Seperti Cermin *akhir-akhir ini gabisa ngasi judul yang catchy* :p

Ada yang tau film mandarin yang judulnya Twin Effect? Saya nonton lebih dari sekali, tapi di tivi, jadi saya nonton versi dubbingnya. Ada salah satu adegan yang menarik di film itu. Waktu mereka berempat, tokoh utama di film itu, yang bahkan saya tidak tahu namanya, sampai di sebuah daerah yang cukup angker. Dan mereka semua, meskipun sudah menghindar mati-matian, terperangkap ke dalam gua-gua atau lorong bawah tanah. Jadi, di daerah itu, orang-orang bisa terhisap oleh tanah dan masuk.

Di bawah tanah, hiduplah banyak mahluk yang mengerikan. Rupanya menyeramkan dengan gigi bertaring dan mengejar-ngejar mereka berempat. Tentu saja mereka ketakutan. Sampai akhirnya, terkuaklah sebuah fakta secara tidak disengaja bahwa mahluk-mahluk mengerikan di bawah tanah itu sebenarnya berperilaku demikian sesuai dengan perilaku orang (ataupun mahluk) yang ditemuinya. Jadi kalau orang dihadapannya berteriak-teriak maka mereka juga akan berteriak, kalau orang di depannya tertawa mereka juga akan begitu dst. Pasalnya, karena rupa mereka yang seram orang jadi cenderung teriak-teriak kalau ketemu mereka, dan karena mereka juga berperilaku begitu, tambah seramlah suasana.

Seperti bercermin, begitulah mereka. Menarik. Menarik banget menurut saya. Hehe. Kalau saya pikir, saya ini juga mempunyai kecenderungan bergitu. Meskipun tidak 100%, tapi cukup mendominasi. Saya pernah bilang ke puput, entah anak itu inget atau tidak. Saya ini seperti cermin, kalau orang baik sama saya maka saya juga akan baik, bahkan lebih padanya. Kalau orang negor saya duluan, besok-besok saya tidak akan ragu untuk menegornya, bahkan dengan lebih manis. Kalau orang terbuka sama saya, saya juga enak cerita padanya. Tapi begitupun sebaliknya. Kalau orang serba salah sama saya, saya juga jadi bingung harus gimana. Kalau orang sungkan sama saya, saya juga jadi sungkan padanya. Dan kalau orang sudah menganggap saya galak dan suka menghisap darah manusia, maka saya jadi susah hehe-hehe padanya. Di akhir saya tanya pada puput, “parah betul kan aku ini put?â€?, dia bilang “lumayan parah juga Diâ€?, hahah, jujur betul itu anak.

Tapi kalau saya pikir-pikir, kebanyakan orang juga begitu. Berperilaku seperti bercermin. Entah apakah dalam semua konteks interaksi dengan sesama manusia, tapi saya banyak menemukannya pada interaksi dalam hubungan bermasyarakat secara umum. Maksudnya antara sesama manusia yang tidak saling mengenal, interaksi yang superficial saja. Contohnya begini, di jalan anda sedang berjalan biasa, tiba-tiba dari arah belakang ada orang berjalan terburu-buru dan menabrak anda, anda tidak terluka, barang bawaan anda tidak ada yang jatuh, tapi orang itu menoleh dan sambil tersenyum dia meminta maaf pada anda, maka saya rasa anda pasti akan membalas senyumnya sambil bilang “gapapa koâ€?. Tapi bayangkan bila situasinya beda, si penabrak, tanpa menoleh sedikitpun, terus saja berjalan cepat, mungkin anda akan menggerutu dalam hati, atau sedikit keki.

Atau misalnya anda datang ke sebuah pelayanan umum. Saat anda masuk, anda disambut oleh satpam yang sambil tersenyum dia menanyakan apa keperluan anda, kemudian dia memberi petunjuk anda mesti kemana dan kemana. Tentu anda akan juga berperilaku baik dengan satpam itu sambil menjelaskan keperluan anda, dengan bahasa yang baik pula. Lain halnya kalau anda datang, disambut satpam dibawah yang bertanya layaknya menginterogasi, mau apa anda kesana, anda pun ditanya-tanya di depan pintu yang tertutup, anda tetap di luar dan si satpam hanya mengeluarkan kepalanya dari pintu. Kemungkinan besar anda bête dan mungkin sampai ngedumel di belakang (saya pernah liat soalnya, pengunjung ngedumel dan ngomel-ngomel di belakang satpam, hoho).

