Ibu-ibu Bapak-bapak Semua Yang Ada di Mp siniii..

Di dalam keluarga, orang tua saya membiasakan anak-anaknya untuk memanggil orang yang lebih tua dengan sapaan tambahan, bukan dengan nama langsung (istilahnya apa sih?). Berhubung bapak saya orang jawa (gw mah bukan, hehe) jadi kami dibiasakan manggil kakak laki-laki dan perempuan dengan sebutan mas dan mbak. Meskipun jarak umur kakak-kakak saya dekat dan terlihat seperti teman sebaya saja, panggilan mbak tetap digunakan.

Mungkin hal itulah yang membuat saya memegang nilai itu sampai sekarang, bahwa memanggil orang yang lebih tua dengan kakak, mba, dan sapaan sejenis lainnya adaah bagian dari ihtirom. Karenanya pula, saya sangat tidak sepakat dengan sikap seorang teman. Teman saya itu seorang kordinator akhwat di sebuah divisi -sebutlah- organisasi da’wah dan staf-stafnya sebagian besar dari angkatan di atasnya. Waktu saya tahu bahwa dia memanggil semuanya dengan nama saja, dia memberi alasan “aku lebih suka kaya gitu Di, biar ga ada jarak aja”. Yang ada di dalam pikiran saya saat itu cuma “ah, buat gw sih itu mah ga ihtirom”.

Tapi suatu hari saya pernah bertemu kondisi tidak menguntungkan. Seseorang hadir dalam kehidupan saya yang karena sebuah ikatan membuat saya mesti memanggilnya “mas”. Dan entah kenapa, tidak seperti mas-mas yang lain, saya tidak rela memanggil orang ini dengan mas. Alasannya tidak rasional sebenarnya, tapi pokoknya lidah saya kelu. Orang tersebut pernah protes–bukan pada saya tapi pada orang lain yang semestinya memanggilnya mas juga dan tidak melakukannya– dan bilang “ga ihtirom” (ealah..ko istilahnya sama dengan saya?). Saya malah berdalih “ah ihtirom kita pada orang yang lebih tua bukan cuma itu ko ukurannya!”. Duh, kok saya jadi menerapkan standar ganda gini, haruskah ludah itu saya jilat kembali? jijay ah!

Sayapun memilih jalan tengah, yaitu dengan tidak pernah memanggilnya sama sekali. Hoho. Dan menunggu sampai beliau punya anak, karena nanti saya akan memanggilnya abu siapaa gitu-disesuaikan dengan nama anaknya- atau menunggu saya sendiri punya anak (et dah, masih lama bangath!) dan memanggilnya pakde, itung-itung mbahasain anak saya gitu. Ide yang keren kan?

Namun sebelum semua itu terwujud, saya bertemu keadaan yang mau tidak mau saya harus memanggilnya dan saya panggillah dia “om”. Selameet…hehe, yang penting bukan panggil mas, yes!

Begitupun di multiply. Seperti yang ai juga pernah bahas di blognya. Buat saya, tetap perlu ada sopan santun dalam sapaan disini, meski dunia maya, meski belum pernah bertatap muka. Apalagi saya tergolong muda, maka mesti banyak yang saya panggil dengan sapaan tambahan. Dan saya sering tidak menyeragamkannya. Untuk wanita, sepertinya hampir semua saya panggil mbak. Tapi kalau laki-laki macam-macam, ada the one and only (untuk sementara ini) boss, yaitu bos iman-abhicom2001, ada kakak, ka iman-penjelajahsemesta, my uncle (di status relationship MP) omali (kadang manggil om dul, hehe)-carrotsoup, kakek yang tidak lagi muda aki gaul-kelinciputih, akang-akang dari bandung, kang wic-wicakz, kang budi-budiaridian, encang betawi asli, encang erlan-kharaf, golongan mas-mas, mas ogie-ogieurvil, mas roel-(duh lupa idnya mas roel, maap ya mas), mas bima-cantigicientaku, golongan bapak, pak syamsul-thetrueideas, pak guru-ahmadtaufiq, golongan impor (hehe), mister eye-eyeoflight, atau yang sampai sekarang saya bingung enaknya dipanggil apa syaikhul muqorrobin (pak, mas, ustadz, atau syaikh?), dan brother dari malaysia halaqahbyu (kadang saya panggil pak cik, hehe).

Mudah-mudahan ihtiromnya ga sekedar hanya panggil mas atau mbak

~ini tulisan sudah lama sekali, baru sempat diketik, dipost, dan saya bingung mau kasih judul apa, jadilah judulnya aneh begini

Advertisements

39 thoughts on “Ibu-ibu Bapak-bapak Semua Yang Ada di Mp siniii..

  1. @yagizaayap, kenyamanan, dan saya seringkali ga nyaman memanggil yang lebih tua dengan nama saja, makanya begini@adamdesignbaiklah pak adam, saya masukkan ke golongan bapak-bapak :D@pippoputraya karena aku manggil kamu hanya dengan nama put, tanpa tambahan, karena kuanggap kita sepantaran. Udah-udah jangan sedih, kapan-kapan kusebut, lap dulu tuh air mata, heheh

  2. @penjelajahsemestakalo di rumah si gitu ka, makanya udah setua ini aku masih dipanggil ade. Tapi kalo sama k'im jangan! *timpukin ka iman* hehe@myyherejudul yang terlintas begitu saja, keren yak :p@meandmydreamstenang nyak..gabakal kupanggil tante :p@aishachankamu itu memang anak muda yang perlu banyak bimbingan, hehe *siul siul*

  3. diriku apa nek?hehe..cuuucuuuu… ^^(selalu senang dengan anggilan itu)ah nenek,aku pengen deh tetanggaan sama nenek di syurga nanti..pasti aku bakal seriiiiiiiiiing banget curhat,khehehehehe,,^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s