Menabung Aset Atau ?

  ~untuk seorang teman yang saya sayangi..yang sedang berusaha membuat asset kebaikan di blognya

Sore kemarin, saya ngobrol dengan seorang teman via YM. Teman saya ini adalah teman dunia nyata, teman SMA, dan dia adalah 1 dari segelintir teman dunia nyata saya yang juga tetangga saya di kampung multiply. Dulu sering main kesini, kadang meninggalkan komen juga, tapi sekarang sudah tidak lagi. Sepertinya saya pernah mendengar selentingan tentang penghapusan MPnya, maka bertanyalah saya padanya.
eh ti, mp nt masii ada kan?
belom diapus?
apa udah tapi gw ga ngeh?
blom si
kayanya blom
cuman isinya udah ku apusin smua 
😀
spionnya blom di copot kok pem
loh…
hehehe
biar gak punya mp ..gw msh update baca tulisan lo pe
uh waw
sampe tau istilah spion
hoho
ngefans too
emang kenapa sih ti diapus2in tulisannya?
ga sayang?
tulisan kn bisa jadi aset
kalo aset kebaikan
kenapa ya
iya si emang bs jd aset
wuihh..pahalanya bisa mengalir terus sayaaang
tp kl asetnya krg baik gmn
mendingan di pending dulu sampe bs buat aset yg lbh baik
hehehe
okay
sip sip
tapi terus berusaha ya say
jangan jadi pembenran

Menarik, kalau boleh saya bilang begitu. Pasalnya, saya belum pernah mendapat jawaban seperti itu sebelumnya. Dan kalau dipikir ya memang benar juga. Kalau ternyata tulisan-tulisan ini bukanlah asset yang baik, malahan sebaiknya, lebih baik diterminasi saja toh? (baydeway, tahu kan alasan saya memilih kata asset dan bukan harta?)

Macam-macam memang alasan seseorang menghapus akunnya, atau mencopot spion istilah saya. Dulu juga ada teman yang mencopot spionnya dengan alasan yang kurang lebih seperti ini. Dia hapus karena merasa tulisan-tulisan di mpnya bukannya membawa kebaikan, malah membawa kesalahan, membuat orang lain salah paham, sakit hati dsb. Akhirnya diterminasilah blognya itu.

Saya juga begitu sih. Beberapa kali mengatur jangkauan tulisan saya yang semula for everyone jadi for individual, cuma id saya yang bisa buka. Alasannya ya mirip-mirip dengan teman saya tadi. Karena merasa tulisan itu bukanlah asset yang baik, untuk orang lain, atau untuk diri saya sendiri, misalnya contoh sederhananya karena komen yang terlalu nyelekit di dalamnya. Mau protes ko kayanya saya yang lebay, mau didiemin, bikin saya sedih kalo baca, tapi mau dihapus juga sayang. Yowis diumpetin aja. Siapa tahu bisa saya intip suatu hari, sekedar untuk melihat spion yang cuma sebentar itu, siapa tahu bisa untuk mengingatkan dan belajar.

Begitupun dengan QN, atau tulisan terlalu poci-poci dan sudah basi. Atau sebutlah sudah habis masa berlakunya. Banyak dari QN saya yang akhirnya saya delete, misalnya saat itu saya cuma pengen masang pemberitahuan, dan saat ini pemberitahuan itu sudah tidak perlu lagi, yowis di delete saja, ngurang-ngurangi sampah di dunia maya. Atau cuma meracau nda jelas, komennya juga ngga kalah ngga jelasnya, atau sudah cukup menyelesaikan masalah here and now saya itu, ya saya delete-lah.

Tapi yang juga ingin saya tekankan adalah bagian akhir percakapan yang saya kutip itu. Baiknya tetap terus berusaha. Jangan mentang-mentang merasa tulisannya kurang manfaat, pada akhirnya hanya menunggu sampai sebuah kemampuan itu hadir dalam kehidupan. Akhirnya jadi pembenaran. “ah, saya mah ga usah nulis, lha wong saya nda piawai nulis ko”. Padahal kan practices makes perfect.

Yang tak kalah penting adalah perlu disepakati terlebih dahulu seberapa penting menulis dalam kehidupan anda. Tidak hanya menulis bahkan, tapi juga menyampaikan. Karena ini ranah publik, yang kita tulis bisa dibaca orang lain. Beda dengan menulis di buku diary yang bisa digembok dan hanya andalah yang memegang kunci gemboknya. Disini, dengan menulis maka secara tidak langsung anda sedang menyampaikan.

Dulu akhirnya teman saya yang cancel account itu menulis lagi, tapi tidak di multiply, kapok dia. Waktu dia bikin tulisan lagi dia bilang “terasa Di, kalo lama ngga nulis otakku mandeg”. Atau ada juga teman saya yang lain lagi. Cuti dari MP, tapi dia tetap menulis, dan mempublishnya juga, di blog lain. “gw gabisa ga nulis Di, justru disitu gw menemukan kepuasan gw, gw bisa menyalurkan hobi gw”, kira-kira begitu. Nah, kalau paradigmanya sudah seperti ini, merasa bahwa menulis adalah kebutuhan, merasa dengan menulis mendapatkan suatu manfaat, maka otomatis, orang-orang seperti ini tidak akan betah untuk berlama-lama tidak menulis. Dan tidak akan menjadikan ketidakpiawaian dalam menulis sebagai pembelaan.

Dan kalau sudah begitu, kembali lagi ke kata-kata teman saya tadi. Karena ada benarnya kata-katanya itu, setidaknya untuk sebuah hal yang bisa ditarik secara tersirat bahwa kita tentu harus menimbang-nimbang dan menilai, tulisan kita ini asset kebaikan atau bukan? Baiknya dilanjutkan atau dipending, atau bahkan diterminasi? Makanya saya langsung tanya ke dia saat itu “menurut nt, tulisan gw itu aset kebaikan bukan? *buat introspeksi*”, karena seperti kata seorang kawan bijak saya suatu hari “kadang kita juga harus liat dari mata dan dengar dari telinga orang lain untuk tahu siapa kita”. Jadi kurang lebih ada 3 prosesnya, pertama niat untuk menulis yang baik dan bermanfaat, kedua berlatih dan berusaha menulis dan menyampaikan hal yang baik, dan ketiga mengevaluasinya. Ihsanul ‘amal bukan?

~merasa akan dikomeni bos iman lagi dengan intinya tulisan ini apa sih, atau komen alvast dengan terlalu banyak ide didalamnya, hiks..begitulah saya, selalu bermasalah dengan fokus ke 1 ide saja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s