[diary profesi] Yang Tua, Yang Ingat Mati

”Dan, jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) Insya Allah” (QS Alkahfi [18]: 23-24).

Ada seorang nenek yang menjadi pasien kelolaan saya di komunitas yang sungguh menginspirasi saya akan suatu hal. Nenek ini, tidaklah lagi muda (yaiyalah, namanya juga nenek-nenek). Cicitnya sudah tidak terhitung banyakanya. Anak kandungnya saja, hampir semuanya sudah menjadi lansia juga.

Si nenek, saya biasa memanggilnya “nyak”, masih cukup gagah jika dibandingkan dengan lansia seusianya. Umurnya, kata keluarganya, sudah mencapai 100 tahun. Kekuatan ototnya masih bagus, mobilisasi juga masih bisa. Namun, karena fungsi penglihatannya sudah menurun, aktivitas sehari-harinya sebagian besar dilakukan di atas tempat tidur.

Dan, hal yang membuat saya terinspirasi dari beliau adalah, beliau tidak pernah lupa mengucapkan insya ALLAH kalau janji untuk bertemu, tidak pernah lupa. Di akhir interaksi, menurut apa yang sudah saya pelajari, kami mesti melakukan kontrak yang akan datang, baik kontrak topik maupun kontrak waktu dan tempat. Jadi, adalah hal yang sangat biasa kalau menjelang berpisah saya bilang kapan saya akan datang lagi dan akan membahas apa. “nyak..senin ludi datang lagi kesini yaa”

Dan jawabannya nyak selalu menyadarkan saya, dengan logat betawinya dia bilang

“insya ALLAH ya neng..kalo nyak masih ada umur yaa..doain aja ya neng..nyak masih ada umur”

Kalau sudah dijawab gitu saya jadi terenyuh, “nyak kayanya udah siap banget ya”

Sayapun jawab

“aamiin nyak..didoain, mudah-mudahan masih ada umur..jadi bisa ketemu hari senin ya”

“iya..insya ALLAH ya..doain aja nyak masih ada umur yaa. Neng juga, nyak doain, masih ada umur juga”

Deg. Saya benar-benar tersentak kali ini. Iya ya, posisi kami kan sama. Sama-sama mungkin akan mati. Sama-sama tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi esok hari, bahkan 1 menit lagi.

Nyak memperlihatkan pada saya, sosok seorang manusia, yang sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja. Dari nyak saya belajar, bahwa kematian itu begitu dekatnya. Dari nyak saya belajar, bahwa kita manusia semestinya selalu siap kapan saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s