[diary profesi] Aku Dilamaaar :)

Udah pada tau kan sekarang saya sedang menjalani mata ajar apa? kalau belum, silakan dilihat postingan sebelumnya (sebelumnya sebelumnya lagi) *males ngasi link, biasanya jarang pada ngeklik juga*

Jadi ceritanya kemarin, saya sedang interaksi sama klien. Sebenernya di luar rencana. Saya lagi duduk di sebuah kursi yang ada mejanya. Di sebelah saya ada teman saya. Di depan saya ada teman saya juga. Di depan teman saya yang duduk di sebelah saya ada klien yang ikutan nimbrung bareng kami. Dan akhirnya kamipun bercakap-cakaplah. Dan seperti biasa pula, pengennya mah obrolan kami sifatnya terapeutik buat klien, bukan obrolan sosial (obrolan dalam hubungan sosial, hubungan antara manusia dengan manusia lain, interaksi sosial gituh, jangan salah paham kata “sosial” dan menghubungkannya dengan sesuatu yang bermakna “sukarela” atau “bantuan” yaa).

Dalam obrolan yang cukup panjang dengan klien kami itu. Sambil kami terus berusaha mengorientasikan dirinya pada realita (si klien ini memiliki keyakinan yang salah dan tidak sesuai dengan kenyataan, atau disebut juga waham). Kami juga mencoba membesarkan hatinya (masalah lain selain wahamnya adalah harga diri rendah, anak psiko bilangnya low self esteem, cuma terjemahannya ajah). Meyakinkannya bahwa hidup itu mesti terus berjalan. Si klien kami ini, pemicu gangguan jiwanya adalah perceraian, terus dia nikah lagi, terus dia cerai lagi. Ada juga yang bilang istrinya selingkuh dengan pria lain. Ini semua kata temen saya, yang memang bertanggung jawab merawat klien tersebut.

Sayapun bilang ke bapak itu
“yaa pak, wanita di dunia ini kan tidak hanya dia, masih banyak wanita lain”
“kalau bapak akhirnya bercerai dengan dia, berarti memang jodoh bapak dengannya cuma sampai disitu”
“kenapa bapak tidak nikah lagi aja? melanjutkan kehidupan”

Si klien:
“ga ada yang mau”
“perempuan gada yang mau sama saya”

Saya:
(menyimak)

Si klien
“coba kalau kamu, saya mau kalo sama kamu, kamu mau ngga nikah sama saya?”

Saya:
(bengong)
(melongo)
(speechless)

Temen-temen saya:
(ketawa bareng)

Si klien:
“ga mau kan? gada perempuan yang mau sama saya”
“mendingan saya ngga cari istri lagi, kalo terus-terusan ditolak kan bisa lama-lama kita jadi rendah diri”

Saya:
(masih bengong bingung mau jawab apa)

Haruskah saya melaporkan ini pada ayahanda di rumah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s