Balada Sebuah Jerawat

ini adalah sebuah kisah yang bermula dari sebuah hal yang kehadirannya tak pernah dinantikan baik oleh pria dan wanita. namun, tanpa berpikir panjang, dia tetap datang juga. sebut saja ia jerawat. karena memang jerawat sih.

alkisah, di jidat seorang wanita, datanglah, tanpa dijemput, sebuah jerawat. tentang dimana itu jidat, sepertinya tak perlu dijelaskan lebih lanjut. si jerawat nangkring dengan tidak sopannya di jidat sang wanita. untunglah dia hanya sendirian, tidak mengajak temannya yang lain.

awalnya si wanita tidak terlalu merasa terganggu dengan kehadirannya itu. diobatilah si jerawat dengan sebuah obat jerawat yang di ekstrak dari pohon teh. salah satu produk kecantikan yang mana para distributornya selalu semangat menawarkan dagangannya, namanya diawali dengan huruf o, diakhiri dengan huruf e, dan dibaca oriflem, (halah). usut punya usut, ternyata si wanitapun membeli produk ini lantaran tergoda tak berdaya oleh ramuan maut sang penjual.

akhirnya, si jerawat malah bertambah besar dan matang. dan sakitlah rasanya bila dimanipulasi, dipencet, ditekan (apa bedanya dipencet sama ditekan), apalagi kalau diiris sembilu (emangnya sembilu apaan sih?). tapi seperti yang tadi sudah diawal dibilang, tak terlalu terganggulah si wanita. karena memang tak ada keadaan yang membuat si jerawat termanipulasi. kalaupun ada, bisa diminimalisir.

dan kemudian sampailah si wanita pada sebuah kewajiban sholat. dan sampailah pula dia pada salah satu rukun sholat yaitu sujud. dengan sangat biasa ditempelkannyalah jidatnya ke lantai, ke tempat sujudnya. dan, “auw”, begitulah kira-kira pekik wanita itu dalam hati. si jerawatnya tertekan. sakit rasanya.

padahal tata cara sujud adalah menempelkan jidat. dan sujud yang baik adalah bilamana menekan, baik pada telapak tangan, lutut, dsb. maka baru terasalah efek tak menyenangkan dari jerawat tersebut. akhirnya sang wanita memodifikasi sujudnya, dengan agak memiringkan kepalanya ke arah kiri sedikit, agar jerawatnya tidak tertekan sepenuhnya.

tapi kemudian si wanita berpikir. dan teringat dengan kisah para sahabat terdahulu. si wanita teringat kisah seorang sahabat yang suatu hari terkena panah. panah itu menembus kulitnya. maka tentulah si panah harus dicabut. tapi jaman itu belum ada yang namanya anestesi alias obat bius sedangkan mencabut panah yang menancap di tubuh, rasanya pasti sakit.

si wanita jadi terpekur, karena cara yang dilakukan oleh sahabat itu agar tidak merasakan sakitnya adalah dengan meminta panahnya dicabut saat ia sholat. sang sahabat melakukan sholat, dan saat itulah panahnya dicabut. karena derajat kekhusyuannya yang begitu tinggi, sampai-sampai rasa sakit ketika panah dicabut tidak terasa lagi. kalau dalam manajemen nyeri, ini namanya distraksi. si penderita dialihkan agar tidak merasakan sakitnya. dan distraksinya adalah dengan sholat. luar biasa.

dan karena sebuah jerawatlah si wanita ini jadi sadar. betapa kekhusyuan sholatnya masih amatsangatjauhsekali jika dibandingkan dengan para sahabat terdahulu. karena hanya sebab sebuah jerawat yang nangkring di jidat tertekan saat sujud saja, dia bisa merasakan sensasi nyerinya. bahkan terpekik dalam hati.

karena sebuah jerawatlah, si wanita belajar lagi, bahwa kekhusyuan sholatnya masih perlu ditingkatkan. semoga bisa seperti khusyu-nya RosuluLLOH SAW dan para sahabat. aamiin.

~akhirnya dijadikan entry blog setelah seorang cucu minta “posting sesuatu dong nek”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s