.

Suatu hari saya mendengar seorang ibu menakut-nakuti anaknya, entah untuk apa, sebutlah misalnya untuk makan. “ayo makan, kalau gamau makan nanti kamu sakit, dibawa ke dokter terus disuntik”. Bukan sekali, bukan dua kali, saya mendengar seorang ibu menakut-nakuti anaknya dengan dokter dan suntikan. Dan hal ini pernah menjadi bahan perbincangan saya dengan ibu saya di rumah
“ibu-ibu itu, kalau nakut-nakutin anaknya kalo sakit nanti dibawa ke dokter disuntik. kalau suatu hari anaknya sakit, anaknya ketakutan kalo mau dibawa berobat, dia sendiri yang bingung”
ibu saya menyetujui pendapat saya. Bukan hal yang langka ketika anak-anak takut dengan rumah sakit, dan dengan siapapun di dalamnya. Yang menjadi masalah adalah ketika anak itu berada dalam kondisi yang memang membutuhkan bantuan tenaga medis. Boro-boro mau dilakukan tindakan, baru ngelihat baju putih saja sudah ketakutannya setengah mati.

Saya tidak memungkiri bahwa hospitalisasi seringkali menjadi pengalaman yang traumatis bagi anak-anak. Meskipun awalnya tidak takut, tapi seiring berjalannya waktu, ketika dirawat di RS puluhan kali mengalami tindakan menyakitkan seperti disuntik, diambil darah, dipasang NGT, atau bahkan prosedur sangat menyakitkan seperti Bone Marrow Punction, Lumbal Pungsi, maka mereka akan trauma, dan mengidentikkan tenaga medis dengan tindakan-tindakan menyakitkan.

Makanya kami belajar atraumatic care, dengan harapan bisa meminimalisasi trauma hospitalisasi pada anak-anak. Karena kalau mereka trauma, kami juga yang susah, ujung-ujungnya ketidakuntungan pula untuk mereka.

Dan sayangnya hal ini dipersulit dengan orang tua yang “suka menyalahkan kodok” tadi. Pernah suatu hari, saya cuma mau ukur tanda-tanda vital pasien, tapi pasien-pasien cilik itu sudah pada ketakutan seolah-olah saya perampok bersenjata tajam. Sejuta rayuan dan kata-kata manis, senyum indah, dan gesture bersahabatpun dikeluarkan. Tapi apa daya, ketika kami mau pergi, sang ibu berkata pada anaknya “udah, udah, susternya udah pergi ko”. Saya yang mendengar itupun berbalik, bilang ke anaknya “loh, susternya kan baik, mau tolongin adek ya, biar sehat, gapapa ya kalau ada suster, boleh ya suster main lagi kesini nanti, kan suster mau bantu”, pokoknya berusaha meluruskan lagi pemahaman, bahwa keberadaan suster bukanlah sebuah ancaman baginya.

Tadi pagi juga teman saya cerita, waktu dia diminta bantuan ketika akan mengambil darah seorang anak. Si anak berteriak, berontak, menjerit, dan segala ekspresi ketakutan yang lain. Teman saya berusaha memberi pengertian, bahwa prosedur ini hanya akan sedikit menyakitkan, rasa sakitnya hanya sebentar, dan kalau dia mau bekerja sama, rasa sakitnya akan benar-benar dia rasakan sebentar, penusukan tidak perlu diulangi karena darah yang tidak keluar, atau vena-vena yang ngumpet dan ampun-ampunan susahnya kalau dicari. Akhirnya si anak tenang, darah vena sudah diambil, plester telah direkatkan, bahkan sang anak bertepuk tangan. Namun simaklah apa kata ibunda sang anak kemudian “udah, udah, siapa yang nakal? susternya nakal-nakal ya? susternya yang jahat ya”. Ampun dah maaaak!

Kalau kata dosen saya, anak-anak trauma bisa jadi karena kami ini, para petugas kesehatan, kalau datang hanya untuk melakukan prosedur menyakitkan tadi. Tidak pernah datang untuk mengajaknya bermain, membacakannya buku cerita, atau seabrek aktivitas menyenangkan lain yang memungkinkan dilakukan oleh anak yang dirawat. Tapi ternyata teori ini tidak sepenuhnya benar, karena saya tetap diteriaki, diusir, ditatap dengan tatapan marah, oleh pasien saya setiap saya datang, meskipun hanya untuk observasi. Padahal saya pernah menemaninya saat keluarganya tidak ada, duduk di sebelahnya kala dia sendirian, membawakannya buku cerita bergambar dan berwarna-warni.  Itu semua tak dianggapnya. Saya, sepertinya tetaplah mahluk berbaju putih yang jahat baginya.

Sayang sungguh disayang, saya tak pernah menemukan kodok di Rumah Sakit yang bisa dipersalahkan, maka lagi-lagi, susterlah yang nakal, huhu.

~tapi tidak semua pasien anak histeris begitu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s