Atau silakanlah anda membayangkan berbagai kasus yang mungkin anda temui dalam keseharian. Dan mungkin, kalau ternyata saya benar, anda akan menemukan efek cermin tadi. Orang akan berperilaku baik jika diperlakukan dengan baik. Dan orang akan cenderung agresif, ofensif, jika diperlakukan dengan buruk. Makanya saya suka berkata dalam hati kalo ngeliat sebuah kejadian di jalan “kenapa sih ga minta maaf duluan aja, padahal kebanyakan orang kalau dimintain maaf bakal luluh koâ€?. Saya banyak menemukan, –atau sebenernya saya menemukannya pada diri saya sendiri ya? :p—orang itu bisa tidak jadi marah kalau orang ybs meminta maaf duluan dengan tulus dan akan langsung melupakan kejadiannya. Atau jadi bersemangat untuk membalas dengan lebih baik kalau disenyumi dan diramahi. Coba saja, ada orang senyum pada anda di jalan, 70% kemungkinannya anda akan balas senyum kan?

Kenapa saya akhirnya mengangkat hal ini dalam tulisan, karena peristiwa yang saya alami beberapa hari biasanya kalau keluar parkir saya ya keluar saja, tunjukan tiket, bayar, dan selesai. Tapi beberapa hari lalu mood saya lagi bagus, saya sedikit bercanda dengan ibu-ibu si penjaga loket (oiya, biasanya yang jaga mas-mas), waktu itu pagi hari, saya mau pulang habis dinas malam, sambil menyodorkan tiket parkir saya bilang

“cewe-cewe pulang pagi nih buâ€? sambil tertawa

Dan efek cerminpun terjadi, si ibupun tertawa, dan terjadilah obrolan singkat

“memangnya siapa yang sakit?â€?

“oh, saya mahasiswa keperawatan bu, abis dines malemâ€?

“oooâ€? dan ditambahkannya “hati-hati di jalan yaâ€?

Dan saya jalan dengan perasaan senang sekali. Andai tadi saya tidak mengajakanya bercanda, mungkin obrolan itu tidak akan ada, transaksi di loket parkir akan sama saja dengan hari-hari sebelumnya. Dan saya tidak akan dapat pesan “hati-hati di jalan yaâ€? itu. Sebuah pesan yang hanya saya dapat dari ibu saya di rumah tiap mau berangkat. Dan ternyata, meski bukan bertolak dari rumah, meski bukan berpamitan pada ibu, saya mendapatkan pesan itu juga, hei, bukankah itu sangat menyenangkan? Saya merasa seperti ada perwakilan ibu saya disana, merasa seperti dilepas oleh orang yang peduli dengan keselamatan saya.

Bagaimana dengan anda? Pernahkah anda mendapat efek cermin yang begitu menyenangkan? Mari kita sama-sama memberi sebuah tampilan yang baik, agar pantulan yang kita dapat sama baiknya, seperti bercermin pada cermin datar. Atau lebih lagi.

Advertisements

36 thoughts on “Seperti Cermin *akhir-akhir ini gabisa ngasi judul yang catchy* :p

  1. pejuangkesepian said: kamu bersihin aja mukanya chan,kan sepatunya udah bersih..hehee

    setuju.. saya jg biasana lakukan itw.. misl, aku sms temen, trus balasna lama.. yawdah, giliran dia yg sms, aq lama jg blsna.. hehe abis sk ksl dikit kl lg g mood mah..

  2. pemikirulung said: Ada yang tau film mandarin yang judulnya Twin Effect?

    Twin efect? Kaga adaa kayanya dah..

    kita samaan di ternyata…berarti ana org yg buka2an ama ludi yaa..kita ngocol bareng2..hi3

    Tp kadang,kita jg mesti ngalah..

  3. puspa5wu said: setuju.. saya jg biasana lakukan itw.. misl, aku sms temen, trus balasna lama.. yawdah, giliran dia yg sms, aq lama jg blsna.. hehe abis sk ksl dikit kl lg g mood mah..

    kalo aku mah, mau dia cepet, mau dia lama, aku balesnya lama juga, ga sempet sih, hoho *sosibuk.com*

  4. idesraisa said: Twin efect? Kaga adaa kayanya dah..kita samaan di ternyata…berarti ana org yg buka2an ama ludi yaa..kita ngocol bareng2..hi3Tp kadang,kita jg mesti ngalah..

    adaaa…di indosiar udah beberapa kali *jadi sebut merk kan gua*

    ah masaa…kamu buka-bukaan? buktinya aku gatau ides mau nikah sama siapa *apa hubungannyah?* :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s