Who should I give my love to?

Who should I give my love to?
My respect and my honor to
Who should I pay good mind to?
After Allah
And Rasulullah

Comes your mother
Who next? Your mother
Who next? Your mother
And then your father

Kalau diingat-ingat, sepertinya saya hampir tidak pernah bercerita tentang ibu saya dan membuat tulisan yang menyangkut beliau disini. Tentang bapak malah pernah, padahal cinta saya pada ibu berkali-kali lipat lebihnya. Dulu pernah, sekali, itupun nyeritain tentang kelucuannya. Hah, anak macam apa saya ini.

Angin apa yang tiba-tiba membuat saya ingin menulis tentang ibu? Angin surga mungkin, heheh. Tiba-tiba terpikir saja waktu tadi diminta ibu menyiangi daun katuk. Sambil nyiangin, sambil mikir, trus pengen nulis, begitu.

Ibu saya adalah ibu-ibu Indonesia kebanyakan. Kalau anda melihat ibu-ibu paruh baya yang ikutan arisan PKK, maka seperti itulah ibu saya. Kalau anda melihat ibu-ibu yang kalau pulang habis pengajian membungkus kue yang disajikan dan dibawanya pulang, maka seperti itulah ibu saya. Kalau anda melihat ibu-ibu di pasar tradisional yang kalau nawar maka dengan harga sekecil-kecilnya, maka seperti itulah ibu saya. Biasa saja, tidak ada yang istimewa jika dibandingkan dengan ibu-ibu lainnya. Tapi menjadi luar biasa istimewa bagi saya, karena beliau adalah ibu saya.

Cause who used to hold you
And clean you and clothes you
Who used to feed you?
And always be with you
When you were sick
Stay up all night
Holding you tight
That’s right no other
Your mother (My mother)


Ibu saya tidaklah berpendidikan tinggi, hanya lulusan sekolah dasar. Karena dulu, saat dirinya masih kecil, sudah ditinggal kedua orang tuanya meninggal. Tinggal berdua sebatang kara bersama “aang”nya, berjuang berdua menyambung kehidupan. Boro-boro buat sekolah, untuk hidup saja sulit. Tapi beliau punya sebuah cita-cita, membekali anak-anaknya pendidikan yang lebih tinggi darinya.

Who should I take good care of?
Giving all my love
Who should I think most of?
After Allah
And Rasulullah

Ibu saya tidaklah pernah mendapat pendidikan kesehatan formal. Hanya seorang kader posyandu entah sejak tahun berapa sampai sekarang. Tapi ibu sayalah yang lebih piawai dalam menghadapi anak sakit dibanding saya. Pernah suatu hari, kakak ipar saya panik ketakutan, nyamperin ibu dan saya karena afaf kecil panas tinggi dan kejang. Saya yang mahasiswa keperawatan tingkat awal saat itu, malah ikut-ikutan panik, bingung mau berbuat apa. Dan ibu sayalah yang dengan tenang meletakkan afaf dipangkuannya sambil mengkompres afaf di ketiaknya dan melakukan hal-hal lainnya.

Cause who used to hear you
Before you could talk
Who used to hold you?
Before you could walk
And when you fell who picked you up
Clean your cut
No one but your mother
My mother

Ibu saya bukanlah ibu juara nomer 1 di seluruh dunia. Lebay kalau bilang begitu menurut saya. Tapi ibu saya, selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Makanya, sampai sebesar ini, saya benar-benar kerepotan waktu ibu pulang kampung, bersama semua orang di rumah. Segalanya jadi terasa lebih sulit. terasa sangat kehilangan sekali. Rumah yang biasa ramai, kini tidak ada orang, hanya saya sendiri. Menjalani kehidupan seperti lagu dangdut yang judulnya angka 1. Sampai-sampai, saya datang ke posko (waktu itu lagi mata ajar komunitas) sambil menangis. Saya menangis, sementara semua teman di posko tertawa melihat tangisan saya (begitulah nasip), tertawa dengan sebenar-benarnya, tapi sambil bilang “yaudah cup..cup..duduk dulu nih, sambil makan kue”. Gubrak!

Who should I stay right close to?
Listen most to
Never say no to
After Allah
And Rasulullah

Kenapa hanya karena daun katuk saja saya jadi ingin membuat tulisan tentang ibu? Karena ibu saya hampir tidak pernah memasak daun katuk dirumah. Bahkan sejauh ingatan saya, saya hanya pernah makan sayur daun katuk sekali dalam hidup. Beliau memasak itu, semata-mata untuk kakak saya yang sedang menyusui. Sekitar 2 pekan lalu kakak saya melahirkan, operasi cesar. Sepulangnya kakak saya dari rumah sakit, otomatis, dengan inisiatifnya sendiri, ibu saya memasak sayur dan lauk untuknya setiap hari. Rumah kami berdekatan dan sayalah yang biasa disuruh mengantarkan. Tidak hanya sampai pada membuat dan memastikan makanan itu sampai, tapi perhatian ibu saya lebih dari itu. Pernah suatu hari, kakak saya bilang kalau sayurnya cepat basi, padahal belum habis dimakan. Maka ibu sayapun “cerewet”, meminta saya sebagai pengantar untuk menyampaikan pesannya “pokoknya begitu sampe bilang, tutup sayurnya dibuka, karena ini masih panas, kalau ngga dibuka nanti uapnya balik lagi, sayurnya jadi cepat basi”

Bahkan tidak cukup sampai situ, ibu saya menambahkan “kalau ngga, kamu aja yang buka-bukain tutupnya begitu sampai, ya?”

Begitu memang. Perhatian betul dia, pada anaknya, bahkan anak-anaknya yang sudah berkeluarga, sejatinya sudah bisa masak sendiri, masih dipikirkan.

Cause who used to hug you
And buy you new clothes
Comb your hair
And blow your nose
And when you cry
Who wiped your tears?
Knows your fears

Who really cares?
My mother

Ibu saya, sekali lagi, adalah ibu-ibu Indonesia kebanyakan. Tak ada yang sangat spesial darinya dibanding ibu yang lain. Tapi ibu saya, tetaplah seorang ibu bagi saya, sampai kami sudah beranak-pinakpun, dia tetaplah ibu, dan kami tetaplah anak baginya. Ibu yang mengasihi, ibu yang menyayangi, ibu yang melindungi, ibu yang perhatian, ibu yang sedih dikala kami sedih, ibu yang bahagia dikala kami bahagia, ibu yang bangga dikala kami berprestasi. Dan itulah yang membuatnya luar biasa istimewa, bagi saya, anaknya.

Robbighfirlii wa li waalidayya warhamhuma kamaa robbayani soghiiroo

Say Alhamdulillah
Thank you Allah
Thank you Allah
For my mother.

3 April, 2009

Potongan lyric diambil dari lagu Yusuf Islam, Your Mother

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s