Bukan sekedar Membandingkan Singkong dan Keju

“Aku suka singkong, kau suka keju
Aku suka jaipong, kau suka disko”

Kebanyakan orang tidak suka jika dirinya dibanding-bandingkan dengan orang lain. Tidak suka jika memang tujuan dibandng-bandingkannya adalah dalam rangka menunjukkan kelemahan dirinya, kekurangannya dibanding manusia lainnya. Hal ini manusiawi sekali lah. Sampai-sampai digambarkan di komik hai miiko. Suatu hari miiko tabrakan dengan tappei, ember yang dibawanya jatuh dan airnya tumpah menyiram wajahnya. Tapi Tappei, alih-alih minta maaf malah meledek Miiko, Miiko yang kesal berkata “harusnya kau mencontoh sikap Yoshida”. Bukannya sadar, Tappei malah jadi kesal karena dirinya dibanding-bandingkan dengan Yoshida yang memang notabene saingan cintanya. Karena hal ini, dikisahkan Miiko tidak lagi bertegur sapa dengan Tappei sampai mereka sma.

Saya juga begitu, sama dengan tappei, dan tappei-tappei lainnya. Bukan dalam hal tidak mau minta maaf, tapi tidak suka jika dibanding-bandingkan dengan orang lain. Jujur, saya agak kesal waktu seorang contact saya komen, menceritakan bahwa seorang MPers bisa menulis tentang perkuliahannya, sementara saya, meninggalkan blog ini dengan alas an tidak sempat, sibuk kuliah. Hey, itu kan dia, dengan segala kelebihan dan kesempatannya. Sementara ini saya, dengan berbagai kekurangan dengan kesempitan saya. Tapi bukan berarti saya adalah paket dengan semua isinya adalah kekurangan, tapi mungkin juga punya kelebihan, yang tidak tersedia di paket manusia lainnya. Begitulah saya pikir manusia, tidak suka jika dibandingkan karena merasa tidak melulu hanya memiliki kekurangan dibanding orang lain.

Tapi kalau dpikir-pikir lebih jauh, membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, dalam rangka mencari kekurangan atau kelemahan diri sendiri sangatlah diperlukan, asalkan dilakukan dengan tujuan dan batasan yang jelas. Karena kita mengenal istilah kompetisi atau persaingan. Seperti seseorang pernah bilang, menyadari kekurangan diri sendiri itu baik, hanya jika membawa efek yang baik untuk diri kita, menyemangati kita untuk memperbaikinya bukan lantas menjadikan konsep diri kita jatuh, frustasi, mengutuki diri sendiri atau tidak bersyukur.

Hal ini berlaku pula di dunia bisnis, kalau ada sebuah usaha yang tidak ada kompetitornya, maka hal itu tidaklah membawa kebaikan untuk sang pengusaha, justru kebalikannya, bisa jadi, dengan kesendiriannya, jadi tidak ada hal yang memicunya untuk terus melakukan perbaikan atau inovasi. “Halah..begini saja sudah pasti laku kok, kan ngga ada lagi di tempat lain”, begitu pikirnya. Tapi lihatlah bilamana usaha banyak yang menjalankan, contoh gampangnya lihatlah jalan margonda. Dimana toko-toko sejenis berjajar banyak sekali, dari percetakan, penjualan computer dan laptop, mall, kos-kosan, dan masih banyak lagi, semakin hari semakin bagus pelayanannya, semakin bersaing harganya, kalau sudah begini customer yang enak, hehe. Atau lihatlah ketika shell masuk di Indonesia, pertamina ada saingan, muncullah jargon “pasti pas” serta ucapan terima kasih dari para petugas penjual, bahkan pernah pake nawarin buka puasa segala (meskipun tentu ada pemicu lain).

Dalam islam juga kita mengenal istilah “fastabiqul khoirot” alias berlomba-lomba dalam kebaikan. Dimana atmosfer persaingan terasa disini. Seorang muslim disuruh berlomba-lomba dengan muslim lain untuk melakukan kebaikan. Diajarkan untuk tidak puas dengan kebaikan yang sudah dilakukan, tapi harus bisa ditambah dan ditambah lagi, namanya juga perlombaan, kalau cuma sekedarnya ya tidak bakal menang.

Nah, bagaimana kita bisa tahu sudahkah kita unggul dalam kompetisi, sudahkah kita lari di barisan depan, bukan tertinggal di belakang, sudahkah toko kita laku atau malah ditinggalkan pelanggan? Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan membandingkannya dengan orang lain. Maka, jika orientasinya adalah perbaikan diri, tak perlu lagi kita kesal jika dibanding-bandingkan dengan orang lain, karena itu adalah kesempatan kita untuk menyadari bahwa kekurangan, dan sebuah awalan untuk melakukan perbaikan.

Membanding-bandingkanpun tidak terbatas dilakukan hanya dengan orang lain. Karena islam juga mengajarkan, bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Artinya, kitapun bisa membandingkan dengan diri kita sendiri, di masa yang telah lalu. Sudahkah ada peningkatan? [Jadi, kalau tadi, istilahnya di mata ajar penelitian, hasil datanya adalah kategorik tidak berpasangan (dan diuji dengan chi square), maka yang ini adalah kategorik berpasangan (dan bisa diuji dengan Mc Nemar), ehehehe *efek dari ngolah data kemaren*] Karena bisa jadi kita tertipu, sudah lebih baik dari orang sekitar kita, tapi ternyata tidak menjadi pribadi yang lebih baik, dari diri kita sendiri 1 tahun lalu. Celaka bukan?

Mari kita mulai membanding-bandingkan diri kita, dengan orang lain, juga dengan diri kita di waktu yang telah lalu..yuk ah..

“bertakwalah kepada ALLAH dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)” QS Al Hasyr(59):18

2 Muharram 1431 H
Advertisements

29 thoughts on “Bukan sekedar Membandingkan Singkong dan Keju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s